7 Tanda Terlalu Mengontrol Pasangan, Semua Uangnya di Kamu?

- Ia harus memberitahumu setiap rencana kecilnya, bahkan belanja sehari-hari
- 100% penghasilannya dipegang olehmu tanpa inisiatif darinya
- Kamu menentukan siapa yang boleh berteman dengannya, bahkan membatasi interaksi dengan keluarganya
Ada dua hal yang bertolak belakang, tetapi sama-sama dapat menghancurkan hubungan. Itu adalah pengabaian vs kontrol berlebih. Kalau kamu mengabaikan pasanganmu, meski sikapmu santai dan tidak dingin tetap saja rasanya menyakitkan buat pasangan.
Seperti dirimu selalu mengatakan terserah dia saja setiap kali ia meminta pendapatmu sebelum melakukan sesuatu. Kamu barangkali berpikir dia sudah besar buat mengambil keputusan sendiri. Juga tidak ada pilihan yang buruk.
Namun, buatnya sikapmu yang konsisten begitu menunjukkan ketidakpedulian. Akan tetapi, kontrol berlebihan juga bikin pasangan tidak bahagia. Dia akan merasa sangat terkekang dalam hubungannya denganmu. Sebagai pelaku pengekangan pasti kamu tidak menyadarinya. Tujuh tanda berikut akan menunjukkan kamu terlalu mengontrol pasangan, baik suami atau istri.
1. Ia hendak melakukan hal sekecil apa pun harus bilang dulu sama kamu

Kelihatannya wajar karena kalian sepasang suami istri. Masa dirimu gak boleh tahu apa yang akan dilakukan pasangan? Tentu secara garis besar memang kamu perlu mengetahuinya.
Namun, tak usah sampai ke hal-hal terkecil. Misalnya, kamu lagi di kantor. Istri mau belanja sehari-hari pun mesti mengabarimu dulu. Padahal, itu telah dilakukannya bertahun-tahun.
Nanti masih ada kebutuhan yang lupa belum terbeli dan dia akan ke warung tetangga juga kudu laporan lagi. Bayangkan ribetnya menjadi pasanganmu. Juga perasaannya yang seakan-akan tidak dipercayai olehmu.
2. 100 persen penghasilanmya dipegang olehmu dan bukan atas inisiatifnya

Dia yang bekerja, tapi semua uangnya di kamu. Malah dirimu yang kasih jatah uang saku buatnya. Itu pun sangat sedikit. Bila pasangan ada keperluan ekstra, dia harus meminta tambahan uang darimu. Sering kali sampai memohon.
Kalau keputusan uangnya dipegang olehmu datang darinya tentu tak masalah. Barangkali pasanganmu sadar dia payah soal mengatur keuangan dan kamu lebih jago. Akan tetapi, bila dirimu yang mendesaknya untuk menyerahkan seluruh pendapatan artinya sikapmu tidak ubahnya penjajah yang merampas kekayaan orang lain.
3. Setiap hari mengecek gawainya dan mengontrol unggahannya di medsos

Ini sudah menjadi kegiatan wajibmu setiap hari. Biasanya pemeriksaan gawai langsung dimulai begitu pasangan tiba di rumah selepas bekerja dan pagi sebelum ia berangkat. Setiap chat di aplikasi dibaca.
Dirimu bahkan masuk ke akun surelnya kalau-kalau ada surat pribadi berkedok pekerjaan. Tak sampai di situ, pasangan sejak menikah denganmu tidak memiliki kebebasan bikin unggahan sendiri di akun media sosialnya. Semua postingan harus atas sepengetahuan dan izinmu.
Bila pasangan ketahuan mengunggah hal lain, dirimu memintanya buat cepat-cepat menghapusnya. Sebaliknya, kamu pun kerap memaksa pasangan posting foto atau video yang sama dengan unggahanmu. Alasanmu biar kalian sebagai pasutri terlihat kompak.
4. Kamu juga penentu siapa saja yang boleh berteman dengannya

Tak heran sejak kalian menikah, teman pasanganmu berkurang drastis. Bukan karena dia pindah kerja atau masing-masing sedang terlalu sibuk. Namun, kamu melakukan seleksi ketat atas kawan-kawannya.
Ada berbagai kriteria yang dipakai olehmu buat menentukan pantas atau tidaknya seseorang berteman dengan pasangan. Sikapmu seakan-akan lebih mengenal mereka. Padahal, pasangan yang sudah berteman lama dengan mereka.
Dirimu tidak peduli meski kata pasangan, seseorang sama sekali gak jahat atau berpengaruh buruk padanya. Penilaianmu sangat subjektif. Pokoknya jika kamu sudah gak suka dengan salah temannya, pasangan mesti menurut untuk menjauhinya.
5. Dirimu bahkan membatasi interaksi pasangan dengan keluarganya

Kalian sama-sama memiliki keluarga. Anehnya, kamu merasa berhak bebas berinteraksi dengan keluargamu kapan pun. Dirimu dapat menginap di rumah orangtua atau saudara-saudaramu di akhir pekan. Juga kamu menelepon mereka hampir setiap hari.
Sikapmu ke pasangan beda sekali. Dirimu membatasi interaksinya dengan keluarga besar. Seperti pasangan gak boleh mengunjungi orangtuanya kecuali situasi sangat mendesak. Suami atau istri juga dilarang sesekali membantu kakak atau adik kandungnya. Apa pun alasanmu di balik setiap larangan itu, perilakumu sudah toksik.
6. Kamu selalu jadi jubirnya tanpa diminta

Kalian bisa saja pergi ke mana-mana bersama. Namun, perhatikan reaksimu setiap kali ada orang yang berusaha berbicara dengan pasanganmu. Apa pun pertanyaan seseorang, kamu yang menjawabnya.
Pasangan berkali-kali sudah membuka mulut dan nyaris bicara, tapi terhenti olehmu. Lawan bicara sampai bingung. Tadinya dia telah mengarahkan tatapan ke pasangamu serta menunggu jawabannya.
Namun, selalu tahu-tahu dirimu bersuara dan memaksanya beralih padamu. Bahkan meski pertanyaannya seputar pekerjaan pasangan. Kamu tampak tidak menginginkan pasangan kasih jawaban yang berbeda dari kemauanmu.
7. Setiap protes dan perlawanan pasangan bikin kamu marah

Ini menjadi puncak dari rasa lelah psikis yang dialami pasangan atas dominasimu dalam hubungan. Ia berusaha melawan sikapmu yang terlalu mengendalikannya. Seolah-olah dia anak kecil yang harus diawasi serta diarahkan orangtua 24 jam penuh.
Akan tetapi, bukannya kamu mau berintrospeksi dan berubah malah marah-marah. Seharusnya dia yang paling berhak jengkel karena kebebasannya sebagai individu telah dirampas olehmu. Namun, kemarahanmu lebih besar dan untuk kesekian kalinya pasangan harus mengalah demi meredam situasi panas.
Jangan menikahi siapa pun hanya untuk menancapkan kuasamu atas dirinya. Pernikahan yang baik semestinya tidak membuat pria atau perempuan tersandera oleh pasangannya. Jangan terlalu mengontrol pasangan dan bina hubungan yang lebih sehat dengan tetap saling memberikan kebebasan yang bertanggung jawab serta tahu batas.

















