Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Risiko Kesehatan Mental Punya Tetangga Pasutri yang Bertengkar Terus
ilustrasi pertengkaran suami istri (pexels.com/Afif Ramdhasuma)
  • Pertengkaran tetangga yang terus terdengar dapat memicu stres, overthinking, kecemasan, hingga insomnia meski masalah rumah tangga tersebut tidak melibatkan diri sendiri.
  • Teriakan, bantingan, ancaman, dan suara benturan mengganggu ketenangan rumah serta menurunkan konsentrasi untuk beristirahat, belajar, bekerja, atau menjalankan aktivitas harian.
  • Tetangga dapat ikut terseret konflik, merasa tertolak oleh sikap dingin pasangan, dan disarankan menjauh dari sumber kebisingan; warga bisa menegur bila keributan sudah keterlaluan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagaimana watak tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumahmu? Kamu beruntung jika dikelilingi oleh tetangga yang baik dan kehidupan sehari-harinya relatif tenang. Ketenangan mereka seakan-akan menular ke hidupmu.

Sebaliknya, jika dirimu bertetangga dengan pasangan suami istri yang cekcok terus, pasti hidupmu jauh dari tenang. Padahal, kamu sebenarnya gak punya masalah apa-apa. Pengaruh kehidupan rumah tangga tetangga yang ribut melulu memang besar.

Sekalipun kehidupanmu relatif lancar dalam segala hal, kamu bisa tetap stres. Ada beban mental yang besar setiap kali dirimu mendengar keributan mereka. Bahkan jantung ikut berdebar-debar karenanya. Tanpa berminat ikut campur pun, kamu akan mengalami lima risiko kesehatan mental punya tetangga pasutri yang bertengkar terus berikut ini.

1. Transfer masalah

ilustrasi stres tidak bisa tidur (pexels.com/SHVETS production)

Kamu gak terlibat cekcok. Bahkan masalah yang diributkan di rumah sebelah adalah persoalan internal di antara pasangan suami istri tersebut. Akan tetapi, suara pertengkaran yang sampai ke rumahmu membuatnya seakan-akan masalahmu juga.

Bukan karena kamu terlalu peduli. Namun, tidak mudah untuk siapa pun gak kepikiran saat dihadapkan pada rangsangan yang kuat dan terus-menerus. Dari kalimat-kalimat yang diteriakkan mereka, dirimu langsung tahu apa saja masalahnya.

Sedikit-banyak kamu bakal ikut memikirkannya. Apalagi jika dirimu tipe pemikir. Kamu tidak diminta untuk membantu menengahi, apalagi menyelesaikan masalah mereka. Pikiran tetap terasa berat. Bahkan orang yang supercuek juga lama-lama bisa overthinking jika kegaduhan di rumah tetangga terus berlangsung.

2. Cemas kalau-kalau sesuatu yang sangat buruk terjadi

ilustrasi pertengkaran suami istri (pexels.com/MART PRODUCTION)

Perasaan cemas sebagai tetangga terdekat akan muncul jika pertengkaran terdengar sangat mengkhawatirkan. Misalnya, terdengar suara benturan berulang pada dinding. Ini dapat menjadi sinyal bahwa telah terjadi tindakan yang mengarah pada kekerasan fisik.

Entah salah seorang didorong hingga menghantam tembok atau malah kepalanya dibenturkan ke sana. Begitu pula suara barang-barang yang dilempar. Kamu mungkin juga mendengar kalimat ancaman yang membahayakan nyawa atau bernada kebencian mendalam.

Pertengkaran juga terjadi tak pandang waktu. Bila siang hari saja ribut besar, dirimu menjadi takut kalau-kalau di malam hari salah satu dari pasangan itu atau keduanya makin nekat. Kamu dapat mengalami insomnia karena memikirkannya.

3. Rusaknya ketenangan di rumah karena teriakan dan bantingan

ilustrasi stres tidak bisa bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Suara pasangan suami istri yang bertengkar hebat memang sangat tidak menyenangkan untuk didengar. Di rumahmu barangkali televisi saja tidak ada. Kamu juga gak pernah menyalakan musik dengan volume kencang.

Bahkan bila ada anak-anak di rumahmu, mereka dapat bermain dengan tenang serta jarang rewel. Seharusnya rumahmu menjadi hunian yang damai. Akan tetapi, polusi suara dari keributan tetangga menghancurkan ketenangan itu.

Terlebih, rumah kalian hanya terpisah oleh dinding. Suara ribut-ribut menjadi sangat jelas. Kamu hendak melakukan apa pun, rasanya kurang bisa berkonsentrasi. Dirimu membaca novel saja lupa terus dengan cerita sebelumnya, apalagi buat belajar atau bekerja di rumah.

4. Kamu sebagai tetangga bisa tiba-tiba terseret

ilustrasi pertengkaran suami istri (pexels.com/Timur Weber)

Dua orang yang sedang stres berat karena masalah mereka sendiri sangat mudah menyeret siapa pun. Contohnya, di lingkungan tempat tinggalmu dipercaya untuk menarik iuran kebersihan, keamanan, dan sebagainya. Salah satu masalah yang diributkan oleh tetanggamu ialah finansial.

Kamu mengetuk pintu rumah mereka hanya untuk menjalankan tugas rutin, tapi malah ikut kena semprot. Seakan-akan dirimu berperan dalam membuat keluarga mereka terjerat dalam masalah keuangan. Saat salah satu dari mereka berinisiatif untuk tetap membayar iuran, pasangannya gak terima.

Setelah pintu ditutup pun, kamu dapat mendengar namamu disebut-sebut dalam cekcok keduanya. Kondisi begini tentu bikin dirimu sebenarnya sangat malas berinteraksi dengan mereka. Mending pura-pura gak kenal sekalian daripada terbawa ke persoalan tetangga.

5. Raut wajah pasangan yang kusut membuatmu merasa tertolak

ilustrasi stres mendengar pertengkaran (pexels.com/cottonbro studio)

Risiko kesehatan mental punya tetangga pasutri yang bertengkar terus adalah dirimu menjadi merasa tertolak. Kamu tahu bahwa orang lain gak punya kewajiban untuk beramah tamah denganmu. Dirimu juga sadar tidak bisa terlalu ramah pada semua orang. Akan tetapi, bukan berarti kamu bisa merasa baik-baik saja saat mendapati raut wajah tetangga yang sangat kusut.

Mereka sama sekali tidak tersenyum padamu. Bahkan kamu sudah terlebih dahulu tersenyum atau menyapa tetangga. Mereka diam saja, seakan-akan mengabaikanmu atau memandangmu, tapi gak melakukan apa-apa.

Tanggapan yang sedingin ini akan membuatmu merasa tertolak. Seolah-olah kamu punya kesalahan pada mereka. Kalau kamu mudah gak enakan, justru berujung pada menyalahkan diri. Kamu takut jangan-jangan pernah berbuat buruk pada mereka sehingga sikapnya seperti itu.

Usaha untuk cawe-cawe dalam masalah rumah tangga orang jelas tak mungkin dilakukan. Kamu juga tidak bisa seenaknya menyuruh mereka pindah dari rumah mereka sendiri. Dirimu dan warga lain baru dapat menegur jika keributannya sudah sangat keterlaluan.

Itu pun biasanya tak langsung mengakhiri rutinitas mereka bertengkar. Selebihnya, kamu bisa mencoba beraktivitas di titik yang lebih jauh dari tembok tetangga begitu mulai terdengar cekcok. Ini mengurangi polusi suara yang membuat suasana hatimu ikut memburuk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article