Namun ternyata, masih ada sejumlah kepercayaan yang berkembang di masyarakat saat memasuki Tahun Baru Islam atau awal bulan Muharram ini. Banyak dari kepercayaan tersebut yang muncul dari tradisi turun-temurun dan sering dikaitkan dengan malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram. Padahal, tidak semua kepercayaan tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam. Supaya tidak salah paham, yuk pahami beberapa mitos dan fakta tentang Tahun Baru Islam berikut ini!
5 Mitos dan Fakta tentang Tahun Baru Islam, yuk Pahami dengan Benar!

- Tahun Baru Islam diperingati setiap 1 Muharram sebagai momen refleksi diri dan pembuka lembaran baru bagi umat Muslim, sering dirayakan dengan doa bersama dan kegiatan keagamaan.
- Banyak mitos berkembang di masyarakat terkait bulan Muharram, seperti larangan memotong rambut, bepergian jauh, memulai usaha, menggelar hajatan, hingga keluar rumah pada malam Tahun Baru Islam.
- Faktanya, ajaran Islam tidak melarang aktivitas tersebut; semua boleh dilakukan selama berniat baik dan sesuai syariat, sehingga penting memahami perbedaan antara tradisi dan ajaran agama.
Tahun Baru Islam merupakan momen pergantian tahun dalam kalender Hijriah yang diperingati setiap tanggal 1 Muharram. Bagi umat Muslim, pergantian ini sering dimaknai sebagai waktu untuk merefleksikan diri, memperbaiki kebiasaan, sekaligus membuka lembaran baru menjadi pribadi yang lebih baik. Di berbagai daerah di Indonesia, datangnya Tahun Baru Islam juga sering diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, doa bersama, hingga tradisi budaya yang sudah berlangsung sejak lama.
Table of Content
1. Tidak boleh memotong rambut atau kuku

Terdapat mitos yang dipercaya masyarakat bahwa saat bulan Muharram, tidak dianjurkan untuk memotong rambut atau kuku karena dipercaya membawa kesialan dan mendatangkan hal buruk. Kepercayaan ini masih sering ditemukan di beberapa daerah dan biasanya diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga atau lingkungan sekitar. Akibatnya, ada orang yang sengaja menunda memotong rambut, kuku, bahkan sampai bulan Muharram selesai. Banyak yang merasa khawatir jika melanggar pantangan tersebut, akan mengalami kejadian kurang menyenangkan.
Padahal faktanya, tidak ada aturan dalam Islam yang melarang seseorang memotong rambut atau kuku saat memasuki bulan Muharram. Menjaga kebersihan tubuh, termasuk memotong rambut dan kuku, justru menjadi bagian dari kebiasaan baik yang dianjurkan dan diperbolehkan dilakukan kapan saja. Bulan Muharram memang termasuk bulan yang dimuliakan, tetapi bukan berarti seseorang harus menghindari aktivitas merawat diri. Kepercayaan ini sampai sekarang masih menjadi mitos yang berkembang di masyarakat.
2. Tidak boleh melakukan perjalanan jauh

Sebagian masyarakat percaya bahwa bepergian jauh saat awal bulan Muharram, bisa membawa hambatan, kesialan, atau kejadian yang tidak diinginkan di tengah perjalanan. Mitos ini membuat beberapa orang merasa ragu untuk melakukan perjalanan penting, baik untuk urusan pekerjaan, liburan, maupun keperluan keluarga. Bahkan, ada pula yang sengaja mengubah jadwal keberangkatan agar tidak bertepatan dengan awal bulan Muharram. Kepercayaan seperti ini biasanya muncul dari cerita lama yang terus diwariskan tanpa diketahui asal-usul pastinya.
Pada kenyataannya, tidak ada aturan dalam Islam yang melarang seseorang melakukan perjalanan jauh saat Muharram. Selama tujuan perjalanan baik dan persiapannya matang, bepergian tetap boleh dilakukan. Keselamatan dalam perjalanan lebih dipengaruhi oleh kondisi kendaraan, kesiapan fisik, dan kehati-hatian selama di jalan. Jadi, tidak perlu merasa takut bepergian hanya karena bertepatan dengan bulan Muharram.
3. Tidak dianjurkan memulai usaha atau pekerjaan baru

Ada pula mitos yang menganggap bulan Muharram bukanlah waktu yang tepat untuk memulai usaha, pindah pekerjaan, atau mengambil keputusan besar dalam karier. Sebagian orang percaya bahwa langkah baru yang dimulai pada bulan ini, akan lebih sulit berkembang dan menemui banyak hambatan. Banyak orang yang memilih menunggu bulan lain demi menghindari risiko yang dianggap kurang baik ini. Hal ini masih cukup sering dipercaya, terutama di lingkungan yang memegang tradisi.
Padahal, keberhasilan sebuah usaha atau pekerjaan tidak ditentukan oleh bulan tertentu. Dalam Islam, seseorang diperbolehkan memulai langkah baru kapan saja selama dilakukan dengan niat baik dan usaha yang sungguh-sungguh. Bahkan, pergantian tahun Hijriah sering dimanfaatkan banyak orang sebagai momen untuk menyusun tujuan baru atau memulai perubahan dalam hidup. Jadi, tidak ada alasan untuk menunda hal baik hanya karena percaya pada mitos.
4. Tidak boleh menggelar hajatan

Mitos lain yang cukup sering terdengar adalah larangan menggelar hajatan di bulan Muharram, seperti pernikahan, syukuran, khitanan, atau acara keluarga lainnya. Sebagian masyarakat percaya bahwa acara yang dilaksanakan di bulan ini akan lebih mudah mengalami kendala atau kurang membawa keberuntungan. Karena alasan tersebut, banyak masyarakat yang sengaja menghindari mengadakan acara penting pada bulan ini dan kepercayaan seperti ini masih banyak dijumpai di Indonesia.
Sebenarnya, ajaran Islam tidak pernah melarang umatnya mengadakan hajatan pada bulan Muharram. Semua bulan pada dasarnya baik untuk melakukan kegiatan positif selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Lancar atau tidaknya sebuah acara biasanya lebih dipengaruhi oleh kesiapan, perencanaan, dan kerja sama banyak pihak. Jadi, keputusan menggelar acara sebaiknya didasarkan pada kesiapan, bukan rasa takut terhadap mitos tertentu.
5. Tidak boleh keluar rumah saat malam

Terdapat pula kepercayaan untuk tidak keluar rumah pada malam Tahun Baru Islam karena dianggap rawan membawa hal buruk dan berkaitan dengan hal mistis. Sebagian orang memilih tetap berada di rumah dan membatasi aktivitas malam karena merasa lebih aman. Tidak sedikit pula yang percaya bahwa malam pergantian tahun Hijriah memiliki suasana yang berbeda dibanding hari biasa. Kepercayaan ini umumnya berkembang dari cerita yang diwariskan di lingkungan sekitar.
Jika dilihat dari sisi ajaran Islam, tidak ada larangan untuk keluar rumah saat malam Tahun Baru Islam. Selama dilakukan untuk tujuan baik dan tetap menjaga keselamatan diri, aktivitas di luar rumah tetap boleh dilakukan seperti biasa. Bahkan, sebagian masyarakat justru memanfaatkan malam tersebut untuk mengikuti pengajian, berkumpul bersama keluarga, atau menghadiri kegiatan keagamaan. Karena itu, tidak perlu terlalu khawatir selama aktivitas yang dilakukan tetap positif.
Berbagai mitos mengenai Tahun Baru Islam seperti di atas, sampai saat ini masih sering dipercaya oleh masyarakat, terlebih karena sudah diwariskan secara turun-temurun sejak lama. Melihat hal ini, penting bagi kita untuk memahami kembali mana kepercayaan yang memang memiliki dasar dan mana yang hanya berkembang sebagai tradisi di lingkungan kita. Dengan begitu, kita bisa menyambut Tahun Baru Islam dengan lebih bijak tanpa rasa khawatir berlebihan terhadap hal-hal yang belum tentu benar.
Pada akhirnya, momen pergantian tahun Hijriah bisa dijadikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan memulai kebiasaan yang lebih baik. Daripada sibuk memikirkan pantangan yang belum jelas kebenarannya, tidak ada salahnya memanfaatkan Tahun Baru Islam untuk hal-hal positif bersama keluarga maupun orang terdekat.
Semoga informasi ini bisa membantu kamu memahami berbagai mitos yang beredar dengan lebih tepat, ya!


















