President University (president.ac.id)
Salah satu kekuatan buku ini adalah keberhasilannya menunjukkan bahwa pembangunan institusi pendidikan tidak hanya bertumpu pada idealisme, tetapi juga pada keberanian mengambil keputusan berbasis data, keterbukaan terhadap masukan global, serta disiplin dalam membangun budaya institusi. Berbagai cerita mengenai pendirian asrama, pentingnya integritas, hingga keterbukaan untuk belajar dari pakar pendidikan dunia menjadi bagian yang memperkaya isi buku ini.
Fakta menarik yang membuat President University mengambil langkah yang tak hanya beresiko tinggi, tapi juga sangat “merepotkan”, untuk membangun Fakultas Kedokteran yang layak - tidak ada rotan akar berguna.
Awalnya saya sempat berpikir bahwa buku ini terlalu berfokus pada pembentukan lulusan profesional untuk dunia kerja. Saya bertanya dalam hati: mengapa tidak lebih banyak mendorong kewirausahaan? Namun semakin membaca, saya menyadari bahwa esensi yang ingin dibangun sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan pekerja profesional. Yang ingin dibentuk adalah manusia yang siap menghadapi kehidupan — baik di dunia kerja, dunia wirausaha, dunia akademik, maupun kehidupan pribadi. Pendidikan di sini tidak hanya dipahami sebagai pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan cara berpikir.
Mungkin kutipan dari Winston Churchill ini jadi salah satu dasar utama pendiri mendirikan institusi pendidikan ini:
“The first duty of a university is to teach character, not technicalities.”
Salah satu bagian favorit saya adalah halaman “fun fact” di akhir beberapa chapter dengan warna merah jingga yang khas. Selain informatif, bagian tersebut sering kali ringan dan jenaka, sehingga membuat buku ini terasa hidup dan tidak membosankan, terutama bagi pembaca yang memerlukan selingan di tengah membaca buku yang cukup reflektif dan serius.