Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Perpisahan Selalu Terasa Menyedihkan? Ini Penjelasan Ahli!
ilustrasi perpisahan sekolah (pexels.com/Thư Tiêu)
  • Kebiasaan dan kultur membentuk persepsi bahwa awal membawa harapan, sedangkan akhir sering dianggap buruk.
  • Kata “akhir” dapat memunculkan bayangan penderitaan, rasa sakit, duka, dan emosi negatif.
  • Theresa Busardo mengajak individu mempertanyakan pola emosi, menerima, dan melepaskan perpisahan dengan lebih sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah akhir selalu terasa lebih buruk daripada awal?
Vote Now

Orang-orang sering merasa sedih saat berpisah karena mereka menganggap akhir itu buruk. Jeanine Connor bilang awal biasanya terasa penuh harapan. Saat harus melepas orang yang disayangi, hati bisa terasa berat. Theresa Busardo mengajak kita melihat perasaan itu dan belajar menerima serta melepaskannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah akhir selalu terasa lebih buruk daripada awal?
Vote Now

Penjelasan tentang kebiasaan, kultur, dan imajinasi memberi ruang untuk melihat perpisahan dengan lebih jernih. Dengan mempertanyakan apakah kesedihan berasal dari peristiwa atau pola emosi berulang, individu dapat memahami perasaannya. Theresa Busardo menekankan penerimaan dan pelepasan sebagai cara mengurangi beban emosional serta membangun harapan dan kebebasan baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah akhir selalu terasa lebih buruk daripada awal?
Vote Now

Kita terbiasa berpikir bahwa perpisahan itu buruk sementara mengawali sesuatu itu baik. Misalnya berpisah dengan teman, kerap kali diasumsikan sebagai sesuatu yang menyedihkan dan di luar kendali. Sementara sebuah awal, seperti halnya tahun baru dianggap sebagai sesuatu yang membawa optimisme.

Perasaan semacam ini ternyata memiliki penjelasan psikologis yang dapat membuat kita memahami apa yang terjadi saat menghadapi kondisi itu. Mengapa kita lebih menyukai awal yang baru sementara bersusah payah untuk menghindari sebuah akhir?

1. Kita biasa merasa sedih dengan sebuah akhir dan senang dengan awal

Ilustrasi perpisahan anak SMA mirip upacara wisuda anak kuliah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dilansir Psychology Today, kebiasaan dan kultur manusia secara umum memang membentuk persepsi bahwa awal adalah sesuatu yang baik sementara akhir adalah sesuatu yang buruk. Jeanine Connor sebagai seorang Psikoterapis, memberi contoh, kelahiran selalu membuat orang-orang berbahagia, sebagai tanda awal kehidupan. Sementara saat orang resign, yang menandakan akhir dari suatu perjalanan karier, dianggap sebagai salam perpisahan yang menyedihkan.

Berkaitan dengan hal itu, Jeanine menjelaskan dari sisi psikologis mengapa perspektif ini dapat populer. Menurutnya, awal dianggap sebagai waktu yang penuh harapan sehingga ada banyak kekuatan optimis. Sementara akhir selalu dianggap sebagai waktu di mana semuanya selesai, sehingga diasumsikan dengan perasaan pesimis dan paranoid.

2. Imajinasi memengaruhi cara manusia memandang awal dan akhir

ilustrasi perpisahan dalam hubungan cinta (freepik.com/freepik)

IImajinasi seseorang turut berkontribusi dalam membentuk penilaian terhadap sesuatu yang dianggap sebagai awal maupun akhir. Dilansir Psychology Today, ketika mendengar kata "akhir", manusia secara otomatis cenderung membayangkan penderitaan, rasa sakit, duka, dan berbagai hal negatif lainnya. Hal ini berbeda dengan "awal" yang umumnya dipersepsikan sebagai sesuatu yang penuh optimisme dan harapan.

Selain itu, perpisahan juga kerap diasumsikan sebagai sesuatu yang menyedihkan. Banyak orang merasa "dipisahkan" atau terpaksa melepas kepergian seseorang yang disayangi dalam proses tersebut. Menurut Jeanine, hal ini dapat memunculkan kesedihan karena manusia cenderung mempertahankan sesuatu yang telah dimiliki.

Namun ketika harus berpisah, individu akan berusaha mengelola emosinya dengan "membuang" perasaan tersebut, seolah-olah memasukkannya ke dalam sebuah kotak berisi emosi negatif yang diberi nama "akhir" dan kemudian menandainya sebagai sesuatu yang buruk. Kebiasaan inilah yang membuat manusia cenderung memberi label akhir sebagai sesuatu yang buruk.

3. Rahasia menghadapi perpisahan dengan baik

ilustrasi perpisahan karyawan yang kena layoff di kantor (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Memahami penjelasan di atas dapat membantu kita melihat kondisi yang sedang dihadapi dengan lebih jernih. Meski mengucapkan perpisahan tidak selalu mudah karena secara alami otak kita dapat mengaitkannya dengan pikiran dan pengalaman negatif, Terapis Theresa Busardo dalam Verywell Mind mengungkapkan pentingnya belajar melepaskan penderitaan emosional dan menjalani kehidupan dengan lebih mindful, alih-alih melakukan sesuatu secara otomatis karena kebiasaan.

Theresa mengajak individu untuk lebih bijak dalam menyikapi sebuah akhir atau perpisahan dengan bertanya pada diri sendiri, apakah peristiwa tersebut benar-benar mendatangkan kesedihan atau hanyalah pola emosi yang terus berulang. Persepsi tersebut pun dapat diubah dengan tidak menekan emosi, melainkan belajar menerima dan melepaskan segala sesuatu dengan cara yang lebih sehat.

"Apa yang kita dapatkan dari melepaskan adalah bahwa hal itu melepaskan beban dari kita dan membantu membangun rasa harapan dan kebebasan baru dalam hidup kita," ujarnya.

Bagikan pandanganmu tentang awal dan akhir

Apakah akhir selalu terasa lebih buruk daripada awal?

See More
Ya, akhir lebih menyedihkan
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Tidak, tergantung cara memandangnya

Curated For You

Editorial Team

Related Article