Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rekomendasi Buku untuk Kamu yang Lagi Hilang Arah

Rekomendasi Buku untuk Kamu yang Lagi Hilang Arah
ilustrasi buku self-help (unsplash.com/Content Pixie)
Intinya Sih
  • Artikel ini merekomendasikan lima buku reflektif bagi pembaca yang merasa kehilangan arah, masing-masing menawarkan cara baru memahami diri dan kehidupan tanpa memberi solusi instan.
  • Buku-buku seperti Upstream, The Midnight Library, dan Four Thousand Weeks mengajak pembaca meninjau ulang pola pikir tentang masalah, pilihan hidup, serta keterbatasan waktu secara lebih jujur dan realistis.
  • Ikigai dan Lost Connections menyoroti pentingnya menemukan makna sederhana dalam keseharian serta membangun kembali koneksi dengan diri, orang lain, dan tujuan hidup agar rasa hampa berkurang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja dari luar sedang benar-benar baik-baik saja di dalam. Ada fase dalam hidup ketika semua pilihan terasa sama beratnya dan langkah ke depan tidak terlihat sejelas yang diharapkan. Perasaan itu bukan tanda kelemahan dan bukan sesuatu yang harus buru-buru diselesaikan dengan paksa.

Kadang yang paling dibutuhkan bukan jawaban, tapi teman berpikir yang tidak menghakimi dan tidak terburu-buru memberi solusi. Buku-buku ini tidak akan menyuruhmu melakukan apa-apa, tapi mereka bisa membantu kamu melihat sesuatu yang selama ini luput dari pandangan. Kalau sedang di fase itu, lima rekomendasi buku untuk kamu yang lagi hilang arah berikut ini layak dibaca.

1. Upstream — Dan Heath

Buku Upstream
Buku Upstream (dok. Penguin Book /Upstream)

Sebagian besar orang menghabiskan energinya untuk mengatasi masalah yang sudah terlanjur terjadi tanpa pernah berhenti untuk bertanya mengapa masalah itu terus muncul. Dan Heath menyebut pendekatan ini sebagai berpikir ke hilir, merespons krisis yang sudah ada di depan mata tanpa menyentuh akar masalahnya. Buku ini mengajak pembaca untuk berbalik arah dan mulai melihat ke hulu, ke tempat masalah sebenarnya bermula sebelum sempat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Heath menggunakan banyak contoh nyata dari berbagai bidang, mulai dari kesehatan publik hingga pendidikan, untuk menunjukkan bagaimana perubahan kecil di titik yang tepat bisa mencegah masalah besar di kemudian hari. Cara berpikirnya terasa sangat applicable untuk kehidupan pribadi, terutama bagi kamu yang merasa selalu sibuk memadamkan api tapi tidak pernah punya waktu untuk memikirkan kenapa api itu terus menyala. Buku ini tidak memberi peta jalan yang spesifik, tapi mengubah cara kamu mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri.

2. The Midnight Library — Matt Haig

Buku The Midnight Library
Buku The Midnight Library (dok. Penguin Book /The Midnight Library)

Novel ini bercerita tentang Nora Seed, seorang perempuan yang menemukan sebuah perpustakaan ajaib di antara hidup dan mati. Di perpustakaan itu tersimpan buku-buku yang masing-masing berisi versi hidupnya yang berbeda, semua pilihan yang tidak pernah ia ambil dan semua jalan yang tidak pernah ia tempuh. Haig menggunakan premis itu untuk mengeksplorasi pertanyaan yang banyak orang hindari: apakah hidup yang berbeda benar-benar akan terasa lebih baik daripada hidup yang sekarang.

Buku ini ditulis dengan ringan dan cepat dibaca, tapi pertanyaan-pertanyaan yang ia tinggalkan tidak ringan sama sekali. Nora belajar sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari buku motivasi mana pun karena ia harus melihatnya sendiri dengan cara yang tidak bisa disederhanakan menjadi poin-poin bullet. Membaca The Midnight Library di saat sedang hilang arah terasa seperti diajak duduk sejenak dan melihat hidup yang sedang dijalani dari jarak yang lebih jujur.

3. Four Thousand Weeks — Oliver Burkeman

Buku Four Thousand Weeks
Buku Four Thousand Weeks (dok. Penguin Book /Four Thousand Weeks)

Judul buku ini berasal dari perkiraan jumlah minggu yang dimiliki manusia jika hidup sampai usia delapan puluh tahun. Angka itu terdengar banyak sampai kamu menyadari bahwa sebagian besar minggu itu sudah terpakai dan sebagian besar sisanya akan habis untuk hal-hal yang tidak pernah benar-benar kamu pilih secara sadar. Burkeman memulai buku ini bukan dengan tips produktivitas, melainkan dengan pengakuan jujur bahwa kamu tidak akan pernah bisa menyelesaikan semua yang ingin diselesaikan dan justru di situlah titik mulai yang sebenarnya.

Buku ini adalah kritik terhadap obsesi manusia modern terhadap efisiensi dan produktivitas yang tidak pernah terasa cukup. Burkeman berargumen bahwa ketenangan tidak datang dari berhasil mengelola waktu dengan sempurna, tapi dari berdamai dengan kenyataan bahwa waktu selalu terbatas dan pilihan selalu ada harganya. Cara ia menyampaikan argumen itu terasa tidak menggurui, lebih seperti obrolan jujur dari seseorang yang juga pernah terjebak dalam ilusi yang sama.

4. Ikigai — Héctor García & Francesc Miralles

Buku Ikigai
Buku Ikigai (dok. Penguin Book /Ikigai )

Ikigai adalah konsep dari Jepang yang secara sederhana bisa diartikan sebagai alasan untuk bangun pagi. García dan Miralles menelusuri konsep ini langsung ke Okinawa, salah satu wilayah dengan penduduk berusia panjang tertinggi di dunia, dan mencoba memahami apa yang membuat orang-orang di sana merasa hidupnya bermakna jauh melampaui usia rata-rata. Hasilnya bukan daftar rahasia panjang umur, melainkan gambaran tentang bagaimana cara menjalani hari-hari dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang benar-benar worth it untuk dilakukan.

Buku ini tipis dan bisa habis dalam satu atau dua sesi baca, tapi efeknya terasa lebih lama dari ketebalannya. Salah satu bagian yang paling membekas adalah penjelasan tentang bagaimana ikigai tidak harus berupa sesuatu yang besar atau dramatis, ia bisa sekecil secangkir teh di pagi hari atau percakapan dengan seseorang yang kamu sayangi. Bagi kamu yang sedang merasa hidupmu kurang memiliki arah, buku ini membantu memperkecil skala pertanyaan menjadi sesuatu yang lebih bisa dijawab hari ini.

5. Lost Connections — Johann Hari

Buku Lost Connections
Buku Lost Connections (dok. Bloomsburry /Lost Connections)

Johann Hari menulis buku ini setelah bertahun-tahun mengonsumsi antidepresan dan menyadari bahwa obat itu tidak pernah benar-benar menyentuh akar dari apa yang ia rasakan. Ia kemudian melakukan perjalanan panjang untuk menemui berbagai orang di berbagai negara dan mencari tahu apa yang sebenarnya ada di balik perasaan kehilangan arah dan kesedihan yang tidak jelas asalnya. Temuannya mengejutkan bukan karena bersifat radikal, tapi karena terasa sangat masuk akal setelah dibaca.

Hari berargumen bahwa banyak perasaan kehilangan makna yang dialami orang modern bukan semata-mata soal ketidakseimbangan kimia di otak, melainkan soal terputusnya koneksi terhadap hal-hal yang membuat hidup terasa berarti. Koneksi itu mencakup hubungan dengan orang lain, dengan pekerjaan yang bermakna, dengan nilai-nilai yang dipegang, hingga dengan masa depan yang terasa mungkin untuk dicapai. Buku ini tidak anti-pengobatan dan tidak menyederhanakan masalah kesehatan mental, tapi ia membuka percakapan yang lebih luas tentang kenapa begitu banyak orang merasa hilang di tengah dunia yang katanya semakin maju.

Hilang arah bukan kondisi permanen meski kadang terasa seperti itu. Otak yang kelelahan butuh input yang berbeda untuk bisa melihat jalan yang sebelumnya tidak terlihat. Rekomendasi buku untuk kamu yang lagi hilang arah akan membuka cara pandang yang berbeda sehingga sesuatu mulai terlihat lebih jelas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More