Kritik Mindfulness: Saat Kesehatan Mental Dikapitalisasi Industri

- Mindfulness, latihan kesadaran berbasis meditasi untuk mengelola stres, dikritik ketika dikomodifikasi menjadi aplikasi berbayar, program wellness perusahaan, dan produk komersial.
- Istilah McMindfulness dipopulerkan Dr. Miles Neale untuk menggambarkan penyederhanaan mindfulness yang mengabaikan akar emosional serta kondisi sosial demi pemulihan instan.
- McMindfulness berisiko menganggap stres sebagai kegagalan personal, padahal beban mental dapat berasal dari sistem dan lingkungan; literasi kritis diperlukan agar akar masalah tidak terabaikan.
Kita ketahui bersama bahwa saat ini kesehatan mental tengah menjadi tren hangat di kalangan masyarakat luas. Mindfulness merupakan bagian dari tren kesehatan itu. Pada dasarnya, mindfulness adalah latihan kesadaran berbasis meditasi. Dengan mindfulness, seseorang bisa mengelola stres dan merespons stres tersebut secara sehat.
Namun, praktik mindfulness yang terapeutik ini sering kali diserap oleh industri modern yang membuat maknanya berbeda jauh. Dalam konteks ini, mindfulness gak lagi dipandang sebagai sarana untuk memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar, melainkan dikomodifikasi menjadi produk komersial yang diperjualbelikan, seperti aplikasi meditasi berbayar, program wellness perusahaan, hingga produk lainnya yang berlabel kesadaran penuh. Fenomena inilah yang disebut sebagai McMindfulness. Supaya kamu lebih paham bagaimana literasi kesehatan mental dikapitalisasi industri, yuk simak penjelasan berikut!
1. Istilah McMindfulness muncul sebagai kritik terhadap bentuk mindfulness yang dikomersialisasi

ilustrasi orang bermeditasi (pexels.com/Michelle Leman) Tentunya, suatu istilah gak serta merta muncul tanpa ada penyebab, begitu juga McMindfulness. Lantas, bagaimana istilah ini bisa muncul? McMindfulness dipopulerkan oleh Dr. Miles Neale, seorang Psikoterapis Buddhis, melalui artikelnya yang berjudul McMindfulness and frozen yoga.
Dalam artikel tersebut, Neale mengkritik bagaimana yoga dan mindfulness sama-sama telah kehilangan makna sebenarnya karena dikemas ulang demi komoditas pasar. Penggunaan awalan Mc- yang diturunkan dari industri makanan cepat saji McDonald’s dipakai Neale untuk merepresentasikan bagaimana mindfulness telah mengalami dumbing down.
Alih-alih mengajak individu untuk memahami akar masalah emosional atau mengkritik lingkungan sosial yang toxic, McMindfulness justru menjual praktik terapeutik sebagai produk komersial yang tujuannya hanya agar seseorang bisa secepat mungkin sembuh dari tekanan dan abai terhadap akar penderitaan sebenarnya. Ron Purser, seorang profesor dan guru Zen Korea, kemudian menggunakan istilah ini di judul bukunya, McMindfulness: How Mindfulness Became the New Capitalist Spirituality yang terbit pada tahun 2019.
2. McMindfulness menggeser cara pandang terhadap stres dari masalah lingkungan menjadi kegagalan personal

ilustrasi orang melakukan meditasi (pexels.com/냥이 고) Neale amat kritis terhadap McMindfulness karena McMindfulness membuat cara pandang masyarakat terhadap stres berubah dari masalah lingkungan menjadi kegagalan personal. Dengan kata lain, penyebab stres atau penderitaan sebagian besar timbul dalam diri kita, padahal gak selalu demikian. Stres dan beban mental sering kali lahir dari faktor di luar diri manusia dan kondisi sistemik yang rusak. Nah, narasi yang direfleksikan McMindfulness justru menyamarkan fakta itu.
Ketika kamu merasa burnout akibat beban kerja yang gak manusiawi atau sistem pemerintah yang karut-marut, McMindfulness malah mengarahkan kesalahan itu padamu. Kamu seakan dianggap menderita bukan karena keadaan eksternal yang memang rusak, melainkan karena dirimu sendiri yang gak mampu mengontrol pikiran negatif, kurang giat bermeditasi, atau kurang bersyukur.
Di ranah industri, praktik ini lantas mengalihkan tanggung jawab perusahaan kepada tanggung jawab personal. Perusahaan yang mengadakan program mindfulness untuk karyawannya akan merasa telah menunaikan kewajiban dalam menyejahterakan mereka. Padahal, tekanan yang kerap dirasakan oleh karyawan berakar pada budaya kerja dan manajemen perusahaan yang toxic. Hal ini lantas membuat karyawan pasrah dan menormalisasikan sistem yang menindas itu.
3. Pentingnya membangun literasi kesehatan yang lebih kritis

ilustrasi orang yang tenang (pexels.com/Oleksandr P) Ingat, mindfulness itu adalah cara hidup, bukan instrumen atau sarana untuk mencapai tujuan secara instan. Gak sedikit dari kita yang justru salah dalam menerapkan mindfulness. Bahkan, banyak yang terjebak menggunakan praktik mindfulness hanya sebagai pelarian tanpa menyelesaikan akar masalah utamanya.
Maka, membangun literasi kesehatan mental yang kritis menjadi hal penting agar kita gak mudah terjebak dalam wellness komersial. Pulih itu gak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengonsumsi produk gaya hidup, terlebih jika akar masalahnya bersumber dari lingkungan yang gak sehat.
Kemudian, yang kerap disalahpahami adalah mindfulness berarti abai terhadap masalah yang terjadi di sekitar dan fokus pada diri sendiri, padahal mindfulness sejatinya menuntut kamu untuk hadir sepenuhnya dan melihat hal-hal yang gak nyaman. Latihan kesadaran ini bukan soal menarik diri dari kenyataan dan memaklumi ketidakadilan sosial yang terjadi, melainkan tentang membangun kepekaan secara kritis terhadap perubahan di dalam diri dan di luar diri manusia.
Mindfulness seharusnya membebaskan ya, bukan menenangkan kita agar terus dieksploitasi oleh sistem yang toxic. Yuk, tetap self-care di samping terus memperjuangkan lingkungan yang lebih sehat, adil, setara, serta manusiawi!





















