Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Mendengarkan Jadi Langkah Penting dalam Pencegahan Bunuh Diri?

4 min read
Kenapa Mendengarkan Jadi Langkah Penting dalam Pencegahan Bunuh Diri?
ilustrasi mendengarkan masalah orang lain (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Kesediaan mendengarkan memberi teman ruang bercerita tanpa dipaksa, dipotong, atau dianggap berlebihan, sehingga mereka tidak perlu terus berpura-pura baik-baik saja.

  • Ucapan tentang kematian, keinginan menyakiti diri, atau ketidakmampuan menjaga diri perlu ditanggapi serius dengan pertanyaan sederhana dan perhatian, bukan dilewatkan.

  • Jika situasi menyangkut keselamatan, jangan menanganinya sendirian: hubungi keluarga atau orang terpercaya, cari pertolongan medis saat darurat, dan temani hingga bantuan datang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika seorang teman tiba-tiba mengatakan hidupnya terasa berat atau mulai membicarakan kematian, kita mungkin bingung harus menjawab apa. Ada yang langsung memberi nasihat, mencoba menghibur, atau malah mengalihkan pembicaraan karena merasa tidak nyaman. Padahal, dalam situasi seperti ini, kesediaan untuk mendengarkan bisa menjadi hal pertama yang dibutuhkan.

Mendengarkan juga bukan berarti kamu harus tahu cara menyelesaikan masalah teman. Kadang, yang dibutuhkan justru kesempatan untuk bercerita tanpa langsung dipotong atau dianggap berlebihan. Lalu, kenapa mendengarkan bisa menjadi bagian penting dalam pencegahan bunuh diri?

  1. 1. Teman jadi punya kesempatan untuk bercerita

    ilustrasi cerita
    ilustrasi cerita (pexels.com/SHVETS production)

    Tidak semua orang langsung mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika ditanya, “Kamu kenapa?” Ada yang hanya menjawab “gak apa-apa” meskipun sebenarnya sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Kalau percakapan berhenti di jawaban singkat tersebut, kita mungkin tidak pernah tahu apa yang sedang dialaminya.

    Kesediaan untuk mendengarkan, memberi kesempatan kepada teman untuk membuka cerita sedikit demi sedikit. Ia bisa mulai dari hal yang kelihatannya sepele sebelum akhirnya menceritakan persoalan yang lebih serius. Kamu tidak perlu terus-menerus bertanya atau memaksa agar ia segera bercerita. Cukup tunjukkan bahwa kamu bersedia mendengar kalau ia memang ingin bicara.

  2. 2. Kalimat tentang kematian tidak berlalu begitu saja

    ilustrasi ngobrol
    ilustrasi ngobrol (pexels.com/Cliff Booth)

    Ucapan seperti “Aku pengin mati” kadang muncul di tengah percakapan lalu segera berganti menjadi topik lain. Kita mungkin menganggap teman sedang emosi atau sekadar mengeluh karena sedang punya banyak masalah. Padahal, ucapan tersebut tetap layak diperhatikan, terutama jika muncul lebih dari sekali atau disertai cerita bahwa ia sudah tidak sanggup menghadapi keadaan.

    Mendengarkan, membuat kamu tidak langsung melewatkan ucapan tersebut. Kamu bisa berhenti sejenak dan bertanya apa yang membuatnya sampai berpikir seperti itu. Pertanyaan sederhana bisa membuat teman tahu bahwa perkataannya didengar dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang memalukan untuk dibicarakan.

  3. 3. Teman tidak perlu berpura-pura baik-baik saja

    ilustrasi berpura-pura baik-baik saja
    ilustrasi berpura-pura baik-baik saja (pexels.com/Alena Darmel)

    Ada orang yang tetap masuk kerja, kuliah, bertemu teman, bahkan masih bercanda ketika sedang menghadapi masalah berat. Karena dari luar terlihat biasa saja, orang di sekitarnya mungkin mengira tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kondisi seperti ini membuat seseorang bisa terus menyimpan masalah tanpa ada orang yang tahu.

    Teman yang mau mendengarkan memberi tempat untuk berhenti berpura-pura sebentar. Ia tidak harus selalu terlihat baik di depan orang lain atau merasa harus segera kembali ceria setelah bercerita. Percakapan yang berlangsung tanpa ejekan dan tanpa menyalahkan juga membuatnya lebih mudah mengatakan kalau sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja.

  4. 4. Kita bisa lebih cepat menyadari saat situasinya serius

    ilustrasi depresi
    ilustrasi depresi (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Mendengarkan bukan cuma soal membiarkan teman berbicara sampai selesai. Dari percakapan tersebut, kamu bisa mengetahui apakah masalah yang dihadapi ternyata sudah membuatnya berpikir untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup. Informasi seperti ini penting karena orang di sekitarnya mungkin perlu mengambil langkah lebih serius daripada sekadar mengajak jalan atau menghiburnya.

    Kalau teman mengatakan dirinya ingin menyakiti diri, punya rencana untuk bunuh diri, atau merasa tidak bisa menjaga dirinya sendiri, jangan mencoba menangani keadaan itu sendirian. Hubungi orang yang bisa datang dan membantu secara langsung, seperti keluarga atau orang terdekat yang dipercaya. Jika sudah terjadi keadaan darurat, segera cari pertolongan medis dan tetap temani teman tersebut sampai bantuan datang.

  5. 5. Mendengarkan bisa menjadi awal untuk mencari bantuan

    ilustrasi bantuan profesional
    ilustrasi bantuan profesional (pexels.com/Timur Weber)

    Ada masalah yang memang tidak bisa selesai hanya dengan ngobrol bersama teman. Namun, percakapan bisa menjadi awal ketika seseorang akhirnya mau menerima bantuan dari orang lain. Teman yang sebelumnya menolak bicara mungkin menjadi lebih terbuka setelah tahu bahwa ada orang yang mau mendengarkan tanpa langsung menyuruhnya berpikir positif”

    Kamu juga tidak harus mengambil peran sebagai orang yang menyelesaikan semuanya. Kalau masalahnya sudah terlalu berat atau menyangkut keselamatan, ajak teman mencari bantuan dari orang yang memang bisa menangani situasinya. Yang penting, jangan membuatnya merasa harus menghadapi semuanya seorang diri hanya karena sudah mau bercerita kepadamu.

    Mendengarkan memang tidak menjamin seseorang langsung merasa lebih baik. Namun, ketika seorang teman berani mengatakan bahwa dirinya sedang tidak sanggup, memilih untuk berhenti dan mendengarkan berarti kamu tidak melewatkan kesempatan untuk mengetahui keadaannya. Dalam situasi tertentu, percakapan yang awalnya terasa sederhana justru bisa menjadi alasan seseorang akhirnya mau menerima bantuan.

    Jika kalian memerlukan dukungan ahli saat mengalami emosi negatif, silakan hubungi LISA Suicide Prevention Helpline (Love Inside Suicide Awareness) berbahasa Indonesia di nomor +62 811 3855 472.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More