ilustrasi naik ojol (unsplash.com/Paul Hanaoka)
Supaya tidak bingung setiap kali dihadapkan pada dua pilihan ini, ada cara sederhana yang bisa dijadikan pegangan. Tanyakan terlebih dahulu apakah waktu yang akan dihemat ini bisa dipakai untuk sesuatu yang bernilai lebih tinggi? Kalau iya, membayar lebih untuk menghemat waktu adalah keputusan yang cerdas. Kalau waktu yang dihemat itu ujung-ujungnya hanya dipakai untuk hal yang tidak produktif, maka rugi waktu demi menghemat uang justru lebih logis.
Selain itu, perhatikan juga konteksnya. Kalau keputusan itu menyangkut hal yang terjadi secara rutin setiap hari, dampaknya akan berlipat dalam setahun. Misalnya, perjalanan sehari-hari yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam. Kalau bisa dipotong menjadi 1 jam dengan ongkos lebih mahal, dalam setahun sudah terhemat lebih dari 300 jam. Itu setara dengan hampir 2 minggu penuh yang bisa dipakai untuk hal lain. Keputusan kecil yang kelihatannya sepele, ternyata punya konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Pilihan antara merugi waktu atau rugi uang tidak punya jawaban yang berlaku sama untuk semua orang. Tapi satu hal yang pasti, semakin seseorang sadar betapa terbatasnya waktu yang dimiliki, semakin mudah membuat keputusan yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan prioritas hidupnya. Jadi, sebelum memilih, tanya dulu mana yang paling kamu perlukan saat itu.