Di zaman sekarang, kesadaran akan kesehatan mental terbilang tinggi. Banyak pengguna media sosial menggalakkan soal self-care, seperti mengunggah aktivitasnya saat merawat diri dengan takarir yang seolah mampu menyebarkan energi positif, hingga mengunggah kutipan inspiratif yang mendorong audiens untuk senantiasa optimis.
Namun, di balik narasi self-care dan dorongan untuk selalu positive thinking yang bertebaran di media sosial, ada batas tipis di antara keduanya yang kerap kita lewati. Nah, saat ajakan untuk terus bahagia beralih menjadi tuntutan untuk menekan emosi negatif, self-care justru berubah menjadi toxic positivity. Biar kamu semakin hati-hati, berikut perbedaan antara self-care yang tulus dan nyata dengan toxic positivity!
