Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Mengajarkan Remaja Menetapkan Batasan dalam Hubungan

Cara Mengajarkan Remaja Menetapkan Batasan dalam Hubungan
ilustrasi remaja memotret minuman (pexels.com/pixabay)
  • Orangtua perlu membantu remaja mengenali rasa tidak nyaman dan kebutuhan pribadi sebagai dasar menetapkan batasan dalam pertemanan, keluarga, maupun hubungan romantis.
  • Remaja dapat dilatih menyampaikan batasan secara jelas melalui kalimat sederhana dan role-play, sambil memahami bahwa penolakan serta kenyamanan orang lain harus dihormati.
  • Batasan juga berlaku di ruang digital; remaja berhak menghentikan komunikasi, membatasi akses, memblokir akun, atau meminta bantuan saat privasi dan persetujuannya terganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Remaja mulai memiliki hubungan sosial yang semakin luas, mulai dari pertemanan, keluarga, hingga hubungan romantis. Di fase ini, mereka perlu memahami bahwa menjadi orang baik bukan berarti harus selalu mengikuti keinginan orang lain atau mengabaikan rasa tidak nyaman sendiri.

Karena itu, orangtua perlu mengajarkan remaja cara menetapkan batasan dalam hubungan. Kemampuan ini membantu mereka menyampaikan kebutuhan, menjaga diri, sekaligus menghargai batasan orang lain. Lantas, bagaimana cara mengajarkannya? Yuk, simak artikel berikut ini!

  1. 1. Bantu remaja mengenali perasaan, kebutuhan, dan rasa tidak nyaman

    ilustrasi orangtua menasihati anak
    ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/kindelmedia)

    Langkah pertama mengajarkan batasan adalah membantu remaja mengenali perasaan dan kebutuhannya dalam sebuah hubungan. Rasa takut, tertekan, atau tidak nyaman bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan dan disampaikan. Remaja juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan batasan yang berbeda.

    “Batasan pada dasarnya adalah memahami dan menghargai kebutuhan kita sendiri, sekaligus bersikap menghargai dan memahami kebutuhan orang lain,” ujar Stephanie Dowd, PsyD, psikolog klinis, dikutip dari Child Mind Institute.

    Orangtua bisa mengajak remaja membicarakan situasi yang membuat mereka tidak nyaman tanpa langsung menghakimi atau memberi solusi. Misalnya, tanyakan bagaimana perasaan mereka ketika teman memaksa, terus menghubungi, atau melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan. Cara ini membantu remaja lebih peka terhadap perasaan sendiri dan berani menyadari ketika batas pribadinya mulai terganggu.

  2. 2. Latih remaja mengucapkan batasan dengan jelas

    ilustrasi ibu dan anak sedang makan bersama
    ilustrasi ibu dan anak sedang makan bersama (pexels.com/cottonbro)

    Mengetahui batasan saja belum cukup jika remaja tidak tahu cara menyampaikannya. Orangtua bisa melatih mereka menggunakan kalimat sederhana seperti, “Aku gak nyaman dengan itu,” atau, “Tolong berhenti”. Latihan ini membuat remaja lebih siap menghadapi situasi ketika batasannya tidak dihormati.

    Rachel Busman, PsyD, psikolog klinis, menekankan pentingnya membantu anak memahami perasaan orang lain sekaligus menetapkan batasan. Orangtua bisa melakukan role-play berdasarkan situasi yang mungkin mereka hadapi bersama teman atau pasangan. Semakin sering berlatih, semakin terbiasa remaja menyuarakan kebutuhannya.

    “Yang kami inginkan adalah agar anak mulai mengembangkan kesadaran tentang bagaimana perasaan orang lain dan mulai menggunakannya sebagai panduan dalam berperilaku,” ujar Rachel Busman, PsyD, psikolog klinis, dikutip dari Child Mind Institute.

  3. 3. Ajarkan bahwa batasan berlaku dua arah

    ilustrasi dinner keluarga
    ilustrasi dinner keluarga (pexels.com/cottonbro)

    Menetapkan batasan bukan hanya soal berani mengatakan “tidak”, tetapi juga menghormati ketika orang lain mengatakannya. Remaja perlu memahami bahwa mereka tidak boleh menyentuh, memaksa, atau terus menghubungi seseorang yang sudah menunjukkan ketidaknyamanan. Dengan begitu, mereka belajar bila batasan yang ingin dihormati juga harus diberikan kepada orang lain.

    Orangtua bisa menjelaskannya melalui contoh dalam pertemanan atau hubungan romantis. Sesuatu yang menyenangkan bagi remaja belum tentu nyaman bagi orang lain sehingga penting untuk bertanya dan memperhatikan responsnya. Membiasakan hal ini juga membantu remaja melihat situasi dari sudut pandang orang lain dan mengembangkan empati.

    “Seorang anak mungkin ingin melompat ke punggung temannya karena menurutnya itu menyenangkan, tetapi jika ia tidak meluangkan waktu untuk bertanya apakah temannya bersedia dan memastikan temannya siap, kemungkinan seseorang akan terluka,” ujar Rachel Busman.

  4. 4. Berikan contoh dengan menghormati batasan remaja

    ilustrasi pria berdiri di tengah makan keluarga
    ilustrasi pria berdiri di tengah makan keluarga (pexels.com/askarabayev)

    Anak dan remaja banyak belajar dari perilaku orangtua. Karena itu, orangtua perlu memberi contoh dengan menghargai penolakan, pendapat, dan batasan anak. Cara ini membantu remaja memahami bahwa batasan merupakan bagian dari hubungan yang sehat.

    Misalnya, hargai ketika remaja membutuhkan waktu sendiri dan libatkan mereka dalam keputusan yang menyangkut dirinya. Tunjukkan juga kebiasaan mendengarkan tanpa langsung membantah. Dengan begitu, remaja memahami bahwa batasan bukan bentuk penolakan, melainkan cara menjaga hubungan tetap nyaman dan saling menghargai.

  5. 5. Ajarkan bahwa tidak semua pertemanan harus dipertahankan

    ilustrasi remaja bersenang-senang
    ilustrasi remaja bersenang-senang (unsplash.com/priscilladupreez)

    Remaja terkadang merasa harus mempertahankan pertemanan meski sudah tidak dihargai. Orangtua perlu menjelaskan bahwa menjadi teman yang baik bukan berarti selalu setuju, selalu tersedia, atau menerima perlakuan yang membuat tidak nyaman. Remaja juga berhak mengambil jarak dari hubungan yang terus membuat mereka merasa buruk atau tidak aman.

    Ajak mereka mengenali ciri hubungan yang sehat, seperti teman yang menghargai kata “tidak” dan mau mendengarkan pendapat. Perhatikan juga apakah mereka sering merasa tertekan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai pribadi. Dengan ini, remaja dapat menilai pertemanan berdasarkan rasa saling menghargai, bukan sekadar takut kehilangan teman.

  6. 6. Jangan abaikan batasan digital

    ilustrasi remaja memotret minuman
    ilustrasi remaja memotret minuman (pexels.com/pixabay)

    Hubungan remaja kini juga berlangsung di ruang digital, sehingga batasan perlu diterapkan dalam komunikasi online. Orangtua bisa membahas kapan perlu membalas pesan, percakapan yang membuat nyaman, hingga konten pribadi yang tidak ingin dibagikan. Termasuk ketika seseorang terus mengirim pesan, meminta foto pribadi, atau membuat remaja merasa harus selalu online.

    Remaja perlu memahami bahwa privasi dan persetujuan tetap berlaku di ruang digital. Jika merasa tidak nyaman, mereka berhak menghentikan percakapan, membatasi akses, memblokir akun, atau meminta bantuan orang dewasa. Membicarakan batasan digital secara terbuka juga membuat remaja lebih berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

    Menetapkan batasan memang tak selalu mudah, tetapi penting untuk membangun hubungan yang sehat. Ajarkan remaja mengenali perasaan, menyampaikan batasan, dan menghormati batasan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More