Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alasan Orang Dekat Gak Beli Daganganmu, Percaya Rezeki Luas

5 min read
Alasan Orang Dekat Gak Beli Daganganmu, Percaya Rezeki Luas
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Orang terdekat belum tentu membeli karena produk tidak sesuai kebutuhan, pilihan merek, atau harga yang mereka cari, terutama saat pengeluaran diprioritaskan.
  • Sebagian memilih menjaga privasi belanja atau tetap setia pada penjual langganan, sehingga usaha baru bukan menjadi prioritas mereka.
  • Kualitas produk, pelayanan, dan sikap penjual turut memengaruhi minat beli; penjual disarankan tidak memaksa serta mencari pasar di luar lingkaran terdekat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat kamu mulai berjualan, sedikit banyak pasti berharap orang-orang terdekatmu akan melariskannya. Baik mereka yang dekat secara fisik maupun yang dekat dalam hubungan. Walaupun rumahnya agak jauh, barang dapat dikirimkan.

Terpenting mereka tetap membelinya darimu sebagai bentuk dukungan atas usahamu yang baru berjalan. Beberapa pedagang baru beruntung jualannya laris manis oleh orang-orang dari circle-nya sendiri. Seperti seseorang yang membawa dagangan ke kantor langsung diserbu teman-temannya.

Akan tetapi, tidak sedikit orang yang hampir putus asa dan sedih sekali lantaran teman, tetangga, bahkan saudaranya gak mau membeli dagangannya. Padahal, mereka sudah menawarkannya beberapa kali dan siap kasih diskon khusus. Jika dirimu sedang mengalaminya, pahami hal-hal yang mungkin menjadi penyebab orang dekat gak beli daganganmu dan gak perlu memaksakannya, ya!

  1. 1. Barang yang dijual tak sesuai dengan kebutuhannya

    berbelanja
    ilustrasi berbelanja (pexels.com/Gustavo Fring)

    Ini alasan yang paling masuk akal karena terkait dengan dasar utama orang memutuskan membeli sesuatu atau tidak. Apalagi ketika perekonomian kurang baik, pasti setiap orang cuma fokus buat memenuhi kebutuhannya. Hal-hal di luar itu cenderung akan dikesampingkan terlebih dahulu.

    Contohnya, kamu berjualan pakaian. Orang tidak setiap saat butuh membeli pakaian baru. Mereka baru akan membelinya jika pakaian di rumah sudah rusak atau bakal ada acara tertentu.

    Bahkan dalam setahun, orang belum tentu merasa butuh belanja pakaian. Akibatnya, kamu merasa daganganmu dicueki. Sedekat apa pun hubungan kalian apabila motivasi orang berbelanja lebih ke soal kebutuhan maka belum tentu ia membeli produkmu.

  2. 2. Butuh, tapi cari merek lain atau harga yang lebih murah

    mengantar pesanan
    ilustrasi mengantar pesanan (pexels.com/Mizuno K)

    Kalau orang tidak membutuhkan barang yang dijual olehmu, sudah jelas ia tak akan berbelanja. Akan tetapi, dia sebetulnya butuh pun tak lantas pasti membelinya darimu. Ini tergantung pada merek produk yang diinginkan serta kesesuaian harga dengan kocek.

    Contoh, kamu menjual minyak goreng kemasan. Dirimu menyediakan merek minyak goreng yang lebih terjangkau pun belum tentu orang terdekat mau beli kalau mereka biasa memakai merek lain. Ganti merek minyak goreng kurang memuaskan mereka.

    Mereka tetap mencari merek yang biasanya sekalipun harganya lebih mahal daripada minyak di warungmu. Hal sebaliknya juga sangat mungkin terjadi. Orang mencari merek produk yang lebih terjangkau daripada merek daganganmu. Walaupun selisih harganya sangat tipis, bagi mereka tetap penting.

  3. 3. Kadang ada orang terdekat yang gak suka kalau kamu sukses

    menolak penawaran
    ilustrasi menolak penawaran (pexels.com/Yazid N)

    Penyebab yang satu ini memang paling gak enak untuk didengar. Namun, justru ini sering dialami oleh siapa pun. Meski hubunganmu dengan orang-orang terdekat tampak baik-baik saja, belum tentu mereka akan suka melihat usahamu maju.

    Ada tipe teman, tetangga, bahkan saudara yang seperti kepanasan bila daganganmu laris. Lalu kamu memperoleh penghasilan besar. Bahkan kekayaanmu dapat melampaui kekayaannya.

    Atau, mereka berprinsip terserah bila orang lain hendak berbondong-bondong berbelanja di tempatmu. Namun, mereka sendiri bersumpah gak akan melakukannya. Kamu sebaiknya tidak mencemaskan orang terdekat yang sengaja tak berbelanja di tempatmu lantaran gak suka melihatmu berhasil. Senang atau tidak senang, dia tetap harus belajar menerima seandainya usahamu benar-benar tambah berkembang.

  4. 4. Gak mau detail belanjaannya diketahui olehmu

    menerima belanjaan
    ilustrasi menerima belanjaan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Mereka tidak malu atau tak nyaman kalau orang lain mengetahui isi belanjaannya, asal hubungannya gak terlalu dekat. Kedekatan relasi kalian membuatnya khawatir kalau-kalau apa-apa yang dibelinya malah tersebar ke mana-mana. Lalu orang-orang menggunjingkannya.

    Misalnya, kamu berjualan bahan makanan sehari-hari. Kalau seseorang sering cuma membeli sayuran, tahu, dan tempe, nanti kamu mengatakan ke orang-orang bahwa belanjanya irit sekali. Kemudian mereka berpikir dia bukan sekadar hemat, melainkan pelit.

    Manusia kadang lebih merasa gengsi di depan orang-orang yang setiap hari ditemuinya. Bila mereka berbelanja di tempat yang jauh, setidaknya antara penjual dan pembeli tak sering bertemu. Mereka masa bodoh akan apa yang dibicarakan di belakangnya.

  5. 5. Sulit berpaling dari langganan

    berjualan
    ilustrasi berjualan (pexels.com/Daniel Lee)

    Untuk pedagang, punya pelanggan setia tentu bukan hal mudah. Namun, mereka bisa cukup lega begitu pelanggan terbentuk. Pelanggan juga tak gampang berpindah ke penjual lain.

    Ini yang terjadi pada orang-orang terdekatmu. Mereka kembali ke toko langganan bukan sekadar untuk membeli sebuah produk. Namun, juga dalam rangka menjaga hubungan baik yang selama ini terjalin.

    Mereka merasa tak enak pada pedagang yang bertahun-tahun sudah menjadi langganannya kalau tahu-tahu tidak pernah ke sana lagi. Sementara dirimu baru berjualan produk serupa belakangan. Kapan-kapan mungkin mereka juga akan membeli produk darimu. Namun, kamu tetap bukan prioritasnya.

  6. 6. Masalah kualitas produk, pelayanan, sampai sikapmu sehari-hari

    berjualan
    ilustrasi berjualan (pexels.com/Firman Marek_Brew)

    Kualitas produk sangat menentukan ketertarikan orang untuk berbelanja di tempatmu. Orang gak mau membayar untuk sesuatu yang kualitasnya kurang. Bahkan banyak orang tak keberatan membayar sedikit lebih tinggi demi produk yang juga lebih berkualitas.

    Kedua, pelayananmu mungkin tidak prima. Seperti kamu atau karyawan amat lambat dalam melayani, tak memakai kartu antrean sehingga pembeli saling menyerobot, atau sering terjadi kesalahan dalam pengemasan belanjaan. Hanya karena mereka masih orang terdekatmu bukan berarti kamu dapat bersabar menghadapi semua hal di atas.

    Selain itu, sikapmu dalam keseharian juga menjadi catatan penting. Bila setiap harinya kamu gak ramah ke tetangga misalnya, tentu mereka malas membeli daganganmu. Terlebih kalau dirimu suka bikin masalah di lingkungan. Oleh karenanya, jaga sikapmu terhadap orang lain jika mau dagangan lebih laris.

    Walau orang dekat gak beli daganganmu, kamu gak boleh menyerah atau membencinya. Mereka memang tidak wajib melariskan produkmu. Syukur kalau mereka mau beli, tapi tidak pun tak apa-apa. Masih banyak orang di luar sana yang dapat menjadi target pemasaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More