Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Stres Lihat Berita Politik? 5 Cara Mengatur Emotional Boundaries
ilustrasi membaca berita di koran (pexels.com/cottonbro)
  • Paparan berita politik yang terus-menerus dapat menguras pikiran dan emosi; pembaca disarankan menetapkan waktu 20–30 menit, membatasi notifikasi, serta memilih sumber kredibel.
  • Peduli pada isu sosial-politik tidak berarti wajib merespons setiap perdebatan. Prioritaskan fakta dan konteks dari sumber berita, bukan reaksi emosional, hoaks, atau konflik di kolom komentar.
  • Buat jeda berita sebelum tidur dan kenali tanda kelelahan emosional, seperti mudah marah atau sulit fokus. Alihkan perhatian ke aktivitas sehari-hari sebelum kembali mengikuti informasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berita seputar politik selalu ada di mana-mana. Gak hanya di koran, buka media sosial, muncul potongan video pernyataan pejabat. Cek grup chat, ada teman yang membagikan berita terbaru. Niatnya cuma scroll sebentar sebelum tidur, akhirnya kamu malah membaca thread panjang tentang isu politik yang sedang ramai. Belum selesai mencerna satu berita, sudah muncul berita lain.

Kalau terus dilakukan, bukan cuma pikiran yang lelah, tapi emosi juga bisa ikut terkuras. Mengikuti perkembangan politik memang penting. Namun, mengetahui apa yang sedang terjadi bukan berarti kamu harus terus-menerus terpapar berita politik sepanjang hari. Di sinilah emotional boundaries atau batasan emosional dibutuhkan. Berikut lima cara yang bisa kamu terapkan.

1. Buat batasan waktu untuk mengonsumsi berita politik

ilustrasi menonton televisi (pexels.com/ Anete Lusina)

Cara paling mudah untuk mengatur emotional boundaries adalah membatasi kapan kamu membaca berita politik. Tanpa batasan, konsumsi berita bisa berubah menjadi doomscrolling, yaitu terus menggulir konten negatif meskipun kamu sudah merasa lelah. Kamu gak harus mengikuti setiap perkembangan yang muncul setiap menit.

Tentukan waktu untuk membaca berita, misalnya pagi sebelum melakukan aktivitas atau sore sebelum beristirahat. Durasi 20–30 menit sebenarnya sudah cukup untuk mengetahui isu penting yang sedang terjadi. Kamu bisa mematikan notifikasi dari akun atau aplikasi berita yang gak terlalu penting. Kalau ingin tetap mengikuti isu tertentu, pilih satu atau dua sumber yang kredibel dan baca informasinya pada waktu yang sudah kamu tentukan.

2. Bedakan antara peduli dan merasa harus ikut terlibat

ilustrasi menggunakan ponsel (pexels.com/Ron Lach)

Salah satu penyebab berita politik terasa sangat melelahkan adalah munculnya perasaan bahwa kamu harus melakukan sesuatu terhadap semua masalah yang kamu lihat. Ketika membaca berita tentang kebijakan yang kontroversial, misalnya, kamu mungkin merasa marah. Setelah melihat komentar orang lain, emosinya semakin meningkat.

Kemudian muncul dorongan untuk ikut berdebat, membagikan informasi, atau menjelaskan pandanganmu kepada semua orang. Padahal, kamu tidak memiliki kewajiban untuk merespons setiap isu yang muncul. Peduli terhadap kondisi sosial dan politik berbeda dengan merasa harus selalu terlibat dalam setiap perdebatan. Kamu boleh punya pendapat tanpa harus menyampaikannya setiap saat.

3. Jangan fokus pada informasi di kolom komentar

ilustrasi menggunakan sosial media (pexels.com/Karola G)

Kadang-kadang berita itu sendiri belum tentu membuat stres. Yang membuat emosi semakin panas justru kolom komentar di bawahnya. Satu unggahan bisa berubah menjadi ratusan komentar yang saling menyerang. Ada yang menggunakan kata-kata kasar, menyebarkan hoaks, atau memusuhi orang dengan pandangan berbeda.

Kalau kamu terus membaca komentar seperti ini, suasana hati bisa ikut terbawa meskipun sebenarnya kamu gak terlibat dalam percakapan tersebut. Karena itu, kamu perlu membedakan antara mencari informasi dan mencari reaksi orang terhadap informasi. Kalau tujuanmu adalah memahami sebuah isu, prioritaskan artikel atau sumber berita yang menjelaskan fakta dan konteks saja, ya!

4. Beri jarak antara berita politik dan waktu istirahat

Ilustrasi orang tidur (unsplash.com/Adi Goldstein)

Kebiasaan membaca berita politik sebelum tidur mungkin terlihat biasa. Namun, kalau berita yang kamu konsumsi memicu kemarahan, kecemasan, atau overthinking, waktu istirahatmu bisa ikut terganggu. Misalnya, kamu membaca berita kontroversial pukul 11 malam. Setelah itu, kamu masih mencerna berita, membaca komentar orang lain, lalu mencari berita pembanding.

Akhirnya, tubuh sudah berada di tempat tidur, tapi pikiran masih sibuk mengikuti perdebatan politik. Karena itu, coba buat zona bebas berita politik menjelang tidur. Kamu bisa berhenti membaca berita satu atau dua jam sebelum tidur dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih menenangkan. Kamu bisa membaca buku, mendengarkan musik, journaling, atau sekadar berbincang dengan orang terdekat.

5. Sadari kapan harus berhenti dan kembali ke kehidupan nyata

ilustrasi meletakkan ponsel (pexels.com/eren-li)

Ada kalanya kamu sudah tak lagi mendapatkan informasi baru, tapi tetap merasa harus mengecek berita. Di titik ini, mungkin masalahnya bukan lagi kebutuhan untuk mengetahui informasi, melainkan dorongan emosional. Perhatikan tanda-tandanya. Apakah kamu menjadi mudah marah setelah membaca berita politik? Apakah sulit berkonsentrasi pada pekerjaan atau kuliah?

Kalau iya, mungkin sudah waktunya mengambil jeda. Coba letakkan ponsel, berjalan sebentar, lakukan pekerjaan rumah, berolahraga atau apa pun yang membuat perhatianmu kembali ke kehidupan sehari-hari. Bukan berarti kamu harus menjauh dari politik selamanya. Setelah kondisi emosional lebih stabil, kamu bisa kembali mengikuti berita dengan batasan yang lebih sehat.

Mengatur emotional boundaries saat mengikuti berita politik bukan berarti menjadi gak peduli. Berita politik hanyalah bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan hidupmu. Menjaga batasan emosional justru membuatmu bisa tetap peduli pada keadaan sekitar tanpa kehilangan ketenangan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article