Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

15 Puisi untuk Hari Pahlawan 2024, Menyayat Hati!

15 Puisi untuk Hari Pahlawan 2024, Menyayat Hati!
Upacara HUT Ke-75 Republik Indonesia di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (17/8/2020) (Dok. Humas Pemprov DKI Jakarta)
Share Article

Apa sih yang biasa kamu lakukan untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November? Untuk kembali menghargai perjuangan mereka, kita bisa mengunggah caption Hari Pahlawan hingga puisi Hari Pahlawan.

Di artikel ini kamu bakal menemukan 15 puisi Hari Pahlawan yang bisa mengingatkanmu mengenai perjuangan mereka. Seperti apa?

  1. 1. Penyelamat Ibu Pertiwi (Agung Dwi Prasetyo)

    Ilustrasi lahan sawah (IDN Times/ Ervan)
    Ilustrasi lahan sawah (IDN Times/ Ervan)

    Penyelamat Ibu Pertiwi (Agung Dwi Prasetyo)

    Seperti hujan yang turun membasahi bumi
    Menjadikan tanah kering menjadi subur
    Seperti itulah para pahlawan
    Menjadikan negara ini merdeka dari pejajahan

    Tak terukur perjuangan yang kau lakukan
    Tak terhitung berapa banyak darah yang tertumpah
    Demi tercapainya kemerdekaan
    Demi mengusir para penjajah yang serakah

    Usai sudah kini perjuanganmu
    Tinggalah kami di sini yang menikmati
    Hasil jerih payah engkau dahulu
    Terimakasih para pahlawanku

  2. 2. Karawang Bekasi (Chairil Anwar)

    Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kanan) melihat foto Pahlawan Nasional Arnold Mononutu yang merupakan tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara saat peringatan Hari Pahlawan Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/11/2020). Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh yang telah melalui proses seleksi oleh Kementerian Sosial dan Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan. (BPMI Setpres/Lukas)
    Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kanan) melihat foto Pahlawan Nasional Arnold Mononutu yang merupakan tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara saat peringatan Hari Pahlawan Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/11/2020). Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh yang telah melalui proses seleksi oleh Kementerian Sosial dan Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan. (BPMI Setpres/Lukas)

    Karawang Bekasi (Chairil Anwar)

    Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
    Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
    Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
    Terbayang kami maju dan mendegap hati?

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
    Kenang, kenanglah kami

    Kami sudah coba apa yang kami bisa
    Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

    Kami cuma tulang-tulang berserakan
    Tapi adalah kepunyaanmu
    Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

    Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,
    Atau tidak untuk apa-apa
    Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
    Kaulah sekarang yang berkata

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

    Kenang, kenanglah kami
    Teruskan, teruskan jiwa kami
    Menjaga Bung Karno
    Menjaga Bung Hatta
    Menjaga Bung Syahrir

    Kami sekarang mayat
    Berikan kami arti
    Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

    Kenang, kenanglah kami
    Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
    Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

  3. 3. Maju Tak Gentar (Gus Mus)

    Ilustrasi perang/konflik. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi perang/konflik. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Maju Tak Gentar (Gus Mus)

    Maju tak gentar
    Membela yang mungkar.
    Maju tak gentar
    Hak orang diserang.

    Maju tak gentar
    Pasti kita menang!

  4. 4. Kekuatan Ingin Merdeka (Agung Dwi Prasetyo)

    Ilustrasi perang/konflik. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi perang/konflik. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Kekuatan Ingin Merdeka (Agung Dwi Prasetyo)

    Jatuh bangkit kembali
    Luka kau obati
    Kau lawan ketakutan
    Keterbatasan tak kau hiraukan
    Kau hilangkan penjajahan

    Segenap jiwa ragamu kau korbankan
    Pikiranmu kau curahkan
    Hartamu kau berikan
    Bahkan nyawamu kau pertaruhkan

  5. 5. Sebuah Jaket Berlumur Darah (Taufik Ismail)

    Taman Makam Pahlawan Nasional Utama di Kalibata, Jakarta (IDN Times/Sunariyah)
    Taman Makam Pahlawan Nasional Utama di Kalibata, Jakarta (IDN Times/Sunariyah)

    Sebuah Jaket Berlumur Darah (Taufik Ismail)

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja

    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikrar setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan!

  6. 6. Pahlawan Tak Dikenal ( Toto Sudarto Bachtiar)

    Ilustrasi tentara. Unsplash/Stijn Swinnen
    Ilustrasi tentara. Unsplash/Stijn Swinnen

    Pahlawan Tak Dikenal ( Toto Sudarto Bachtiar)

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
    Tetapi bukan tidur, sayang
    Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
    Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

    Dia tidak ingat bilamana dia datang
    Kedua lengannya memeluk senapan
    Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
    Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

    Wajah sunyi setengah tengadah
    Menangkap sepi padang senja
    Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
    Dia masih sangat muda

    Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
    Orang-orang ingin kembali memandangnya
    Sambil merangkai karangan bunga
    Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

    Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
    Tetapi bukan tidur, sayang
    Sebuah peluru bundar di dadanya
    Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.

  7. 7. Gugur (W.S. Rendra)

    Suasana Taman Makam Pahlawan Nasional Utama di Kalibata, Jakarta (IDN Times/Sunariyah)
    Suasana Taman Makam Pahlawan Nasional Utama di Kalibata, Jakarta (IDN Times/Sunariyah)

    Gugur (W.S. Rendra)

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya

    Ke dada musuh yang merebut kotanya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya

    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya
    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya

    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya

    Belum lagi selusin tindak
    maut pun menghadangnya
    Ketika anaknya memegang tangannya,

    ia berkata:
    ”Yang berasal dari tanah
    kembali rebah pada tanah.
    Dan aku pun berasal dari tanah
    tanah Ambarawa yang kucinta
    Kita bukanlah anak jadah
    Kerna kita punya bumi kecintaan.

    Bumi yang menyusui kita
    dengan mata airnya.
    Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
    Bumi kita adalah kehormatan.

    Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
    Ia adalah bumi nenek moyang.
    Ia adalah bumi waris yang sekarang.
    Ia adalah bumi waris yang akan datang.”

    Hari pun berangkat malam
    Bumi berpeluh dan terbakar
    Kerna api menyala di kota Ambarawa
    Orang tua itu kembali berkata:

    “Lihatlah, hari telah fajar!
    Wahai bumi yang indah,
    kita akan berpelukan buat selama-lamanya!
    Nanti sekali waktu
    seorang cucuku
    akan menancapkan bajak
    di bumi tempatku berkubur

    kemudian akan ditanamnya benih
    dan tumbuh dengan subur
    Maka ia pun berkata:
    “Alangkah gemburnya tanah di sini!”

    Hari pun lengkap malam
    ketika menutup matanya

  8. 8. Atas Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono)

    Petugas Pengibar Paskibraka Sumsel di Griya Agung, Muhammad Rivaldo (kiri/penggerek bendera), Wiliaz Chelsea Shaqilla (tengah/pembawa bendera), dan Hilman Djayanegara (kanan/pengibar bendera) (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
    Petugas Pengibar Paskibraka Sumsel di Griya Agung, Muhammad Rivaldo (kiri/penggerek bendera), Wiliaz Chelsea Shaqilla (tengah/pembawa bendera), dan Hilman Djayanegara (kanan/pengibar bendera) (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Atas Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono)

    kita berkata : jadilah
    dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
    di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
    di tepinya cakrawala

    terjerat juga akhirnya
    kita, kemudian adalah sibuk
    mengusut rahasia angka-angka
    sebelum Hari yang ketujuh tiba

    sebelum kita ciptakan pula Firdaus
    dari segenap mimpi kita
    sementara seekor ular melilit pohon itu :
    inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

  9. 9. Perjuanganmu, penyemangatku (Agung Dwi Prasetyo)

    Seorang penjual merapikan bendera di Kota Pekanbaru, Riau, Senin (3/8/2020) (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
    Seorang penjual merapikan bendera di Kota Pekanbaru, Riau, Senin (3/8/2020) (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

    Perjuanganmu, penyemangatku (Agung Dwi Prasetyo)

    Selalu teringat dalam benakku
    Selalu terbayang dalam pikiranku
    Teringat akan jasa jasamu
    Yang selalu jadi pandu nuntuk pacu semangatku
    Menjadikan bangsa ini tiada ragu untuk terus maju

    Perjuanganmu telah berlalu
    Kini saatnya para penggantimu
    Untuk melanjutkan yang telah di capai olehmu
    Tapi selalu kuingat kata kata pesanmu untukku
    Perjuanganmu lebih berat dari perjuanganku
    Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah
    Namun perjuangan mu akan lebih sulit
    Karena yang kau lawan adalah bangsamu

  10. 10. Musium Perjuangan (Kuntowijoyo)

    ilustrasi museum. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
    ilustrasi museum. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    Musium Perjuangan (Kuntowijoyo)

    Susunan batu yang bulat bentuknya
    berdiri kukuh menjaga senapan tua
    peluru menggeletak di atas meja
    menanti putusan pengunjungnya.

    Aku tahu sudah, di dalamnya
    tersimpan darah dan air mata kekasih
    Aku tahu sudah, di bawahnya
    terkubur kenangan dan impian

    Aku tahu sudah, suatu kali
    ibu-ibu direnggut cintanya
    dan tak pernah kembali

    Bukalah tutupnya
    senapan akan kembali berbunyi
    meneriakkan semboyan
    Merdeka atau Mati.

    Ingatlah, sesudah sebuah perang
    selalu pertempuran yang baru
    melawan dirimu.

  11. 11. Pengorbanan Pahlawan (Agung Dwi Prasetyo)

    Prajurit TNI melintas di depan Patung Bung Karno di kompleks kantor Kementerian Pertahanan, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Mingg, 6 JPrajurit TNI melintas di depan Patung Bung Karno di kompleks kantor Kementerian Pertahanan, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Minggu, 6 Juni 2021. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
    Prajurit TNI melintas di depan Patung Bung Karno di kompleks kantor Kementerian Pertahanan, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Mingg, 6 JPrajurit TNI melintas di depan Patung Bung Karno di kompleks kantor Kementerian Pertahanan, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Minggu, 6 Juni 2021. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

    Pengorbanan pahlawan (Agung Dwi Prasetyo)

    Engkau mau mengorbankan harta, jiwa raga bahkan nyawa
    Demi kebebasan nusantara dari penjajahan
    Untuk mengibarkan merah putih
    Untuk memerdekakan dari penindasan
    Semangat tertanam dalam meraih tujuan

    Tak kenal takut
    Tak kenal lelah
    Tak kenal menyerah
    Bangkit dan terus bertahan
    Ditengah serangan lawan
    Ditengah keterbatasan
    Tiada pilihan kecuali melawan
    Hanya ada satu kata yaitu “lawan”

    Kini usai sudah perjuanganmu pahlawan
    Tinggalah kami yang harus mempertahankan kemerdekaan
    Demi keutuhan dan kerukunan nusantara
    Jaya selalu negara indonesia tercinta

  12. 12. Lagu Seorang Geriliya (W.S. Rendra)

    ilustrasi bendera Indonesia (IDN Times/Aldila Muharma)
    ilustrasi bendera Indonesia (IDN Times/Aldila Muharma)

    Lagu Seorang Geriliya (W.S. Rendra)

    Engkau melayang jauh, kekasihku
    Engkau mandi cahaya matahari

    Aku di sini memandangmu,
    menyandang senapan, berbendera pusaka

    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
    Engkau berkudung selendang katun di kepalamu

    Engkau menjadi suatu keindahan

    Sementara dari jauh
    Resimen tank penindas terdengar menderu
    Malam bermandi cahaya matahari
    Kehijauan menyelimuti medan perang yang membara

    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku
    Engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

    Peluruku habis
    Dan darah muncrat dari dadaku
    Maka di saat seperti itu
    Kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
    Bersama kakek-kakekku yang telah gugur
    Di dalam berjuang membela rakyat jelata
     

  13. 13. Pemuda Pahlawan (Riky Fernandes)

    Petugas memasang bendera merah putih dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 75 pada 17 Agustus 2020 mendatang (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
    Petugas memasang bendera merah putih dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 75 pada 17 Agustus 2020 mendatang (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

    Pemuda Pahlawan (Riky Fernandes)

    Gelagat keharuan tercium bagai bangkai kecoa yang mulai hancur
    Waktumu tidak banyak di atas fana
    Rapatkan jari-jemarimu agar sampai menuju menara
    Bulatkan tekadmu untuk melawan arus kebencian setiap manusia-manusia itu
    Kukuhkan dua kakimu sampai ke kepala
    Tarik tali pelontar kain merah putihmu
    Usah kau sujud di atas tanah itu
    Tancapkan saja tiang semangatmu setinggi mungkin
    Senyummu kian memanis dengan topi jerami berwarna gelap
    Dan saat itulah kau akan tahu betapa sulitnya hidup
    Dengan hias keringat tanpa peduli hari telah mencapai senja

  14. 14. Mari Kita Lanjutkan Perjuangan (Agung Dwi Prasetyo)

    Ilustrasi Bendera Merah Putih (IDN Times/Aldila Muharma)
    Ilustrasi Bendera Merah Putih (IDN Times/Aldila Muharma)

    Mari Kita Lanjutkan Perjuangan (Agung Dwi Prasetyo)

    Untuk pahlawanku yang gugur di medan perang
    Untuk pahlawanku yang kalah di medan pertempuran
    Engkau telah berjuang dengan rela berkorban

    Jiwa, raga, harta, bahkan nyawa kau pertaruhkan
    Demi meraih suatu tujuan
    Yaitu kemerdekaan
    Yang membawa perdamaian
    Yang menghilangkan kesengsaraan
    Yang membentuk persartuan

    Pahlawanku….
    Maafkan aku
    Hanya bisa mengenangmu lewat bait puisi ini
    Demi kejayaan bangsa ini
    Akan kami lanjutkan perjuangan ini

  15. 15. Surabaya (Mustofa Bisri)

    Ilustrasi bendera yang berada di pinggir pantai (IDN Times/Sunariyah)
    Ilustrasi bendera yang berada di pinggir pantai (IDN Times/Sunariyah)

    Surabaya (Mustofa Bisri)

    Jangan anggap mereka kalap
    jika mereka terjang senjata sekutu lengkap
    Jangan dikira mereka nekat
    Karena mereka cuma berbekal semangat
    Melawan seteru yang hebat
    Jangan sepelekan senjata di tangan mereka
    Atau lengan yang mirip kerangka
    Tengoklah baja di dada mereka
    Jangan remehkan sesobek kain di kepala
    Tengoklah merah putih yang berkibar
    Di hati mereka
    Dan dengar pekik mereka
    Allahu Akbar!

    Dengarlah pekik mereka
    Allahu Akbar!
    Gaungnya menggelegar
    Mengoyak langit
    Surabaya yang murka
    Allahu Akbar
    Menggetarkan setiap yang mendengar
    Semua pun jadi kecil
    Semua pun tinggal seupil
    Semua menggigil

    Surabaya,
    O, kota keberania
    O, kota kebanggaan
    Mana sorak-sorai takbirmu
    Yang membakar nyali kezaliman?
    Mana pekik merdekamu
    Yang menggeletarkan ketidakadilan?
    Mana arek-arekmu yang siap
    Menjadi tumbal kemerdekaan
    Dan harga diri
    Menjaga ibu pertiwi
    Dan anak-anak negeri
    Ataukah kini semuanya ikut terbuai
    Lagu-lagu satu nada
    Demi menjaga
    Keselamatan dan kepuasan
    Diri sendiri

    Allahu Akbar!
    Dulu Arek-arek Surabaya
    Tak ingin menyetrika Amerika
    Melinggis Inggris
    Menggada Belanda
    Murka pada Gurka
    Mereka hanya tak suka
    Kezaliman yang angkuh mereja-lela
    Mengotori persada.
    Mereka harus melawan
    Meski nyawa yang menjadi taruhan
    Karena mereka memang pahlawan

    Surabaya
    Di manakah kau sembunyikan
    Pahlawanku?

     

    Semoga puisi Hari Pahlawan di atas bisa menginspirasimu, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More