"Dukungan terhadap otonomi mengacu pada dukungan aktif terhadap kemampuan anak untuk berinisiatif sendiri dan bersikap otonom; hal ini merupakan salah satu dari tiga komponen kunci dalam keberhasilan pengasuhan (dua komponen lainnya adalah keterlibatan dan struktur). Ketika orangtua ingin mendorong anak melakukan aktivitas tertentu, dukungan terhadap otonomi hadir jika tujuannya adalah menumbuhkan regulasi diri yang otonom, bukan sekadar kepatuhan semata," demikian laporan jurnal A Self-Determination Theory Perspective on Parenting dikutip Canadian Psychological Association.
5 Karakter Upin & Ipin yang Bisa Ditiru untuk Bentuk Kemandirian Anak

Upin & Ipin bukan hanya tontonan yang menghibur lewat tingkah lucu dan kehidupan mereka di Kampung Durian Runtuh. Dalam berbagai cerita, si kembar ini juga memperlihatkan bagaimana anak belajar bertanggung jawab, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan menghadapi tantangan sehari-hari. Hal-hal sederhana inilah yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi anak.
Kemandirian pada anak tidak berarti harus bisa melakukan semuanya sendirian tanpa bantuan. Melalui karakter Upin & Ipin dan teman-temannya, orangtua bisa mengenalkan nilai-nilai mereka dengan cara yang dekat, menyenangkan, dan mudah dipahami.
1. Upin dan Ipin: Belajar mencoba melakukan sesuatu sendiri

Potret karakter Upin dan Ipin (lescopaque.com) Upin dan Ipin merupakan karakter yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Dalam berbagai cerita, mereka sering terlibat dalam kegiatan sederhana, seperti bermain, membantu orang dewasa, mengikuti aktivitas sekolah, hingga menyelesaikan persoalan bersama teman.
Meskipun tidak selalu berhasil pada percobaan pertama, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa anak belajar melalui proses mencoba. Karakter mereka bisa menjadi contoh bahwa kemandirian tidak harus dimulai dari tugas besar.
Anak dapat dilatih melakukan hal-hal sederhana sesuai usianya, seperti merapikan mainan, menyiapkan perlengkapan sekolah, atau memilih pakaian sendiri. Orangtua sebaiknya memberi kesempatan sebelum buru-buru mengambil alih.
2. Mail: Mengajarkan tanggung jawab dan sikap berusaha

Mail (dok. Les' Copaque Production/Upin Ipin) Mail dikenal sebagai salah satu karakter yang punya jiwa dagang dan cukup mandiri dalam mengelola usahanya. Ia sering digambarkan memikirkan cara menawarkan barang, menghitung keuntungan, dan mencari peluang. Walaupun tingkahnya terkadang lucu dan cara berpikirnya masih khas anak-anak, karakter ini dapat dikaitkan dengan nilai tanggung jawab dan inisiatif.
Dari Mail, anak bisa belajar bahwa memiliki tugas berarti perlu berusaha menyelesaikannya. Contohnya, anak dapat diberi tanggung jawab kecil seperti membereskan meja setelah makan, menyimpan alat tulis, atau membantu menyiapkan kebutuhan sederhana di rumah. Tugas tersebut sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan tidak dijadikan beban berlebihan.
Kemandirian juga berkembang ketika anak memahami bahwa tindakannya memiliki konsekuensi. Jika anak lupa menyimpan mainan misalnya, ia bisa diajak memikirkan cara menemukannya kembali atau membuat kebiasaan merapikan setelah bermain. Orangtua tidak harus selalu menyelesaikan masalah tersebut, tetapi dapat mendampingi proses berpikirnya.
3. Fizi: Berani mengungkapkan pendapat dan menghadapi kesulitan

Fizi (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Fizi merupakan karakter yang sering memperlihatkan berbagai emosi, mulai dari rasa takut, malu, sedih, hingga keinginan untuk diterima oleh teman-temannya. Sisi ini justru menarik untuk dibahas karena kemandirian bukan hanya soal mampu melakukan pekerjaan sendiri, tetapi juga belajar mengenali perasaan dan menyampaikan kebutuhan.
Anak yang mandiri tidak harus selalu berani dalam setiap situasi. Ia tetap boleh merasa takut atau membutuhkan bantuan. Yang penting, anak perlahan belajar mengatakan apa yang dirasakan, meminta pertolongan ketika perlu, dan mencoba menghadapi masalah tanpa langsung menyerah.
Orangtua dapat mendukung proses tersebut dengan mengajak anak berbicara. Misalnya, ketika anak takut tampil di depan kelas, orangtua bisa bertanya, “Apa yang membuat kamu takut?” lalu membantu mencari langkah kecil yang bisa dicoba. Cara ini lebih membangun daripada memaksa anak untuk langsung berani.
4. Ehsan: Belajar percaya diri dan mengambil keputusan

Ehsan (Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Ehsan sering digambarkan sebagai karakter yang percaya diri, suka menunjukkan kemampuan, dan memiliki kepribadian yang cukup menonjol. Meski terkadang tingkahnya berlebihan, sisi tersebut dapat menjadi bahan diskusi tentang pentingnya rasa percaya diri dan keberanian mengambil keputusan.
Anak perlu belajar bahwa pendapatnya memiliki nilai, tetapi juga harus memahami bahwa tidak semua keinginannya bisa langsung dipenuhi. Misalnya, orangtua dapat memberikan pilihan sederhana: memilih buku yang ingin dibaca, menentukan urutan mengerjakan tugas, atau memilih aktivitas akhir pekan dari beberapa opsi yang tersedia.
Pemberian pilihan sebaiknya tetap disertai batasan yang jelas. Anak tidak harus menentukan semua hal sendiri, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan. Dalam konteks ini, kemandirian bukan berarti bebas tanpa aturan, melainkan belajar membuat keputusan di dalam lingkungan yang aman.
Penelitian tentang dukungan otonomi pada anak usia prasekolah yang diterbitkan dalam Early Child Development and Care menjelaskan bahwa orangtua dapat mendorong kemandirian melalui bimbingan positif, respons terhadap pertanyaan anak, dan pengurangan kontrol negatif. Penelitian tersebut juga mengaitkan dukungan otonomi dengan perkembangan regulasi emosi dan hubungan sosial anak.
"Salah satu aspek penting dalam hubungan orangtua-anak adalah pemberian dukungan otonomi. Pada masa kanak-kanak awal, orangtua memberikan dukungan otonomi melalui perilaku yang mendorong kemandirian anak dalam membuat pilihan, memecahkan masalah, serta mendasarkan keputusan dan tindakan pada minat mereka," demikian laporannya dikutip dari National Library of Medicine.
"Para ahli teori penentuan nasib sendiri (self-determination theory) berpendapat bahwa orangtua memainkan peran penting dalam mendukung otonomi anak melalui perilaku yang meningkatkan kemandirian dan mendorong perkembangan positif (misalnya, pemberian dorongan, perilaku yang tidak bersifat mengontrol, dan responsivitas). Dukungan otonomi dari orangtua pada gilirannya memberikan dampak positif yang bertahan lama terhadap hubungan sosial dan regulasi emosi anak," lanjutnya.
5. Opah: Mengajarkan kemandirian dengan bimbingan dan kasih sayang

Opah (youtube.com/ Les' Copaque Production) Opah merupakan sosok nenek yang hangat, sabar, dan sering menjadi tempat Upin serta Ipin mendapatkan nasihat. Karakternya memperlihatkan bahwa mendidik anak tidak harus dilakukan dengan cara keras. Bimbingan yang penuh perhatian justru dapat membantu anak merasa aman ketika belajar melakukan sesuatu sendiri.
Dalam kehidupan nyata, orangtua atau pengasuh bisa meniru pendekatan Opah dengan memberikan arahan yang jelas, tetapi tidak langsung mengerjakan semua hal untuk anak. Misalnya, ketika anak kesulitan mengancingkan baju, orang dewasa dapat menunjukkan caranya terlebih dahulu, lalu membiarkan anak mencoba. Bantuan diberikan ketika memang diperlukan.
Kemandirian juga perlu dibangun melalui rutinitas. Anak bisa dilibatkan dalam kegiatan rumah sesuai usia, seperti menaruh pakaian kotor pada tempatnya, membawa piring ke dapur, menyiram tanaman dengan pengawasan, atau menyiapkan tas sekolah. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang dapat membantu anak memahami tanggung jawab.
Karakter Upin & Ipin dan teman-temannya bisa menjadi media sederhana untuk mengenalkan nilai kemandirian kepada anak. Orangtua dapat mengajak anak menonton, berdiskusi, lalu menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan kegiatan kecil di rumah agar kemandirian tumbuh secara bertahap dan sesuai usia.














![[QUIZ] Apakah Kamu Termasuk Orang yang Tone-Deaf?](https://image.idntimes.com/post/20240627/pexels-olly-3808012-0b6997c8ae2ba547b4f3e41dce3440bf.jpg)





