Kathryn Grant, PhD, Professor of Clinical Child Psychology di DePaul University, mengatakan, “Masalah keuangan adalah salah satu hal paling membuat stres yang dapat dialami sebuah keluarga, dan kondisi ini juga sangat umum terjadi,” dikutip dari American Psychological Association.
Soft Life Itu Mahal, Jadi Siapa yang Sebenarnya Bisa Menjalaninya?

- Tren soft life terlihat mudah di media sosial, tetapi kemampuan memperlambat hidup sangat dipengaruhi tagihan, pekerjaan tidak fleksibel, tanggungan keluarga, dan kebutuhan sehari-hari.
- Kondisi finansial aman serta kendali atas waktu menjadi privilege utama; pekerja dengan jam panjang sering sulit mengurangi beban, padahal kerja 55 jam atau lebih berisiko bagi kesehatan.
- Soft life tidak harus berupa konsumsi mahal; membatasi kerja, beristirahat tanpa rasa bersalah, menjauhi relasi melelahkan, dan menikmati aktivitas terjangkau dapat menciptakan ruang bernapas.
Pernah lihat konten soft life yang isinya bangun tanpa alarm, pilates pagi, ngopi cantik, bekerja dari mana saja, lalu liburan saat mulai lelah? Di media sosial, hidup tenang sering terlihat seperti sesuatu yang tinggal dipilih, seolah siapa pun bisa keluar dari kehidupan yang penuh tekanan asal berani memprioritaskan diri sendiri.
Padahal, tidak semua orang punya kebebasan yang sama untuk memperlambat hidup. Ada tagihan, pekerjaan dengan jam yang tidak fleksibel, tanggungan keluarga, sampai kebutuhan sehari hari yang tetap harus dipenuhi. Jadi ketika soft life semakin populer di 2026, siapa sebenarnya yang punya kesempatan untuk benar benar menjalaninya?
1. Punya ketenangan finansial membuat hidup lebih mudah diperlambat

Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp) Mengurangi pekerjaan, mengambil cuti, tinggal di lingkungan yang nyaman, membeli makanan yang lebih praktis, atau sesekali pergi untuk mengisi energi terdengar menyenangkan. Masalahnya, banyak pilihan tersebut membutuhkan satu hal yang sering tidak terlihat di balik konten soft life, yaitu kondisi finansial yang cukup aman.
Bagi seseorang yang pendapatannya masih habis untuk kebutuhan pokok, berhenti mengejar pemasukan tentu bukan keputusan sesederhana mematikan laptop lebih cepat. Tekanan finansial sendiri memang bisa menjadi sumber stres yang besar, sehingga kemampuan untuk memilih kehidupan yang lebih tenang juga sangat dipengaruhi kondisi ekonomi seseorang.
2. Waktu luang juga merupakan bentuk privilege

Ilustrasi bekerja (pexels.com/fauxels ) Soft life bukan cuma soal uang, tetapi juga soal memiliki kendali atas waktu. Bisa menolak lembur, bekerja secara fleksibel, mengambil jeda ketika lelah, atau punya akhir pekan tanpa memikirkan pekerjaan menjadi jauh lebih mudah ketika seseorang berada dalam posisi kerja yang memungkinkan hal tersebut.
Di sisi lain, ada banyak orang yang justru harus bekerja lebih lama untuk mempertahankan pendapatan. Artinya, nasihat seperti work less, istirahat lebih banyak, atau jangan terlalu sibuk tidak selalu bisa diterapkan dengan kondisi yang sama oleh setiap orang. WHO dan ILO bahkan mencatat hubungan antara jam kerja yang sangat panjang dan peningkatan risiko kesehatan.
Dr. Maria Neira, Director of the Department of Environment, Climate Change and Health di World Health Organization, mengatakan, “Bekerja selama 55 jam atau lebih dalam seminggu merupakan bahaya serius bagi kesehatan," dikutip dari World Health Organization dalam pembahasan mengenai dampak jam kerja panjang terhadap kesehatan.
3. Soft life tidak harus selalu terlihat mahal

Ilustrasi Hidup lebih Bermakna (freepik.com/author/freepik) Meski begitu, bukan berarti hidup yang lebih tenang hanya boleh dimiliki mereka yang punya banyak uang. Masalah muncul ketika soft life diterjemahkan sebagai estetika konsumsi, mulai dari hotel mewah, perawatan mahal, perjalanan spontan, sampai rutinitas yang hanya mungkin dilakukan ketika seseorang punya banyak waktu dan sumber daya.
Makna soft life bisa jauh lebih sederhana. Membatasi pekerjaan setelah jam tertentu, tidak merasa bersalah ketika beristirahat, mengurangi hubungan yang menguras energi, menikmati waktu tanpa terus mengejar produktivitas, atau memilih aktivitas murah yang memang membuat hidup terasa lebih nyaman juga bisa menjadi bentuknya
Pada akhirnya, keinginan menjalani hidup dengan lebih tenang memang sangat manusiawi, tetapi akses menuju kehidupan tersebut tidak dimiliki semua orang dalam porsi yang sama. Mungkin soft life yang paling realistis bukan hidup tanpa masalah, melainkan mencari sedikit lebih banyak ruang untuk bernapas di tengah kehidupan yang kita punya.




















