Kalau kamu pernah jalan-jalan ke lapak barang branded bekas atau reject, baik offline maupun online, mungkin akan terkejut. Ternyata peminatnya banyak. Mereka tampak antusias membelinya dan memberikan ulasan positif sebagai tanda kepuasan berbelanja.
Padahal, barang bekas atau reject tentu kondisinya agak berbeda dengan barang baru. Produk yang belum pernah dipakai orang dan lolos quality control terlihat sangat sempurna. Sementara itu, produk bekas dan reject sekalipun mereknya terkenal, mungkin buatmu tampak kurang menarik.
Kenapa sebagian masyarakat tetap memilih barang branded second atau reject? Jika mereka tidak bisa membeli versi terbarunya, mereka cukup puas dengan versi bekas atau reject. Ternyata rasa gengsi dan FOMO bukan satu-satunya alasan.
