Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Soft Life atau Cuma Mager? Jangan Salah Memaknai Hidup Tenang
ilustrasi seseorang sedang tertidur nyenyak di sofa (unsplash.com/Chris Lynch)
  • Soft life hadir sebagai respons budaya hustle dengan menekankan ketenangan, perawatan diri, dan keseimbangan, tanpa menghapus ambisi maupun tanggung jawab.
  • Perbedaannya dengan mager terletak pada alasan dan dampak: istirahat memulihkan energi, sedangkan prokrastinasi menghindari emosi tidak nyaman dan membuat tugas menumpuk.
  • Ketenangan sehat memberi ruang pemulihan sambil menghadapi persoalan bertahap; mengenali kebutuhan, prioritas, dan emosi dapat membantu menjaga tanggung jawab tanpa mengorbankan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah tuntutan untuk terus produktif, tren soft life menawarkan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Istilah ini mengajak orang untuk mengutamakan ketenangan, menjaga keseimbangan hidup, dan tidak terus-menerus memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi sosial. Namun, keinginan untuk hidup lebih santai terkadang memunculkan pertanyaan. Apakah kita benar-benar sedang belajar menjaga diri demi kewarasan atau justru mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab?

Sekilas, soft life atau cuma mager memang terlihat mirip. Memilih rebahan setelah menjalani hari yang melelahkan atau menunda pekerjaan demi menikmati waktu luang bisa dianggap sebagai bentuk istirahat. Namun, apakah setiap keinginan untuk bersantai berarti kita sedang menerapkan soft life? Nah, menurutmu, kita sedang belajar menikmati hidup dengan lebih tenang atau justru mulai terjebak dalam kebiasaan mager?

1. Soft life bukan berarti harus menjalani hidup tanpa tantangan

ilustrasi hustle culture (unsplash.com/Alex Sheldon)

Tren soft life berkembang sebagai respons terhadap budaya hustle (berusaha keras) yang menempatkan kesibukan, kerja keras tanpa henti, dan pencapaian sebagai tolok ukur keberhasilan. Dalam artikel yang dimuat Forbes pada 2024, psikolog Mark Travers menjelaskan bahwa tren ini mengedepankan kedamaian, perawatan diri, dan pilihan untuk tidak terus-menerus hidup dalam tekanan. Artinya, seseorang tidak harus mengorbankan seluruh waktu dan energinya demi terlihat sukses di mata orang lain.

Meski begitu, hidup tenang bukan berarti seseorang harus selalu memilih jalan yang paling mudah. Ada kalanya kita perlu menyelesaikan tugas yang tidak menyenangkan, menghadapi percakapan sulit, atau belajar keterampilan baru yang membutuhkan waktu. Prinsip soft life dinilai sebagai upaya menjalani tanggung jawab secara lebih sehat, bukan menghapus seluruh tantangan dari kehidupan. Kita tetap bisa memiliki ambisi tanpa harus menjadikan kelelahan sebagai bukti bahwa kita sudah berusaha.

2. Ketika soft life berubah menjadi alasan untuk menunda pekerjaan

ilustrasi menunda-nunda pekerjaan karena sudah mentok (pexels.com/kaboompics.com)

Bayangkan seseorang yang memutuskan untuk beristirahat setelah seharian menyelesaikan pekerjaan. Ia memilih tidur lebih awal agar tubuhnya kembali bugar dan bisa menjalani aktivitas keesokan hari. Situasinya berbeda ketika seseorang terus menunda tugas yang sebenarnya mampu dikerjakan, lalu menggunakan alasan ingin menjaga ketenangan untuk menghindarinya. Perbedaan tersebut tidak selalu terlihat dari aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dari alasan, pola perilaku, dan konsekuensi yang muncul.

Dalam podcast Speaking of Psychology yang diterbitkan American Psychological Association (APA), psikolog Fuschia Sirois menjelaskan bahwa prokrastinasi tidak selalu berkaitan dengan kemalasan atau buruknya pengelolaan waktu. Kebiasaan tersebut juga dapat menjadi cara untuk menghindari emosi tidak menyenangkan, seperti kecemasan, frustrasi, atau ketakutan gagal ketika menghadapi suatu tugas. Menunda memang bisa memberikan kelegaan sesaat, tetapi perasaan lega itu berpotensi membuat seseorang mengulangi perilaku yang sama meskipun masalahnya belum selesai.

3. Istirahat yang sehat berbeda dari kebiasaan menghindar

ilustrasi seorang tidur di sofa dengan tumpukan buku diletakkan di kepala (freepik.com/jcomp)

Salah satu cara membedakan keduanya adalah dengan memperhatikan kondisi diri setelah beristirahat. Jika waktu istirahat membantu memulihkan energi dan membuat kita lebih siap kembali beraktivitas, jeda tersebut bisa menjadi bagian penting dari keseimbangan hidup. Sebaliknya, apabila kita terus menghindari tugas tanpa mencari jalan keluar, pekerjaan dapat semakin menumpuk dan menimbulkan tekanan baru. Meski demikian, satu atau dua kali menunda pekerjaan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang malas.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menganggap semua keinginan untuk berhenti beraktivitas sebagai bentuk kemalasan. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa burn-out merupakan fenomena yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas profesional. Penjelasan ini tidak berarti setiap orang yang merasa lelah mengalami burn-out, tetapi menunjukkan bahwa kelelahan berkepanjangan perlu dipahami berdasarkan konteksnya, bukan langsung memutuskan bahwa seseorang dinilai kurang disiplin.

4. Jangan sampai mengejar ketenangan justru menambah masalah

ilustrasi meditasi (unsplash.com/Benjamin Child)

Tantangan lain muncul ketika soft life dimaknai sebagai keharusan untuk selalu merasa nyaman. Padahal, kehidupan tidak bisa sepenuhnya terbebas dari tekanan, ketidakpastian, maupun tanggung jawab. Jika setiap aktivitas yang memicu rasa tidak nyaman langsung dihindari, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi masalah dan membangun kebiasaan yang mendukung tujuan jangka panjangnya. Ketenangan yang sehat bukan berarti tidak pernah merasa tertekan, melainkan memiliki ruang untuk memulihkan diri sekaligus menghadapi persoalan secara bertahap.

Lantas, bagaimana menerapkan soft life tanpa terjebak dalam kebiasaan menunda pekerjaan? Kita bisa memulainya dengan mengenali kebutuhan diri, membedakan tugas yang memang mendesak dari aktivitas yang tidak perlu, dan membagi pekerjaan besar menjadi tugas-tugas atau aksi kecil. Ketika merasa enggan memulai sesuatu, cobalah bertanya apakah kita sedang kelelahan, takut menghadapi hasil yang tidak sempurna, atau sekadar kesulitan menentukan langkah pertama. Pendekatan ini sejalan dengan penjelasan APA bahwa memahami emosi di balik prokrastinasi dapat membantu seseorang menemukan cara yang lebih efektif untuk mengatasinya.

5. Menjalani pola hidup soft life bukan berarti berhenti bertumbuh

ilustrasi sedang bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Soft life tidak harus diwujudkan melalui liburan mahal, rutinitas pagi yang estetik, atau kehidupan tanpa pekerjaan yang melelahkan. Menjaga waktu tidur, berani menolak permintaan yang melampaui kapasitas, menikmati waktu bersama orang terdekat, dan berhenti membandingkan pencapaian dengan orang lain juga bisa menjadi bagian dari kehidupan yang lebih seimbang. Hal terpenting adalah memahami kebutuhan diri tanpa sekadar mengikuti gambaran ideal yang beredar di media sosial. Sebab kita tidak perlu memilih antara terus bekerja sampai kelelahan dan berhenti berusaha demi mencari kenyamanan.

Nah, sekarang coba tanyakan kepada diri sendiri. Apakah kita sedang melakukan soft life atau cuma mager? Apakah benar-benar memberikan ruang untuk beristirahat atau justru mencari pembenaran untuk terus menunda pekerjaan? Tidak ada salahnya memperlambat langkah ketika tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Namun, jangan sampai keinginan menjalani soft life membuat kita melupakan tanggung jawab dan hal-hal yang perlu diperjuangkan. Sebab, hidup tenang bukan berarti menghindari setiap kesulitan, melainkan menemukan keseimbangan antara merawat diri, menikmati hidup, dan tetap bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article