Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Resensi Buku Kampus Meretas Batas, Harapan bagi Pendidikan Bangsa

Resensi Buku Kampus Meretas Batas, Harapan bagi Pendidikan Bangsa
Cover buku Kampus Meretas Batas. (dok. Ina Sanjaya)
Intinya Sih
  • Buku 'Kampus Meretas Batas' karya J. Satrijo Tanudjojo menyoroti perjalanan dan visi President University sebagai jawaban atas tantangan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan global yang terus berubah.
  • Karya ini menekankan pentingnya membangun institusi pendidikan berbasis data, keterbukaan global, serta pembentukan karakter dan integritas mahasiswa agar siap menghadapi berbagai aspek kehidupan.
  • Meski masih bisa diperkaya dengan sudut pandang eksternal, buku ini menggambarkan optimisme terhadap transformasi pendidikan Indonesia menuju standar internasional melalui keberanian dan idealisme pendirinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Resensi buku oleh: Ina Sanjaya

Buku Kampus Meretas Batas karya J. Satrijo Tanudjojo tidak sekadar menceritakan perjalanan sebuah institusi pendidikan, melainkan menghadirkan refleksi yang lebih luas mengenai arah dan masa depan pendidikan tinggi di Indonesia. Karena itu, buku ini menjadi menarik untuk dibahas. Buku ini menunjukkan bagaimana President University hadir sebagai sebuah upaya untuk menjawab tantangan zaman di tengah sistem pendidikan yang sering dianggap belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan dunia yang terus berubah.

Bagi saya, hal yang paling penting dari buku ini bukan semata sejarah berdirinya President University, melainkan latar belakang pemikiran di balik pendiriannya: mengapa universitas ini dibangun, nilai apa yang ingin diperjuangkan, dan strategi apa yang diterapkan agar pendidikan benar-benar mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi realitas global.

1. Nuansa internasional di President University

Fasilitas kantin di President University (president.ac.id)
Fasilitas kantin di President University (president.ac.id)

Nama President University sendiri sebenarnya sudah cukup akrab di telinga saya. Banyak teman saya merupakan alumninya dan kini berkarier dengan baik di bidang masing-masing. Yang paling menonjol dari kampus ini adalah nuansa internasionalnya — banyaknya mahasiswa asing, keberadaan asrama kampus yang relatif jarang ditemukan di Indonesia, serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama. Hal-hal tersebut membuat President University terasa berbeda dan, pada masanya, revolusioner.

Di tengah kekhawatiran akan semakin banyaknya lulusan yang kesulitan menghadapi dunia kerja, President University hadir membawa pendekatan yang lebih praktis dengan kebutuhan industri dan perkembangan global. Buku ini memperlihatkan bagaimana visi tersebut lahir dari kegelisahan pendirinya, SD Darmono beserta para koleganya, yang melihat bahwa institusi pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama jika ingin tetap relevan dengan perkembangan zaman.

2. Kekuatan buku Kampus Meretas Batas

President University (president.ac.id)
President University (president.ac.id)

Salah satu kekuatan buku ini adalah keberhasilannya menunjukkan bahwa pembangunan institusi pendidikan tidak hanya bertumpu pada idealisme, tetapi juga pada keberanian mengambil keputusan berbasis data, keterbukaan terhadap masukan global, serta disiplin dalam membangun budaya institusi. Berbagai cerita mengenai pendirian asrama, pentingnya integritas, hingga keterbukaan untuk belajar dari pakar pendidikan dunia menjadi bagian yang memperkaya isi buku ini.

Fakta menarik yang membuat President University mengambil langkah yang tak hanya beresiko tinggi, tapi juga sangat “merepotkan”, untuk membangun Fakultas Kedokteran yang layak - tidak ada rotan akar berguna.

Awalnya saya sempat berpikir bahwa buku ini terlalu berfokus pada pembentukan lulusan profesional untuk dunia kerja. Saya bertanya dalam hati: mengapa tidak lebih banyak mendorong kewirausahaan? Namun semakin membaca, saya menyadari bahwa esensi yang ingin dibangun sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan pekerja profesional. Yang ingin dibentuk adalah manusia yang siap menghadapi kehidupan — baik di dunia kerja, dunia wirausaha, dunia akademik, maupun kehidupan pribadi. Pendidikan di sini tidak hanya dipahami sebagai pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan cara berpikir.

Mungkin kutipan dari Winston Churchill ini jadi salah satu dasar utama pendiri mendirikan institusi pendidikan ini:

“The first duty of a university is to teach character, not technicalities.”

Salah satu bagian favorit saya adalah halaman “fun fact” di akhir beberapa chapter dengan warna merah jingga yang khas. Selain informatif, bagian tersebut sering kali ringan dan jenaka, sehingga membuat buku ini terasa hidup dan tidak membosankan, terutama bagi pembaca yang memerlukan selingan di tengah membaca buku yang cukup reflektif dan serius.

3. Pentingnya memilih sebuah nama untuk turut dihadirkan

Cover buku Kampus Meretas Batas (dok. Ina Sanjaya)
Cover buku Kampus Meretas Batas (dok. Ina Sanjaya)

Meski demikian, sebagai sebuah karya reflektif institusional, buku ini menurut saya juga dapat diperkaya lebih jauh dengan menghadirkan lebih banyak sudut pandang kritis dari luar institusi. Misalnya, bagaimana tantangan mempertahankan idealisme di tengah realitas bisnis pendidikan tinggi, atau bagaimana memastikan aksesibilitas pendidikan berkualitas bagi kelompok ekonomi yang lebih luas. Kehadiran perspektif-perspektif seperti itu mungkin akan membuat diskusi di dalam buku menjadi semakin utuh dan mendalam.

Terlepas dari itu, buku ini berhasil menunjukkan besarnya mimpi dan kegigihan perjuangan dalam membangun sebuah institusi pendidikan yang ingin berbeda. Saya dapat merasakan optimisme bahwa pendidikan Indonesia masih memiliki ruang untuk bertumbuh dan bertransformasi.

Bukan tidak mungkin Indonesia memiliki institusi pendidikan tinggi yang bertaraf internasional pada suatu saat. Hal ini membuat saya optimis dengan masa depan bangsa ini. Tentu, harus di tangan orang yang tepat. Mungkin terdengar klise, tetapi ketika membaca buku ini saya diingatkan kembali bahwa perubahan besar sering kali berawal dari keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik. Dan di balik setiap transformasi pendidikan, selalu ada harapan — harapan bahwa generasi berikutnya dapat hidup lebih siap, lebih bermakna, dan lebih manusiawi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari

Related Articles

See More