"Yang paling sering menimbulkan masalah adalah penggunaan kata-kata yang ekstrem," ujar Jefferson Fisher.
8 Tanda Kamu Sebenarnya Sumber Masalah saat Bertengkar, Coba Introspeksi!

Kita sering menyalahkan orang lain saat bertengkar tanpa menyadari bahwa perilaku sendiri mungkin ikut memperburuk konflik. Padahal, mengenali kebiasaan yang kurang sehat saat berdebat bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki komunikasi dan menjaga hubungan.
Menurut Jefferson Fisher, pengacara sekaligus penulis buku The Next Conversation: Argue Less, Talk More, dikutip dari TIME, setiap orang bisa menjadi sosok yang sulit dihadapi dalam percakapan. Tantangannya adalah menyadari perilaku tersebut ketika sedang terjadi, bukan hanya setelah pertengkaran berakhir. Berikut beberapa tanda yang bisa kamu jadikan bahan introspeksi.
1. Kamu sering menggunakan kata "selalu" dan "gak pernah"

ilustrasi pasangan yang bertengkar (pexels.com/alex-green) Ketika emosi memuncak, kita terkadang menggunakan kata-kata mutlak yang membuat lawan bicara merasa terus disalahkan. Kebiasaan ini dapat mengalihkan pembicaraan dari masalah utama menjadi perdebatan tentang kebenaran tuduhan tersebut. Akibatnya, kedua pihak lebih sibuk membela diri daripada mencari solusi.
Fisher menilai penggunaan kata-kata ekstrem dapat memperkeruh percakapan karena memunculkan persoalan baru. Daripada menggeneralisasi perilaku seseorang, lebih baik fokus pada kejadian spesifik yang membuatmu kecewa. Dengan begitu, pembicaraan bisa tetap terarah pada penyelesaian masalah.
2. Kamu menyerang kepribadian, bukan perilakunya

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/alexgreen) Menyerang karakter seseorang saat bertengkar dapat membuatnya merasa direndahkan dan kehilangan keinginan untuk memahami keluhanmu. Sikap ini juga membuat pembicaraan bergeser dari tindakan yang bermasalah menjadi penilaian terhadap kepribadian. Akibatnya, konflik semakin sulit diselesaikan karena kedua pihak merasa perlu mempertahankan diri.
Atalie Abramovici, terapis pasangan, dikutip dari TIME, menyarankan agar kita berfokus pada perilaku tertentu dan dampaknya terhadap perasaan. Menyampaikan kekecewaan secara jelas tanpa melabeli karakter orang lain dapat membantu mengurangi sikap defensif. Dengan demikian, kedua pihak memiliki kesempatan untuk memahami persoalan tanpa saling menyerang.
3. Kamu selalu menghitung siapa yang paling banyak berkorban

ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/rdne) Kebiasaan menghitung pengorbanan dalam hubungan dapat membuat interaksi terasa seperti transaksi yang harus selalu seimbang. Kamu mungkin lebih sibuk membuktikan kontribusi sendiri daripada memahami kebutuhan yang belum terpenuhi. Padahal, tujuan menyelesaikan konflik adalah menemukan kesepakatan, bukan menentukan siapa yang paling berjasa.
Menurut Abramovici, kebiasaan menghitung kesalahan atau pengorbanan dapat muncul ketika seseorang merasa kurang dihargai. Perasaan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka agar tidak terus berkembang menjadi kekecewaan. Dengan memahami kebutuhan masing-masing, kedua pihak bisa mencari solusi yang lebih adil.
4. Orang lain berhati-hati saat berbicara denganmu

ilustrasi pasangan sedang marah (pexels.com/veraarsic) Jika orang lain mulai menghindari topik tertentu atau terlihat sangat berhati-hati saat berbicara denganmu, ada baiknya kamu mengevaluasi cara berkomunikasi. Perilaku tersebut bisa muncul karena mereka khawatir perkataannya disalahartikan atau memicu reaksi emosional. Akibatnya, hubungan menjadi kurang terbuka dan persoalan penting berisiko tidak pernah dibicarakan.
Fisher menjelaskan bahwa orang dapat merasa perlu menjaga perkataan ketika takut memicu kemarahan atau kesalahpahaman. Jika kamu melihat perubahan sikap seperti ini, cobalah meminta masukan dari orang terdekat yang kamu percaya. Mendengarkan pendapat mereka bisa membantumu mengenali kebiasaan yang selama ini tidak disadari.
5. Konflik terus berulang dalam berbagai hubungan

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach) Perselisihan merupakan bagian wajar dari hubungan sosial, tetapi konflik yang terus berulang patut menjadi bahan evaluasi. Jika masalah serupa muncul dalam berbagai hubungan, mungkin ada pola perilaku yang ikut memicunya. Karena itu, penting untuk tidak selalu berfokus pada kesalahan orang lain.
Fisher mengingatkan bahwa seseorang terkadang menjadi faktor yang sama dalam berbagai konflik tanpa menyadarinya. Pola tersebut perlu dikenali agar tidak terus merusak hubungan dengan orang-orang di sekitar. Introspeksi bukan berarti menyalahkan diri sendiri atas semua masalah, melainkan memahami bagian yang bisa diperbaiki.
6. Kamu menerapkan standar berbeda untuk diri sendiri dan orang lain

ilustrasi pasangan yang sedang mengadu berargumen (pexels.com/keira-burton) Standar ganda terjadi ketika kita mudah memaklumi kesalahan sendiri, tetapi cepat menghakimi kesalahan serupa pada orang lain. Kebiasaan ini dapat menimbulkan ketidakadilan dalam hubungan dan membuat orang lain merasa tidak dihargai. Jika dibiarkan, perbedaan standar tersebut bisa menjadi sumber pertengkaran berulang.
Fisher menekankan pentingnya menyadari kecenderungan membenarkan perilaku sendiri sambil mengkritik orang lain. Cobalah menilai tindakan berdasarkan standar yang sama, terlepas dari siapa yang melakukannya. Sikap ini membantumu lebih objektif ketika menghadapi perbedaan pendapat.
7. Kemarahanmu bertahan lebih lama daripada kejernihan pikiranmu

ilustrasi pasangan sedang berdebat (pexels.com/yankrukov) Kemarahan yang terus bertahan setelah pertengkaran dapat membuat kita sulit melihat masalah secara menyeluruh. Ketika emosi menguasai pikiran, kita cenderung berfokus pada kesalahan pihak lain dan mengabaikan sudut pandang berbeda. Kondisi ini berisiko memperpanjang konflik yang sebenarnya bisa diselesaikan.
Fisher menilai kemampuan melihat persoalan dari dua sudut pandang sebagai bagian penting dalam menghadapi konflik. Karena itu, berikan dirimu waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan percakapan. Setelah pikiran lebih jernih, kamu bisa mengevaluasi masalah dan memahami kontribusi masing-masing pihak.
"Jika kemarahanmu bertahan lebih lama daripada kejernihan pikiranmu, itu pertanda," ujar Jefferson Fisher.
8. Kamu selalu defensif saat menerima kritik

ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan profesional (pexels.com/shvetsproduction) Sikap defensif membuat kita cenderung membela diri sebelum benar-benar memahami maksud kritik yang disampaikan. Kebiasaan ini dapat mengubah percakapan menjadi ajang saling menyalahkan dan menghambat penyelesaian masalah. Akibatnya, masukan yang sebenarnya bermanfaat justru sulit diterima.
Harriet Lerner, psikolog klinis dan penulis buku The Dance of Anger, dikutip dari TIME, menjelaskan bahwa sikap defensif menghambat kemampuan mendengarkan dan membangun kedekatan. Seseorang cenderung mencari kesalahan orang lain demi membela diri. Karena itu, belajarlah mendengarkan kritik dan mengakui kesalahan yang menjadi tanggung jawabmu.
"Sikap defensif adalah musuh utama dalam mendengarkan dan membangun koneksi," ujar Harriet Lerner.
Pada akhirnya, bertengkar bukan soal siapa yang paling benar, melainkan bagaimana kedua pihak mau saling memahami dan memperbaiki diri. Jadi, sebelum menyalahkan orang lain, coba introspeksi dan kenali kebiasaan diri yang mungkin justru memperkeruh masalah!












![[MADING] RISE UP, SPEAK OUT!: BE AN UPSTANDER, NOT A BYSTANDER](https://image.idntimes.com/post/20261102/1000609021_b44118d0-dc87-4108-88c8-ca783d604a3e.jpg)









