Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Warna dan Simbol pada Pakaian Bisa Memiliki Makna Politik?

Kenapa Warna dan Simbol pada Pakaian Bisa Memiliki Makna Politik?
ilustrasi demonstrasi (pexels.com/tony-zohari)
  • Warna dan simbol pakaian dapat menjadi bahasa visual untuk menyatakan sikap politik, keberpihakan, atau protes damai tanpa akses ke media dan pemerintahan.
  • Penggunaan pakaian seragam membangun identitas serta solidaritas gerakan, seperti Black Panther Party dan Black Lives Matter, sekaligus memperkuat rasa memiliki tujuan bersama.
  • Makna politik warna dibentuk sejarah dan budaya, dapat menghubungkan perjuangan lintas generasi, serta menyebar luas melalui media sosial meski berpotensi berubah karena komersialisasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah melihat orang-orang mengenakan warna pakaian yang sama saat aksi atau menyuarakan sebuah isu? Pilihan tersebut ternyata gak selalu soal gaya, karena warna dan simbol pada pakaian bisa menjadi cara untuk menunjukkan sikap, identitas, hingga solidaritas.

Sepanjang sejarah, pakaian juga kerap digunakan untuk menyampaikan pesan politik tanpa perlu banyak bicara. Lantas, kenapa warna dan simbol pada pakaian bisa punya makna politik? Yuk, simak penjelasannya di artikel ini!

  1. 1. Warna bisa menjadi bahasa politik tanpa kata

    ilustrasi anak perempuan dengan telapak tangan yang penuh cat
    ilustrasi anak perempuan dengan telapak tangan yang penuh cat (pexels.com/amrutha-vm)

    Pakaian bisa menjadi cara sederhana untuk menyampaikan pandangan saat seseorang gak punya akses ke media atau ruang pemerintahan. Warna pun dapat menunjukkan suasana hati atau sikap politik tanpa perlu diucapkan. Ketika digunakan bersama-sama, warna tertentu semakin kuat menjadi simbol solidaritas dan pesan sebuah gerakan.

    “Seseorang mungkin tidak memiliki akses ke pers atau struktur pemerintahan, tetapi kamu memiliki kendali atas bagaimana kamu berpakaian,” ujar Jonathan Square, penulis dan sejarawan yang mengkhususkan diri pada fesyen dan budaya visual diaspora Afrika, dikutip dari Teen Vogue.

    DIkutip dari laman yang sama, Hannah Craggs, editor warna senior di konsultan prediksi tren WGSN, juga menjelaskan bahwa warna telah digunakan sepanjang sejarah sebagai sarana ekspresi diri dan protes damai. Jadi, sebuah warna bisa berfungsi seperti bahasa visual yang memungkinkan seseorang menyatakan keberpihakan tanpa harus memasang slogan panjang di pakaian.

  2. 2. Pakaian yang seragam bisa membangun identitas dan solidaritas

    ilustrasi demonstrasi
    ilustrasi demonstrasi (pexels.com/tony-zohari)

    Ketika banyak orang memakai warna atau model pakaian yang sama, penampilan mereka dapat menciptakan identitas kelompok yang lebih mudah dikenali. Contohnya terlihat pada Black Panther Party pada 1960-an yang menggunakan jaket kulit hitam, celana hitam, dan baret hitam sebagai bagian dari penampilan khas mereka. Seragam tersebut bukan hanya membentuk citra kelompok, tetapi juga memperlihatkan kekuatan dan kebersamaan para anggotanya.

    “Black Panther Party memformalkan seragam serba hitam karena hal itu menunjukkan kekuatan dan solidaritas,” ujar Darnell-Jamal Lisby, sejarawan fashion, akademisi, dan kurator independen, dikutip dari Teen Vogue.

    Penggunaan warna hitam juga terlihat dalam gerakan Black Lives Matter melalui spanduk, poster dan kaus untuk menyuarakan isu rasisme sistemik, serta kekerasan terhadap masyarakat kulit hitam. Pakaian yang digunakan bersama pun dapat memperkuat rasa memiliki, solidaritas, dan tujuan yang sama dalam sebuah gerakan.

  3. 3. Makna sebuah warna terbentuk dari sejarah dan budaya

    ilustrasi demonstrasi
    ilustrasi demonstrasi (pexels.com/daniqux)

    Makna politik sebuah warna gak selalu sama di setiap negara karena dipengaruhi sejarah dan budaya masyarakatnya. Di Argentina, misalnya, syal hijau menjadi simbol gerakan hak aborsi yang awalnya digunakan aktivis feminis untuk menyuarakan hak atas kesehatan seksual. Seiring waktu, simbol ini dipakai berbagai kalangan untuk menunjukkan dukungan terhadap perjuangan tersebut.

    “Meskipun syal hijau pertama kali dikenakan oleh aktivis feminis yang menuntut hak mereka atas kesehatan seksual, kini orang-orang dari segala usia mengenakan simbol tersebut untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap perjuangan ini,” ujar Gaba Najmanovich, jurnalis dan peneliti tren yang berbasis di Buenos Aires, dikutip dari Teen Vogue.

    Syal hijau juga semakin dikenal di ruang publik dan budaya populer, mulai dari jendela toko hingga layar televisi. Hal ini menunjukkan bahwa makna politik sebuah warna dapat berkembang seiring penggunaannya meluas. Karena itu, warna perlu dipahami berdasarkan sejarah dan budaya yang melatarinya.

  4. 4. Warna bisa menghubungkan perjuangan masa lalu dan masa kini

    ilustrasi demonstrasi
    ilustrasi demonstrasi (pexels.com/tony-zohari)

    Pakaian juga bisa menghidupkan kembali simbol perjuangan dari generasi sebelumnya. Warna putih, misalnya, digunakan dalam gerakan hak pilih perempuan pada awal abad ke-20 dan kembali dikenakan politisi perempuan untuk menghormati para suffragist. Pada 2019, perempuan anggota Kongres Amerika Serikat mengenakan pakaian putih saat State of the Union sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk menyoroti meningkatnya jumlah perempuan di Kongres.

    Saat itu, warna putih dikaitkan dengan gagasan “kemurnian dan kebajikan” serta menjadi cara yang mudah bagi siapa pun untuk menunjukkan dukungan terhadap gerakan. Ketika kembali digunakan puluhan tahun kemudian, warna tersebut membawa ingatan tentang perjuangan generasi sebelumnya. Alhasil, pakaian bisa menjadi penghubung visual antara sejarah perjuangan dan isu politik masa kini.

  5. 5. Simbol pakaian bisa menyebarkan pesan ke lebih banyak orang

    ilustrasi demonstrasi
    ilustrasi demonstrasi (pexels.com/kelly)

    Di era media sosial, warna dan simbol pada pakaian lebih mudah dikenal luas karena foto dan video dapat menyebar dengan cepat. Contohnya terlihat pada pussy hat merah muda dalam Women’s March 2017, syal hijau dalam gerakan hak aborsi Argentina, hingga bendera pelangi sebagai simbol komunitas LGBTQ+. Semakin sering simbol tersebut muncul di media sosial, semakin banyak orang yang mengenali pesan di baliknya.

    Namun, popularitas juga dapat mengubah atau mengurangi makna sebuah warna ketika terlalu sering digunakan dan dikomodifikasi secara komersial. Menurut Jonathan Square, makna warna pada dasarnya dibentuk oleh budaya sehingga pemahamannya dapat berubah mengikuti masyarakat dan zaman. Karena itu, warna dalam fashion bukan sekadar elemen visual, tetapi juga bagian dari bahasa sosial yang memiliki makna sesuai konteksnya.

    Pakaian gak selalu cuma soal gaya, karena warna dan simbol tertentu bisa menjadi cara untuk menunjukkan dukungan, nilai, hingga tuntutan perubahan. Jadi kalau melihat banyak orang memakai warna yang sama, bisa jadi ada pesan politik di baliknya, loh!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More