Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mindfulness Gak Berarti Harus Selalu Hidup di Saat Ini, Kenapa?
ilustrasi mindfulness (vecteezy.com/benzoix)
  • Mindfulness tidak mengharuskan melupakan masa lalu; pengalaman dan ingatan tetap berguna untuk menjalani urusan hari ini serta mengambil langkah lebih baik.

  • Memikirkan masa depan juga wajar saat membuat rencana, tetapi perlu dibedakan dari membayangkan berlebihan hal-hal yang belum tentu terjadi.

  • Pikiran yang beralih bukan tanda gagal mindful; sadari pergeseran perhatian, lalu kembalikan fokus ke aktivitas yang sedang membutuhkan kehadiran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah sedang makan, tetapi pikiran malah sibuk mengingat kejadian kemarin? Atau baru bangun tidur sudah memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan nanti?

Kalau pernah, kamu tidak otomatis gagal menerapkan mindfulness hanya karena pikiranmu tidak sepenuhnya berada di momen sekarang. Yuk, pahami kenapa mindfulness tidak berarti harus memaksa diri hidup hanya untuk saat ini!

1. Kita tetap perlu mengingat kejadian yang sudah lewat

ilustrasi mengingat kejadian yang sudah lewat (pexels.com/Nathan Cowley)

Masa lalu bukan sesuatu yang harus dihapus dari pikiran supaya bisa disebut mindful. Kita masih perlu mengingat janji yang dibuat kemarin, percakapan dengan teman, kesalahan yang pernah dilakukan, bahkan hal-hal kecil seperti tempat menyimpan barang. Ingatan seperti itu justru membantu kita menjalani banyak urusan hari ini.

Misalnya, kamu pernah terlambat mengumpulkan pekerjaan karena salah mencatat tanggal. Ketika mendapat tugas baru, pengalaman tersebut bisa membuatmu lebih teliti melihat tenggat waktu. Mengingat kejadian kemarin dalam situasi seperti ini bukan berarti kamu terjebak di masa lalu, tetapi sedang menggunakan pengalaman sebelumnya untuk menentukan langkah hari ini.

2. Memikirkan besok juga tidak harus dianggap sebagai gangguan

ilustrasi memikirkan besok (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kita memang tidak mungkin menjalani hidup tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Mau pergi ke luar kota saja kita perlu mengecek tiket, menyiapkan pakaian, menghitung uang, dan melihat jadwal. Bahkan urusan sederhana seperti menentukan menu makan malam pun, sebenarnya membuat kita berpikir sedikit ke depan.

Mindfulness bukan berarti kamu harus berkata, “Aku cuma mau memikirkan sekarang,” lalu menolak semua rencana yang muncul di kepala. Justru malah yang perlu diperhatikan justru apakah kamu sedang membuat rencana atau malah sibuk membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Menyiapkan presentasi untuk besok tentu berbeda dengan menghabiskan berjam-jam membayangkan bagaimana kalau nanti presentasimu berantakan.

3. Memikirkan masa lalu berbeda dengan terus menyalahkan diri sendiri

ilustrasi menyalahkan diri sendiri (pexels.com/Tim Gouw)

Ada kalanya kita memang perlu memikirkan kejadian yang sudah lewat. Setelah bertengkar dengan teman, misalnya, kita mungkin mengingat lagi ucapan sendiri dan menyadari ada bagian yang seharusnya tidak dikatakan. Dari sana, kita bisa menentukan apakah perlu meminta maaf atau membicarakannya lagi.

Persoalannya bukan sekadar karena pikiran kembali ke masa lalu. Coba lihat apa yang terjadi setelahnya. Kalau satu kesalahan terus dipikirkan sampai berulang kali menyebut diri sendiri bodoh, menyesal tanpa melakukan apa-apa, atau membuat kejadian lama merusak hari ini, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan menyadari apa yang sedang terjadi.

4. Pikiran yang ke mana-mana bukan berarti kamu gagal mindful

ilustrasi pikiran negatif (vecteezy.com/dao_kp20226443)

Lagi baca buku, tetapi tiba-tiba ingat pesan yang belum dibalas. Baru beberapa menit mengerjakan tugas, pikiran sudah pindah ke rencana akhir pekan. Hal seperti ini bisa terjadi begitu saja dan bukan berarti kamu gagal menerapkan mindfulness.

Kita memang tidak bisa mengatur setiap pikiran yang muncul. Daripada sibuk kesal karena konsentrasi buyar, lebih baik sadari saja bahwa perhatianmu sedang berpindah. Setelah itu, kamu bisa memutuskan apakah hal yang terpikir tadi memang perlu dikerjakan sekarang atau bisa ditunda sampai pekerjaanmu selesai.

5. Ada saatnya perhatian memang perlu dikembalikan ke momen sekarang

ilustrasi mindfulness (vecteezy.com/Tonefoto grapher)

Memikirkan kejadian kemarin atau rencana besok tidak selalu menjadi masalah. Namun, kalau kamu sedang melakukan sesuatu yang membutuhkan perhatian, terlalu sibuk dengan hal lain bisa membuat kegiatan tersebut lewat begitu saja. Makan bersama teman, misalnya, akan terasa berbeda kalau sepanjang waktu kamu malah sibuk mengulang percakapan dengan orang lain di kepala.

Di situ mindfulness bukan berarti menyuruhmu berhenti berpikir. Kamu hanya perlu menyadari bahwa perhatianmu sedang tidak ada di tempat yang seharusnya, lalu mengarahkannya kembali. Temanmu sedang bercerita, ya dengarkan; makanan sedang di depan mata, ya nikmati; pekerjaan sedang dikerjakan, ya kerjakan dulu tanpa harus terus memikirkan hal lain.

Mindfulness tidak menuntut kita melupakan kemarin atau berhenti memikirkan besok. Kita tetap boleh mengingat, menyesal, merencanakan, dan memikirkan berbagai kemungkinan. Hanya saja, jangan sampai pikiran tentang waktu lain membuat kita tidak benar-benar hadir ketika kehidupan sedang berlangsung di depan mata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article