ilustrasi perpisahan dalam hubungan cinta (freepik.com/freepik)
IImajinasi seseorang turut berkontribusi dalam membentuk penilaian terhadap sesuatu yang dianggap sebagai awal maupun akhir. Dilansir Psychology Today, ketika mendengar kata "akhir", manusia secara otomatis cenderung membayangkan penderitaan, rasa sakit, duka, dan berbagai hal negatif lainnya. Hal ini berbeda dengan "awal" yang umumnya dipersepsikan sebagai sesuatu yang penuh optimisme dan harapan.
Selain itu, perpisahan juga kerap diasumsikan sebagai sesuatu yang menyedihkan. Banyak orang merasa "dipisahkan" atau terpaksa melepas kepergian seseorang yang disayangi dalam proses tersebut. Menurut Jeanine, hal ini dapat memunculkan kesedihan karena manusia cenderung mempertahankan sesuatu yang telah dimiliki.
Namun ketika harus berpisah, individu akan berusaha mengelola emosinya dengan "membuang" perasaan tersebut, seolah-olah memasukkannya ke dalam sebuah kotak berisi emosi negatif yang diberi nama "akhir" dan kemudian menandainya sebagai sesuatu yang buruk. Kebiasaan inilah yang membuat manusia cenderung memberi label akhir sebagai sesuatu yang buruk.