Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[MADING] HARAP: Hentikan Normalisasi, Akhiri Perundungan

[MADING] HARAP: Hentikan Normalisasi, Akhiri Perundungan
IDN Times Xplore_Cover (Rahma Wati)

Halo, teman-teman generasi muda yang kreatif!👋✨

Selamat datang di mading SARASA! Pada kesempatan kali ini, kami dari SMAN 1 MEMBALONG hadir membawa tema “HARAP: Hentikan Normalisasi, Akhiri Perundungan.”

Melalui mading ini, kami ingin mengajak teman-teman untuk lebih peduli terhadap sesama dan berhenti menganggap perundungan sebagai hal yang biasa, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Ingat, tidak semua yang mengundang tawa berarti tidak menyakiti. Sebuah candaan tetap perlu memiliki batas, karena setiap orang berhak merasa aman, dihargai, dan diterima tanpa harus menjadi bahan ejekan.

Mari bersama-sama membangun lingkungan yang penuh kepedulian, saling menghargai, dan berani berkata tidak pada perundungan.

Karena perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana: menjaga ucapan dan menghargai perasaan sesama dan setiap orang berhak merasa dihargai dan diterima.

Selamat membaca, teman-teman! Semoga mading ini bisa memberikan wawasan dan inspirasi bagi kita semua.

Tim redaksi kami terdiri dari:

  • Guru pendamping: Retno Sri Wulandari.S,Pd
  • Ketua: Anisa Aprilia
  • Anggota tim: Anggi Aulia, Aminah Afiati Fajarini, Rahma Wati, Salsabilla Rammadany, Serlina Devi parafita

Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.

  1. Esai

    IDN Xplore/SARASA_SMANSA MEMBALONG
    IDN Times Xplore_Cover Essai (Rahma Wati)

    Kami Tim SARASA dari SMA Negeri 1 Membalong, Hadir dengan semangat untuk mengajak kalian memaknai kembali kekuatan remaja,  melalui Mading kami yang berjudul "HARAP : Hentikan Normalisasi , Akhiri Perundungan", Kami ingin mengajak teman-teman semua untuk lebih sadar mengenai candaan yang menyakiti bukanlah hal yang patut dinormalisasikan, termasuk di dunia digital.Khususnya cyberbullying yang sering terjadi di kalangan remaja sekarang, komentar yang katanya hanya bercanda itu, bisa diam-diam menyakiti hati seseorang, banyak remaja yang menganggap candaan atau sering mereka sebut dengan "jokes" ini hanya semata mata sebagai candaan biasa, padahal banyak hati yang terluka akibat candaan yang mereka buat.Melalui mading ini, kami ingin meningkatkan kesadaran remaja bahwa tidak semua hal dapat dibenarkan atas nama bercanda. Kami berharap karya ini dapat mengajak pembaca memahami dampak perundungan, menghentikan kebiasaan merendahkan orang lain, serta menciptakan lingkungan pergaulan yang lebih aman, baik di dunia nyata maupun media sosial.

    Karena sekarang perkembangan teknologi juga telah mengubah cara remaja berkomunikasi dan membangun hubungan sosial. Media sosial menjadi tempat berbagi cerita, menyampaikan pendapat, mencari hiburan, dan menjalin pertemanan. Namun, di balik kemudahan tersebut, perundungan ini masih sering dianggap sebagai hal biasa. Sebagian remaja menganggap perilaku merendahkan orang lain sebagai sesuatu yang wajar, bahkan menjadikannya bahan tertawaan. Hal ini menunjukkan bahwa perundungan dapat terus berlangsung ketika lingkungan membiarkan perilaku ini terus terjadi.

    Di sinilah terjadi Normalisasi berupa bullying, Normalisasi merupakan proses ketika perilaku yang sebenarnya keliru perlahan-lahan dianggap biasa dan wajar karena sering dilakukan atau dibiarkan. Ada perbedaan antara tertawa bersama dan menertawakan orang lain, Ketika seseorang sudah menunjukkan ketidaknyamanan, tetapi ejekan tetap dilakukan, perilaku tersebut tidak dapat terus dibenarkan dengan alasan bercanda. Niat menghibur tidak akan menghapus dampak buruk dari perkataan yang menyakitkan.

    Dalam kehidupan remaja, normalisasi bullying terlihat melalui kebiasaan mengejek fisik, menghina penampilan, merendahkan kemampuan, mempermalukan seseorang, atau menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan lelucon. Ketika ejekan dilakukan berulang kali dan mendapat respons berupa tawa, orang yg melakukan perundungan ini dapat merasa tindakannya tidak bermasalah. Sebaliknya, saat yang dirundung merasa tersinggung hal ini justru sering dianggap terlalu sensitif atau sering disebut dengan kata "baperan".

    Persoalan ini semakin kompleks ketika terjadi di media sosial. Komentar menghina, penyebaran foto untuk mempermalukan seseorang, pembuatan konten ejekan, dan pesan yang merendahkan merupakan tindakan cyberbullying. Kalimat seperti “cuma bercanda”, “jangan baper”, atau “jangan lebay deh" sering digunakan untuk menghindari tanggung jawab. Ketika sebagian orang ikut berkomentar tanpa memikirkan perasaan seseorang, ejekan yang awalnya dilakukan satu orang dapat berkembang menjadi perundungan yang melibatkan banyak orang. Data menunjukkan bahwa cyberbullying masih menjadi masalah serius di Indonesia. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa perundungan di dunia maya adalah ancaman nyata. Berdasarkan catatan Kemkomdigi, 48 persen anak Indonesia pernah mengalami cyberbullying.

    Cyberbullying dapat menyebar dengan cepat dan menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Konten yang telah diunggah juga berpotensi disimpan dan disebarkan kembali, meskipun unggahan aslinya sudah dihapus. Akibatnya, Seseorang dapat merasa kehilangan ruang aman, bahkan ketika berada di rumah. Mereka akan mengalami rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, kesulitan berkonsentrasi, atau takut berinteraksi dengan orang lain. Dampak tersebut tidak selalu terlihat dari luar sehingga sering dianggap sepele.

    Normalisasi perundungan juga berkaitan dengan rendahnya empati dan tekanan lingkungan pertemanan. Sebagian remaja mengikuti perilaku teman sebaya agar diterima dalam kelompok. Ada pula yang ikut tertawa karena takut menjadi sasaran berikutnya. Sementara itu, orang yang menyaksikan perundungan terkadang memilih diam karena merasa bukan urusannya. Tanpa disadari, sikap tersebut dapat membuat pelaku merasa tindakannya mendapat dukungan. Oleh karena itu, perundungan bukan hanya persoalan si perundung dan yang dirundung, tetapi juga berkaitan dengan sikap lingkungan yang membiarkan semuanya terjadi.

    Untuk menghentikan normalisasi perundungan membutuhkan perubahan pola pikir dan tindakan. Remaja perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi bukan berarti bebas menyakiti orang lain. Sebelum menulis komentar atau menjadikan seseorang sebagai bahan lelucon, kita harus mempertimbangkan dampaknya. Kita dapat memulai perubahan dengan tidak menyebarkan konten yang mempermalukan seseorang, memberikan dukungan kepada orang yang mengalami perundungan, serta melaporkan konten yang merugikan. Jika situasi sulit ditangani sendiri, meminta bantuan guru, orang tua, atau orang dewasa tepercaya merupakan langkah yang tepat.

    Setiap jejak digital dapat meninggalkan dampak jangka panjang. Komentar yang ditulis hanya dalam beberapa detik mungkin diingat selama bertahun-tahun orang yang menerimanya. Oleh Karena itu, kita perlu membiasakan diri berpikir sebelum mengetik dan bertanggung jawab atas tindakan di dunia maya. Peran keluarga dan sekolah juga penting dalam menciptakan lingkungan aman bagi siswa untuk bercerita dan meminta pertolongan. Teman sebaya dapat membantu dengan menolak ikut mengejek, menghibur orang yang diejek, serta mengingatkan orang yang melakukan perundungan dengan cara yang aman.

    Selain itu, Perubahan membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kemauan memperbaiki diri. Popularitas, penampilan fisik, dan jumlah tanda suka bukanlah ukuran nilai seseorang. Setiap individu memiliki kelebihan, kekurangan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Perbedaan seharusnya dihargai, bukan dijadikan alasan untuk menghina atau mengucilkan orang lain.

    Pada akhirnya, perundungan tidak seharusnya dianggap sebagai bagian biasa dari pergaulan remaja. Kata “jokes” bukan pembenaran untuk terus menyakiti orang lain, dan media sosial bukan ruang tanpa tanggung jawab. Melalui mading ini, Tim SARASA mengajak remaja untuk bijak berkomunikasi, berani menolak penghinaan, dan membangun kebiasaan saling menghargai.

    Ingatlah, tidak semua hal yang membuat orang lain tertawa adalah sesuatu yang baik. Terkadang, tawa sekelompok orang menyimpan kesedihan seseorang yang tidak berani bersuara. Jangan menunggu sampai seseorang kehilangan keberanian untuk bercerita sebelum menyadari bahwa perundungan merupakan masalah serius. Mulailah dari diri sendiri karena perubahan besar dapat berawal dari satu keputusan sederhana.

  2. Ruang Kreasi 1 - Puisi

    IDN Times Xplore/SARASA_SMANSA MEMBALONG
    IDN Times Xplore_Puisi (Anisa Aprilia)
  3. Ruang Kreasi 2 - Cerpen

    IDN Times Xplore/SARASA_SMANSA MEMBALONG
    IDN Times Xplore_Cerpen (Aminah Afiati Fajarini)
  4. Ruang Kreasi 3 - Resensi Film

    IDN Times Xplore/SARASA_SMANSA MEMBALONG
    IDN Times Xplore_Resensi Film (Aminah Afiati Fajarini)
  5. Rubik Diskusi 1

    IDN Times Xplore/SARASA_SMANSA MEMBALONG
    IDN Times Xplore_Infografik Biofarma (Anisa Aprilia)
  6. Rubik Diskusi 2

    IDN Times Xplore/SARASA_SMANSA MEMBALONG
    IDN Times Xplore_Poster Bukit Asam (Anisa Aprilia, Rahma wati)

    Melalui karya mading HARAP: Hentikan Normalisasi, Akhiri Perundungan, kami berharap dapat mengajak setiap pembaca terutama para remaja , untuk lebih sadar bahwa perundungan bukanlah hal yang pantas dianggap biasa, apalagi dibenarkan atas nama bercanda. Baik secara langsung maupun melalui dunia digital, setiap kata dan tindakan memiliki dampak bagi orang lain.

    Mari berhenti menormalisasi perundungan, mulai menghargai perasaan sesama, dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, serta bebas dari perundungan. Karena bercanda seharusnya menghibur, bukan menyakiti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More