Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Memahami Compassion Fatigue saat Relawan Lelah Secara Emosi
ilustrasi volunteer (pexels.com/rdne)
  • Compassion fatigue adalah kelelahan emosional akibat paparan berulang pada penderitaan dan trauma orang lain tanpa waktu pemulihan yang cukup, bukan sekadar capek fisik setelah relawan.
  • Tandanya meliputi mati rasa atau mudah kesal terhadap penerima bantuan, serta masalah mereka terbawa ke kehidupan pribadi hingga memicu cemas, sulit tidur, dan sulit berkonsentrasi.
  • Relawan perlu mengenali batas kapasitas: mengambil jeda, mengurangi intensitas tugas, membagi tanggung jawab, dan mencari dukungan sesama relawan tanpa menganggapnya sebagai menyerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi relawan sering dianggap aktivitas penuh dedikasi. Kamu bisa membantu orang lain dengan turun langsung ke lapangan, mendengarkan cerita mereka, dan memberikan tenaga ketika terjadi bencana dan krisis. Ada kepuasan tersendiri melihat bantuan yang kamu berikan benar-benar berguna.

Namun, di balik kegiatan yang bermakna itu, ada kelelahan emosional yang sering terjadi. Ketika terlalu sering berhadapan dengan penderitaan orang lain, kamu bisa ikut merasa lelah, sedih, frustrasi, bahkan kehilangan energi untuk peduli. Kondisi ini dikenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan karena empati. Kondisi ini bisa terjadi karena kamu terlalu lama memberikan perhatian emosional tanpa ada waktu untuk memulihkan diri.

1. Compassion fatigue bukan sekadar capek setelah jadi relawan

ilustrasi seseorang alami kelelahan (unsplash.com/all_who_wander)

Rasa lelah setelah melakukan kegiatan sukarela sebenarnya wajar. Setelah seharian mengangkat bantuan, mengajar anak-anak, mendampingi korban bencana, atau bekerja di lapangan, tubuh tentu membutuhkan istirahat. Namun, compassion fatigue lebih dari sekadar kelelahan fisik.

Kondisi ini merupakan kelelahan emosional yang muncul karena terus terpapar penderitaan, trauma, atau masalah orang lain. Kamu merasa sedih setelah mendengar cerita seseorang, terus memikirkan kondisi orang yang kamu bantu, atau merasa emosimu ikut terkuras tiap kali kembali ke lokasi kegiatan. Makin sering pengalaman seperti ini terjadi tanpa jeda pemulihan yang cukup, beban emosional dapat menumpuk.

2. Kamu mulai merasa mati rasa terhadap cerita orang lain

ilustrasi mendengarkan (pexels.com/shvets-production)

Salah satu tanda compassion fatigue yang cukup membingungkan adalah ketika kamu mulai merasa tak bereaksi seperti biasanya. Dulu, mendengar cerita korban atau orang yang sedang kesulitan mungkin membuatmu sedih dan ingin segera membantu. Namun, setelah terlalu lama terpapar situasi yang sama, kamu mulai merasa datar. Cerita yang seharusnya membuatmu tergerak justru terdengar biasa.

Kamu mungkin berpikir, "Kok sekarang aku sudah tidak merasa apa-apa?". Mati rasa secara emosional bisa menjadi salah satu cara tubuh dan pikiran merespons tekanan yang terlalu lama. Selain kehilangan empati, kamu mungkin mulai mudah kesal terhadap orang yang dibantu. Hal-hal kecil yang sebelumnya bisa kamu maklumi tiba-tiba terasa sangat mengganggu.

3. Masalah orang lain terbawa sampai ke kehidupan pribadi

ilustrasi sukarelawan (unsplash.com/Joel Muniz)

Pekerjaan relawan tidak selalu selesai ketika kamu meninggalkan lokasi kegiatan. Kadang, cerita yang kamu dengar ikut terbawa sampai rumah. Misalnya, setelah mendampingi korban bencana, kamu terus teringat dengan kondisi mereka sebelum tidur. Setelah mendengar cerita seseorang yang mengalami kehilangan, kamu menjadi lebih sering memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada dirimu.

Paparan berulang ini dapat membuat pikiran terus berada dalam mode waspada. Akibatnya, kamu mungkin mengalami kesulitan tidur, mudah cemas, sulit berkonsentrasi, atau merasa tidak benar-benar bisa "mematikan" pikiran setelah kegiatan selesai. Bukan berarti tiap relawan pasti mengalami ini. Namun, merasa sedih atau kepikiran setelah menghadapi situasi berat adalah respons yang manusiawi.

4. Terlalu merasa bertanggung jawab atas semua orang

ilustrasi volunteer (pexels.com/Julia M Cameron)

Relawan biasanya datang dengan keinginan untuk membantu. Namun, itu semua bisa berubah menjadi beban ketika kamu mulai merasa harus menyelesaikan semua masalah yang ada. Kamu akan merasa bersalah ketika tidak bisa datang ke kegiatan. Kamu merasa harus selalu tersedia ketika ada yang membutuhkan.

Bahkan, saat tubuh sudah lelah, kamu tetap memaksakan diri karena berpikir masih banyak orang yang membutuhkan bantuan. Padahal, tak ada satu orang pun yang mampu menyelesaikan semua persoalan sendirian. Memahami batas kemampuan bukan berarti berhenti peduli. Kamu tetap bisa membantu tanpa harus mengambil tanggung jawab atas semua hal yang terjadi di sekitar.

5. Istirahat dan dukungan bukan tanda kamu menyerah

ilustrasi relawan (pexels.com/rdne)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam kegiatan sukarela adalah menganggap istirahat sebagai bentuk kemalasan. Padahal, relawan juga membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Kalau mulai merasa lelah secara emosional, kamu bisa mengambil jeda dari kegiatan yang terlalu intens.

Tidak harus langsung berhenti menjadi relawan. Kamu bisa mengurangi frekuensi kegiatan, mengambil tugas yang tak terlalu berat atau membagi tanggung jawab dengan anggota tim. Penting juga untuk memiliki ruang untuk bercerita. Berbicara dengan sesama relawan yang memahami situasi dapat membuat pengalaman terasa lebih ringan.

Compassion fatigue mengingatkan kita bahwa menjadi orang yang peduli juga membutuhkan batas. Relawan hadir untuk membantu orang lain, tapi mereka tetap manusia yang memiliki kapasitas emosional terbatas. Membantu orang lain seharusnya tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article