5 Alasan Orang Menarik Diri dari Pergaulan saat Bokek

- Khawatir diajak nongkrong atau main berbiaya
- Nongkrong gratis pun obrolannya bisa seputar materi yang bikin enek
- Merasa kebanting dalam penampilan
Buat orang dewasa, bokek bukan situasi yang menyenangkan. Dalam kondisi kantong kempis, berbagai kebutuhan tetap berjalan. Pikiran pasti menjadi kusut tidak keruan. Pun persoalan dompet kering tak hanya melanda orang dewasa tanpa pekerjaan.
Mereka yang punya gaji rutin juga bisa sewaktu-waktu kehabisan uang sebelum tanggal gajian bulan berikutnya. Krisis kepercayaan diri pun terjadi. Baik uang fisik dalam dompet maupun saldo rekening serta dompet digital sama-sama gak bisa diandalkan.
Hidup menjadi terasa seribu kali lebih berbahaya. Tidak ada rasa aman dan menarik diri dari pergaulan saat bokek kerap menjadi pilihan sadarnya. Lantas, kenapa orang yang lagi gak ada duit sangat membatasi pergaulan?
1. Khawatir diajak nongkrong atau main berbiaya

Penyebab pertama ialah mencemaskan kebocoran anggaran ketika dia diajak main atau nongkrong. Memang tidak semua main dan nongkrong butuh duit. Jika ia dan teman-temannya cuma berjalan-jalan lalu duduk di tempat-tempat publik tentu gratis.
Namun, sering kali main dan nongkrong tetap butuh biaya. Seperti buat beli minuman dan makanan. Masa berjam-jam mereka hanya akan mengobrol sampai kerongkongan kering dan perut berbunyi tanda minta diisi?
Belum lagi kalau jelas ajakan main serta nongkrongnya di kafe yang cukup menguras isi dompet. Orang yang sedang mengalami krisis finansial memilih cepat-cepat mundur. Gak mungkin dia ikut nongkrong dan main tanpa memesan apa pun. Padahal, duitnya gak cukup buat beli salah satu menu termurah di situ. Atau, uangnya cukup tetapi ada kebutuhan yang dikorbankan.
2. Nongkrong gratis pun obrolannya bisa seputar materi yang bikin enek

Nongkrong berbiaya tentu memberatkan orang yang sedang tak punya uang. Namun, ajakan nongkrong gratis pun belum tentu akan diterimanya. Misal, sekadar nongkrong di pinggir lapangan dan menyaksikan pertandingan sepakbola di kampung.
Logikanya, seseorang tak perlu mencemaskan pengeluaran. Banyak orang juga cuma duduk-duduk sembari menonton atau mengobrol. Akan tetapi, sumber kekhawatirannya lebih ke topik percakapan di antara kalian nanti.
Gak ada jaminan obrolan tidak akan berkembang ke arah keuangan. Apalagi di waktu yang sudah-sudah sering begitu. Sementara dirinya sedang berusaha menghindari pembicaraan seputar hal tersebut. Lebih baik ia gak gabung dulu sampai duitnya banyak lagi biar enak ngobrolnya.
3. Merasa kebanting dalam penampilan

Boro-boro orang yang bokek memikirkan penampilan. Bahkan bila tadinya dia selalu necis, kondisi keuangan yang terus menipis bakal membuatnya bukan lagi prioritas. Dia akan berusaha menghemat pengeluaran sebanyak mungkin dari anggaran yang biasanya dipakai buat menunjang penampilan.
Mulai dari belanja baju baru, ke salon atau barbershop, juga beli aneka parfum dan produk perawatan kulit. Pokoknya, masih bisa mandi pakai sabun dan sampo saja sudah cukup. Kalau pengeluaran untuk penampilan tidak direm dengan ketat, bisa-bisa malah dia gak makan.
Sementara itu, situasi kumpul-kumpul secara tidak langsung menuntut orang berpenampilan pantas bahkan menarik. Tambah baik kondisi finansial seseorang biasanya penampilannya juga tambah mengesankan. Dia akan merasa malu bila terlihat paling beda di antara teman-temannya.
4. Pikiran penuh dengan kerja, kerja, kerja

Sebenarnya cara kerja pikirannya sudah tepat. Masuk akal kalau orang yang lagi bokek memfokuskan diri buat bekerja. Dengan ia lebih giat bekerja tentu bakal memperoleh pendapatan. Bahkan ada penghasilan ekstra.
Itu sangat membantunya kembali menstabilkan kondisi finansial. Bekerja menghasilkan uang, sementara bersosialisasi sering kali mengeluarkan duit. Tentu tidak semua orang yang bilang masih mau bekerja atau lagi sibuk berarti tak punya uang.
Seorang yang workahalic barangkali bakal sering sekali berkata ingin bekerja saja dan gak bisa diajak main. Namun, orang yang biasanya paling semangat bersantai lalu mendadak gila kerja boleh jadi kantongnya sedang tipis. Lebih baik kamu jangan memaksanya melakukan hal-hal lain karena setiap pengalihan fokus dapat membuatnya uring-uringan.
5. Takut isi kantongnya ketahuan orang

Sebenarnya soal tanda-tanda seseorang gak punya duit juga sudah bisa tampak dari penarikan dirinya. Itu seperti ungkapan atas rasa percaya dirinya yang sedang rendah. Akan tetapi, nekat ikut kumpul-kumpul dirasa lebih rentan membongkar kemampuan finansialnya yang melemah.
Contoh, kalian sudah sering nongkrong di suatu kafe. Kamu bahkan hafal menu-menu kesukaannya yang harganya lumayan. Mulai dari minuman, makanan berat, hingga camilan. Bila suatu hari dia tetap ikut nongkrong, tetapi pesanannya beda sekali dari biasanya pasti membuatmu bertanya-tanya. Biasanya kopi lebih dari 50 ribu pun gak masalah. Sekarang ia memesan air mineral. Makanan ringan dilewatkan. Makanan berat juga dipilih yang paling ramah kantong. Sulit buatnya berpura-pura kaya dengan memesan menu seperti biasa. Daripada dia gak bisa bayar, kan?
Ketika seseorang telah dewasa, terlalu naif jika bilang uang gak penting. Duit berharga sekali tidak hanya untuk mencukupi berbagai kebutuhan, namun juga mendongkrak kepercayaan diri serta martabatnya. Oleh sebab itu, jangan kaget jika ada seseorang di sekitarmu yang mendadak menarik diri dari pergaulan saat bokek. Pahami dan hormati keputusannya, ya.

















