Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saat Teman Menyakitimu, Kapan Harus Memaafkan dan Pergi?
ilustrasi mengobrol dengan teman (pexels.com/Cliff Booth)
  • Sebelum memutuskan, nilai frekuensi pengkhianatan: kesalahan sekali dengan permintaan maaf tulus dan rencana berubah dapat dipertimbangkan, sedangkan pola berulang patut diberi jarak.
  • Pertimbangkan apakah kamu bisa melanjutkan pertemanan tanpa dendam. Luka yang belum selesai berpotensi membuat hubungan tidak nyaman dan memicu konflik lagi.
  • Perbaikan layak dicoba bila teman mendengarkan, bertanggung jawab, dan menghargai batasan. Jaga jarak jika pengkhianatan berulang atau usaha memperbaiki hubungan hanya datang dari satu pihak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hubungan pertemanan atau persahabatan gak selalu berjalan mulus. Ada kalanya, orang yang dianggap dekat justru melakukan sesuatu yang menyakiti hati dan membuat kita kecewa. Dalam situasi seperti ini, muncul dilema: haruskah memaafkan atau memilih pergi dan menjaga jarak?

Memaafkan memang bisa menjadi cara untuk berdamai dengan keadaan, tetapi bukan berarti harus kembali seperti semula. Ada beberapa hal fatal yang terkadang sulit untuk diterima hingga membuat sebuah hubungan jadi retak. Sebelum mengambil keputusan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar pilihan yang diambil tetap baik untuk diri sendiri dan hubungan ke depannya.

1. Pertimbangkan frekuensi kekecewaan yang kamu dapat dari temanmu

ilustrasi perempuan menangis (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Rasa sakit dan kecewa akibat pengkhianatan sering kali sulit untuk ditangani, apalagi dari orang terdekat yang sudah dipercaya. Itulah kenapa, muncul pertanyaan apakah harus memaafkan atau sebaiknya pergi menjauh?

Menurut Kiki Ramsey, psikolog, dilansir Verywell Mind, sebelum memutuskan untuk memperbaiki atau mengakhiri pertemanan, kamu perlu pertimbangkan frekuansi pengkhiatan yang dilakukannya. Ingat-ingat kembali apakah hal tersebut baru terjadi sekali atau itu sudah menjadi kebiasaan yang terus terulangi.

"Jika ini hanya kejadian sekali saja disertai permintaan maaf yang tulus dan rencana perubahan, membangun kembali pertemanan mungkin layak dipertimbangkan," paparnya.

Namun sebaliknya, jika pola tersebut terus berualang, maka pertimbangkan untuk mulai memberi jarak pertemanan kalian. Saat gak ada penyesalan atau kemauan untuk berubah dari temanmu, mungkin akan lebih baik untuk kamu menginvestasikan energi kepada hal lain.

2. Tanyakan pada diri sendiri, bisakah kamu berteman dengan seseorang tanpa menyimpan dendam?

ilustrasi curhat dengan teman (pexels.com/Edmond Dantès)

Dalam persahabatan, saling memaafkan adalah hal yang wajar. Terluka oleh perkataan atau tindakan teman, bahkan sahabat dekat, juga bisa terjadi dalam sebuah hubungan.

Leadership coach, Antoinette Beauchamp, dikutip dari PsychCentral, menjelaskan, "Perilaku seseorang yang menyakiti kita sering kali berkaitan dengan masalah atau pengalaman buruk yang sedang mereka hadapi, bukan semata-mata karena diri kita".

Karena itu, sebelum memutuskan untuk tetap berteman, coba tanyakan pada diri sendiri, bisakah kamu tetap berteman tanpa menyimpan rasa kesal atau dendam. Jika luka tersebut sulit dimaafkan, hubungan pertemanan mungkin akan terasa gak nyaman. Rasa sakit yang belum selesai juga bisa muncul kembali dan memicu konflik di kemudian hari.

3. Kapan harus mempertimbangkan untuk memperbaiki pertemanan?

ilustrasi teman (pexels.com/Allan Mas)

Keputusan untuk memperbaiki persahabatan bergantung pada seberapa berarti hubungan tersebut bagimu dan apakah kamu bersedia melewati rasa sakit yang terjadi, kata Dr. Harold Hong, psikiater, dalam PsychCenter. Jadi, gak ada jawaban yang sama untuk setiap orang. Kamu perlu mempertimbangkan perasaan dan nilai hubungan tersebut sebelum mengambil keputusan.

Perhatikan juga respons teman saat kamu membicarakan masalahnya. Jika mereka terus bersikap defensif, gak mau bertanggung jawab, atau mengabaikan perasaanmu, mungkin sudah waktunya mempertimbangkan kembali hubungan tersebut. Jangan sampai mempertahankan persahabatan justru membuatmu kehilangan diri sendiri.

Sebaliknya, jika temanmu mau mendengarkan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf dengan tulus, persahabatan masih bisa diperbaiki. Kamu gak perlu terburu-buru kembali seperti sebelumnya. Beri dirimu waktu untuk pulih dan kembali berteman ketika sudah merasa benar-benar siap.

4. Hal yang harus dikatakan kepada teman yang sudah menyakitimu

ilustrasi berbicara dengan teman (pexels.com/SHVETS production)

Rasanya mungkin berat mengungkapkan bahwa berat untuk bersikap biasa saja kepada teman yang sudah menyakitimu. Itulah kenapa, Dr. Nereida Gonzalez-Berrios, seorang psikiater, melalui PsychCentral, menyarankan untuk merencanakan dan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu atau berbicara dengan temanmu agar perasaan tersebut gak meluap-luap.

Selain itu, Berrios juga merekomendasikan untuk lakukan hal-hal ini terlebih dahulu:

  • Persiapkan diri dan apa yang akan kamu katakan.

  • Tetap tenang saat menjelaskan bagaimana tindakan dia telah menyakitimu.

  • Beri kesempatan temanmu untuk memberikan penjelasan yang masuk akal dan dengarkan dengan baik.

  • Hindari berdebat, tetapi tetap tegas dalam menyampaikan sudut pandangmu.

  • Jelaskan dengan jelas batasan yang kamu miliki dalam hubungan tersebut.

5. Apakah harus memaafkan atau meninggalkan?

ilustrasi berbicara dengan teman (pexels.com/RDNE Stock project)

Memaafkan teman yang telah menyakiti hati memang gak selalu mudah dan mungkin membutuhkan waktu. Selain itu, hubungan juga belum tentu bisa kembali seperti sebelumnya dalam waktu singkat.

Jika kamu merasa persahabatan tersebut masih berharga dan kalian mau belajar dari kesalahan, gak ada salahnya mencoba memperbaiki hubungan. Persahabatan yang sehat juga dapat memberikan rasa bahagia dan dukungan, sehingga memperbaiki hubungan yang masih layak dipertahankan bisa membawa manfaat dalam jangka panjang.

Sebaliknya, sebaiknya pertimbangkan untuk menjaga jarak jika temanmu sering mengkhianati, gak menyesal atas kesalahannya, atau gak menghargai persahabatan. Hal ini juga berlaku jika usaha memperbaiki hubungan hanya dilakukan oleh satu pihak.

Memaafkan atau memilih pergi sama-sama bisa menjadi keputusan yang tepat. Yang terpenting, pilihlah langkah yang membuatmu lebih tenang, tetap menghargai diri sendiri, dan tidak mengorbankan batasan yang sudah kamu miliki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article