Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Prinsip Stoik yang Bisa Membantumu saat Hidup Terasa Berat

4 min read
5 Prinsip Stoik yang Bisa Membantumu saat Hidup Terasa Berat
ilustrasi merenung dengan tenang untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup (magnific.com/ wirestock)
  • Stoik menekankan fokus pada penilaian, keinginan, dorongan, dan tindakan yang dapat dikendalikan, sambil menerima keputusan orang lain atau hasil luar sebagai di luar kuasa diri.
  • Seseorang dianjurkan memeriksa pikiran sebelum menganggapnya fakta, lalu mengambil keputusan berdasarkan kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri.
  • Prinsip Stoik juga mencakup persiapan realistis menghadapi kesulitan serta evaluasi perilaku secara rutin untuk belajar dan memperbaiki diri tanpa terus menyalahkan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada masa ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai rencana. Lamaran kerja belum mendapat jawaban, hubungan dengan orang terdekat merenggang, atau usaha yang sudah dilakukan belum membuahkan hasil. Situasi seperti ini bisa menguras pikiran karena seseorang ingin segera memperbaiki keadaan, meskipun tidak semua hal berada dalam kendalinya.

Dalam filsafat Stoik, kesulitan hidup tidak selalu bisa dihindari. Namun, manusia dapat melatih cara berpikir dan menentukan sikap ketika menghadapinya. Salah satu langkah awalnya adalah memahami bahwa tidak semua hal dalam kehidupan bisa berjalan sesuai keinginan. Pemahaman ini menjadi dasar untuk menerapkan prinsip-prinsip Stoik dalam menghadapi berbagai situasi sulit.

  1. 1. Bedakan hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan

    ilustrasi memikirkan perbedaan hal yang dapat dikendalikan dan di luar kendali
    ilustrasi memikirkan perbedaan hal yang dapat dikendalikan dan di luar kendali (pexels.com/ Atlantic Ambience)

    Salah satu prinsip penting dalam filsafat Stoik adalah membedakan hal-hal yang berada dalam kendali diri dan hal-hal yang berada di luar kendali. Epictetus menjelaskan bahwa penilaian, keinginan, dorongan, dan tindakan merupakan bagian yang dapat diusahakan manusia. Sebaliknya, reputasi, kepemilikan, jabatan, serta keputusan orang lain tidak sepenuhnya bisa ditentukan oleh diri sendiri.

    Contohnya, ketika lamaran kerja ditolak, kamu tidak dapat memaksa perusahaan mengubah keputusannya. Namun, kamu masih bisa mengevaluasi CV, meningkatkan kemampuan wawancara, dan mencari kesempatan lain. Dengan memahami batas tersebut, energi tidak habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubah.

  2. 2. Jangan langsung menganggap setiap pikiran sebagai fakta

    ilustrasi merenung dan memeriksa asumsi pikiran sebelum mempercayainya
    ilustrasi merenung dan memeriksa asumsi pikiran sebelum mempercayainya (pexels.com/ KATRIN BOLOVTSOVA)

    Dalam pemikiran Epictetus, manusia perlu memeriksa kesan atau penilaian yang muncul sebelum menerimanya sebagai kebenaran. Sebuah kejadian dan kesimpulan yang dibuat seseorang tentang kejadian tersebut merupakan dua hal berbeda. Karena itu, reaksi spontan terhadap suatu situasi perlu diperiksa terlebih dahulu.

    Misalnya, teman belum membalas pesan selama beberapa jam. Kamu bisa langsung berpikir bahwa dirinya sedang dihindari atau tidak lagi dianggap penting. Padahal, belum ada bukti yang memastikan dugaan tersebut. Memisahkan kejadian dari asumsi membantumu menilai situasi dengan lebih jernih sebelum mengambil tindakan.

  3. 3. Jadikan kebajikan sebagai dasar mengambil keputusan

    ilustrasi mengambil keputusan yang bijak berdasarkan nilai moral dan kebajikan
    ilustrasi mengambil keputusan yang bijak berdasarkan nilai moral dan kebajikan (pexels.com/ KATRIN BOLOVTSOVA)

    Bagi kaum Stoik, kehidupan yang baik tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, popularitas, atau pencapaian. Kebajikan justru menjadi landasan penting dalam menjalani hidup. Dalam etika Stoik, kebajikan mencakup empat nilai utama, yaitu kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri.

    Prinsip ini dapat diterapkan ketika kamu menghadapi situasi yang menuntut keputusan sulit. Misalnya, saat melihat rekan kerja diperlakukan tidak adil, kamu bisa menyampaikan keberatan dengan mempertimbangkan fakta, memilih cara bicara yang tepat, dan tetap menghormati pihak lain. Dengan begitu, keputusan tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk menang atau menghindari konflik, tetapi juga pada pertimbangan tentang tindakan yang benar.

  4. 4. Latih diri menghadapi kemungkinan yang tidak menyenangkan

    ilustrasi melatih ketahanan mental dalam menghadapi tantangan yang tidak terduga
    ilustrasi melatih ketahanan mental dalam menghadapi tantangan yang tidak terduga (pexels.com/ Anastasia Shuraeva)

    Seneca mengajarkan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kesulitan sebelum keadaan tersebut benar-benar terjadi. Salah satu bentuk latihannya adalah membiasakan diri hidup dengan fasilitas sederhana selama beberapa hari. Melalui latihan ini, seseorang dapat mengurangi ketergantungan pada kenyamanan dan menyadari bahwa dirinya masih bisa menjalani hidup ketika keadaan tidak sesuai harapan.

    Gagasan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mempertimbangkan kemungkinan yang realistis sebelum menghadapinya. Ketika kamu akan memulai pekerjaan baru, misalnya, bisa mempersiapkan diri menghadapi target yang menantang, proses adaptasi, atau perbedaan cara kerja. Persiapan ini bukan berarti terus-menerus mengharapkan hal buruk, melainkan mengurangi keterkejutan ketika hambatan benar-benar muncul.

  5. 5. Evaluasi tindakan diri tanpa terus menyalahkan diri sendiri

    ilustrasi melakukan evaluasi diri dan refleksi harian dengan tenang
    ilustrasi melakukan evaluasi diri dan refleksi harian dengan tenang (pexels.com/ cottonbro studio)

    Dalam pemikiran Seneca, mengevaluasi perilaku sehari-hari merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri. Ia mengangkat kebiasaan seorang filsuf bernama Sextius yang meninjau kembali tindakan dan kesalahannya sebelum tidur. Seneca juga menerapkan kebiasaan tersebut dengan mengingat perkataan, keputusan, serta perilaku yang perlu diperbaiki.

    Kebiasaan ini bisa menjadi cara untuk mengenali pola perilaku yang perlu diperbaiki. Misalnya, setelah berselisih dengan teman, kamu dapat mempertimbangkan apakah kamu terlalu cepat marah atau menyampaikan pendapat dengan cara yang menyakiti. Evaluasi tersebut sebaiknya diarahkan pada pembelajaran dan perbaikan tindakan, bukan menjadi alasan untuk terus menghukum diri sendiri.

    Menghadapi masa sulit tidak selalu berarti harus menemukan jalan keluar secepat mungkin. Ada keadaan yang membutuhkan waktu, sementara beberapa hal memang tidak berjalan sesuai harapan. Dalam situasi seperti itu, seseorang tetap memiliki ruang untuk menentukan sikap dan memilih tindakan yang bisa diusahakan.

    Filsafat Stoik mengingatkan bahwa ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah atau tidak merasakan emosi. Ketenangan tumbuh ketika seseorang mampu melihat keadaan dengan lebih jernih dan tidak membiarkan hal-hal di luar kendalinya sepenuhnya menentukan cara ia menjalani hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More