Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Mindfulness Training Sederhana ala Bos Paragon Salman Subakat
Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  • Light+ by Wardah meluncurkan Lightplus Crew 2026 untuk memperkuat ekosistem kreator muda, menjaring lebih dari 38.000 pendaftar Gen Z dan memilih 1.000 kreator sebagai digital amplifier serta offline activator.

  • CEO Paragon NSEI Salman Subakat membagikan latihan mindfulness sederhana bernama ‘Latihan 5 4 3 2 1’ yang melibatkan lima indra untuk membantu mengurangi overthinking dan meningkatkan kesadaran diri.

  • Salman menekankan pentingnya berkomunitas dengan semangat saling mendengar dan memberi energi positif, karena interaksi tulus dinilai mampu menggandakan energi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dalam rangka mendorong creator-led ecosystem dan memperkuat partisipasi Gen Z dalam perkembangan creator economy serta social commerce di Indonesia, Light+ by Wardah mempersembahkan Lightplus Crew 2026. Hal ini diresmikan dalam acara Welcoming Lightplus Crew 2026: Light on Your Skin, Light on Your Mind pada Minggu (24/5/2026) di Collaborative Zone, Paragon 9, Jakarta Selatan.

Lightplus Crew merupakan creator ecosystem dari Light+ by Wardah yang tahun ini menjaring lebih dari 38.000 pendaftar Gen Z dari berbagai kota di Indonesia. Ekosistem ini akan melibatkan 1.000 kreator muda terpilih sebagai digital amplifier dan offline activator.

Dalam momen tersebut, Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp, turut membagikan materi menarik bagi kreator terpilih. Berikut mindfulness training sederhana ala Salman Subakat yang bisa digunakan untuk mengatasi overthinking pada diri sendiri.

1. Cari lima hal paling menarik di ruangan tempatmu berada

Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp dalam acara Welcoming Lightplus Crew 2026: Light on Your Skin, Light on Your Mind pada Minggu (24/5/2026) di Collaborative Zone, Paragon 9, Jakarta Selatan. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Langkah mindfulness training yang pertama berkaitan dengan indra penglihatan. "Coba cari lima hal yang paling menarik di ruangan ini. Lima hal, tapi diam saja biar syahdu," kata Salman.

Menurut Salman, ini merupakan mindfulness training yang paling sederhana. Langkahnya mudah dilakukan di mana saja dan cenderung tidak memakan waktu lama. Lantas, ia melanjutkan dengan empat langkah mindfulness training berikutnya.

2. Mengobrol atau kenalan dengan orang di sekitar sembari mendengar empat suara

Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp dalam acara Welcoming Lightplus Crew 2026: Light on Your Skin, Light on Your Mind pada Minggu (24/5/2026) di Collaborative Zone, Paragon 9, Jakarta Selatan. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

"Coba teman-teman sekarang ngobrol, kenalan. Tapi sembari ngobrol, kenalan, coba dengar empat suara," lanjut pria lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Suara-suara tersebut bisa sesederhana suara kipas angin yang tengah berputar, suara orang mengobrol, suara kertas, apa pun. Bagian mendeteksi suara ini bisa diibaratkan mendengarkan suara ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) yang populer di kalangan anak muda.

3. Temukan tiga feeling yang kamu rasakan

Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp dalam acara Welcoming Lightplus Crew 2026: Light on Your Skin, Light on Your Mind pada Minggu (24/5/2026) di Collaborative Zone, Paragon 9, Jakarta Selatan. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

"Tadi kan teman-teman habis pegang handphone, salaman, habis lihat gitu. Coba temukan tiga feeling," lanjut dia.

Feeling ini bisa seperti perasaan kagum, senang, atau takjub melihat jilbab dan busana orang lain yang ternyata bagus. Kita juga bisa meraba tiga benda apa pun dengan indera peraba kita dan rasakan sensasinya.

4. Coba rasakan dua bau

Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp dalam acara Welcoming Lightplus Crew 2026: Light on Your Skin, Light on Your Mind pada Minggu (24/5/2026) di Collaborative Zone, Paragon 9, Jakarta Selatan. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Setelah melatih mindfulness dengan indra penglihatan, pendengaran, atau peraba, kita beralih ke indra penciuman. Kita diminta untuk merasakan bau apa pun yang ada di sekitar kita.

"Coba teman-teman rasakan dua bau. Bau kue, parfum," Salman mencontohkan.

5. Rasakan satu rasa sambil pejamkan mata

Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) dan Co-Founder ParagonCorp dalam acara Welcoming Lightplus Crew 2026: Light on Your Skin, Light on Your Mind pada Minggu (24/5/2026) di Collaborative Zone, Paragon 9, Jakarta Selatan. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

"Yang terakhir, coba rasakan satu rasa. Kan tadi sambil nyemil, tuh," instruksi Salman yang berikutnya.

Berbeda dengan sebelumnya, pada bagian ini, kita diminta untuk memejamkan mata. Lalu, nikmatilah apa yang kita rasakan selama merasakan satu rasa tersebut sambil relaks terpejam.

Latihan mindfulness tadi disebut dengan nama Latihan 5 4 3 2 1. Artinya 5 lihat, 4 dengar, 3 bau, 2 sensori, dan 1 rasa. "Bayangin kalau teman-teman itu dalam perjalanan ke kampus. Masuk ke kampus, melakukan hal itu. Teman-teman akan mengurangi overthinking karena teman-teman jadi lebih mindful. Lihat ekspresi guru, bajunya dosen, lihat perjalanan. Kalau ada bunga-bunga, dipegang.Terus berdiri di depan prasasti pendirian sekolah gitu. Duduk di depan foto pendiri yayasan sekolah," paparnya.

Salman pun menjelaskan hubungan latihan mindfulness tadi dengan tinjauan ilmiah dan berkomunitas di Lightplus Crew. "Berdasarkan riset neuroscience, setiap kita melakukan sesuatu itu diukur gelombang otaknya, energinya. Kalau teman-teman gabung ke komunitas, mikirin karier saya segala macamnya, itu energinya (yang dihasilkan) cuma setengah sebetulnya. Tapi kalau teman-teman datang ke komunitas, terus habis itu teman-teman mikir, siapa yang bisa aku hibur? Siapa yang aku bisa dengerin? Aku mau belajar dari siapa? Bukan aku mau belajar apa, tapi kalau aku semangat, nanti kakak yang hadir juga semangat. Beda banget ya. Itu energinya 2 kali lipat minimal," tambah dia.

"Kalau kita mau karier, pengen punya usaha, pengen bantu orangtua, kita harus lebih banyak mendengar daripada ngomong. Jadi, komunitas itu belajar saling mendengar, baru kita bicara," pungkas Salman menyarikan sesi yang ia bawakan. Komunitas seharusnya menjadi ruang yang nyaman untuk tumbuh bersama, bukan hanya tempat kompetisi. Saling mendukung dan membangun hubungan yang kuat adalah nilai yang harus dimiliki dalam komunitas, termasuk Lightplus Crew.

Editorial Team