Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Fenomena Sachetnomics saat Downgrade Lifestyle
ilustrasi kopi saset (pexels.com/Psalmnoel Figueroa)
  • Sachetnomics menggambarkan peralihan konsumen dari produk berkemasan besar ke ukuran saset, trial, atau travel demi menekan pengeluaran saat kondisi finansial memburuk.
  • Meski perubahan kebiasaan belanja dan nongkrong bisa terasa tidak nyaman, kemasan kecil dianggap lebih murah, membantu mengontrol pemakaian, serta praktis bagi sebagian konsumen.
  • Tren ini berpotensi menambah sampah plastik bila pengelolaannya buruk, namun juga mendorong produsen menyediakan pilihan kemasan ekonomis untuk menjaga penjualan di tengah turunnya daya beli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu mendengar istilah sachetnomics? Istilah ini mungkin masih terdengar asing di masyarakat. Namun, sebenarnya banyak orang telah melakukannya sejak zaman dahulu.

Terutama ketika kondisi ekonomi kurang baik atau mereka punya tujuan tertentu untuk berhemat ketat. Sachetnomics adalah gabungan dari kata sachet atau saset dengan economy atau ekonomi. Saset merujuk pada kemasan produk satuan terkecil atau dalam takaran sekali pakai/konsumsi.

Sementara itu, ekonomi mengarah pada kondisi keuangan yang mendorong fenomena ini. Dalam situasi orang ramai-ramai downgrade lifestyle begini, sachetnomics pasti sering ditemukan di sekitarmu. Bahkan kamu sendiri mungkin menjalaninya. Yuk, cari tahu lebih lanjut berikut sisi plus dan minusnya!

1. Pergeseran pilihan dari produk botol atau kemasan besar ke saset

ilustrasi kopi saset (pexels.com/indra projects)

Dalam fenomena sachetnomics, orang beralih dari membeli dan memakai produk kemasan besar ke kemasan mininya atau sachet. Contohnya, orang yang semula membeli sampo botol sekarang bergeser ke sampo saset. Begitu juga dengan kebiasaan minum kopi.

Ketimbang seseorang ngopi di kafe habis minimal 50 ribu rupiah sekali duduk, mending ia membeli kopi saset di warung dan menyeduhnya di rumah. Perbandingan harganya amat jauh. Rasanya juga tak terlalu berbeda.

Maksud saset dalam sachetnomics sendiri tidak selalu kemasan plastik kecil seperti pada sampo atau kopi kemasan. Ketika orang bergeser dari belanja parfum 50 sampai 100 ml sekalian buat sebulan ke produk trial atau kemasan traveling 10 hingga 20 ml, itu juga bagian dari sachetnomics. Orang mencari ukuran produk yang lebih ramah kantong.

2. Konsumen menganggapnya lebih murah dan membantu penghematan

ilustrasi aneka produk saset (pexels.com/Yazid N)

Kenapa konsumen sampai mau berubah pilihan dari produk kemasan besar ke kemasan mini yang jauh lebih murah? Dari aspek psikologis, keputusan ini sangat tidak mudah. Orang sudah nyaman dengan kebiasaan berbelanjanya selama ini.

Setiap perubahan sekecil apa pun pasti menyebabkan rasa gak enak. Dari perasaan malu ketika mereka berbelanja sampai rasa kurang karena terbiasa punya sebotol besar sampo menjadi hanya serenteng produk kemasan saset. Apalagi ketika orang berhenti ngopi mahal sambil nongkrong dan geser ke kopi saset yang diseduh sendiri.

Rasanya bukan cuma kehilangan nikmatnya kopi kekinian, tapi juga seakan-akan mereka terlepas dari lingkaran pergaulannya. Namun, mereka tetap melakukan ini dengan pertimbangan bahwa mereka bisa menyisihkan lebih banyak uang. Hasilnya dapat sangat signifikan, terutama ketika keuangan memburuk.

3. Potensi peningkatan sampah plastik dan ancaman lingkungan

ilustrasi produk kemasan saset (pexels.com/Muhamad Guruh Budi Hartono)

Meski masyarakat merasa diuntungkan saat membeli produk saset atau kemasan traveling, ada potensi bahaya bagi lingkungan. Sampah plastik akan meningkat tajam karena kemasan saset gak bisa dipakai ulang seperti botol sampo, misalnya. Begitu pula saat orang tak lagi pergi ke kafe dan memilih menyeduh kopi saset di rumah.

Di kafe, terutama dengan penyajian gelas kaca atau cangkir, sampah plastik dapat dihindari. Dalam hal ini, ngopi di kafe lebih ramah lingkungan dibandingkan konsumsi kopi saset atau kopi botol kecil. Seandainya pengelolaan sampah sudah sangat baik, tentu masih mending.

Sampah kemasan plastik dapat didaur ulang. Itu berarti masa pakai diperpanjang, kegunaannya lebih banyak, serta lingkungan tetap terjaga. Namun, saat pengelolaan sampah buruk, pastinya menjadi masalah besar.

4. Dari segi kepraktisan sangat relatif

ilustrasi produk kemasan saset (pexels.com/elena_ sher)

Banyak konsumen merasa produk kemasan saset lebih murah. Penggunaan produk dalam kemasan kecil-kecil juga memudahkan mereka mengontrol pemakaian. Berbeda dengan saat mereka membeli produk besar sekalian.

Rasanya ukurannya sudah jumbo, tapi tetap saja cepat habis. Akan tetapi, terkait kepraktisannya bisa sangat relatif. Masih dengan contoh sampo saset. Ini dapat dianggap praktis karena ketika orang bepergian, mereka tidak perlu membawa sampo sebotol besar.

Mereka cukup bawa sampo saset sesuai jumlah jadwal mandi. Akan tetapi, bagi sebagian orang malah sampo saset merepotkan. Mereka mengambil dan membuka kemasan saset setiap dibutuhkan. Kalau kamu telanjur membasahi rambut, baru sadar belum mengambil atau membuka sampo saset, pasti mengesalkan.

5. Mendorong pelaku usaha untuk kreatif demi bisa bertahan

ilustrasi kerupuk saset (pexels.com/Makrufin Muhammad)

Kalau konsumen beralih ke kemasan produk yang lebih ekonomis, apakah produsen otomatis merugi? Tentu tidak. Apabila produsen bisa cepat membaca keinginan konsumen dan mau menyediakan lebih banyak produk kemasan ekonomis, malah laris manis.

Ini menjadi cara menyelamatkan usaha di tengah daya beli masyarakat yang mengalami penurunan. Produsen tidak bisa memaksa masyarakat untuk tetap membeli produk yang gak ramah bagi kantong mereka saat ini. Perkara nantinya perekonomian membaik dan orang kembali ingin produk yang lebih besar tinggal disesuaikan lagi.

Bahkan untuk produk yang umumnya dijual dalam takaran banyak sekalian kini juga dibuat versi sachet. Contohnya, di warung telah ada gula pasir saset untuk 1 cangkir minuman. Bila produsen cuma mau menjual gula kiloan padahal masyarakat sedang berhemat, tentu berat.

Sachetnomics merupakan salah satu strategi bertahan di tengah penurunan kondisi finansial. Tak jarang ini juga akan menjadi kebiasaan yang menetap saat nantinya perekonomian telah membaik. Apakah kamu juga melakukannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article