Literasi sering kali hanya dikaitkan dengan kegemaran membaca. Padahal, literasi juga mencakup kemampuan menulis. Sayang, kalau kamu sudah gemar membaca, bahkan bisa melahap buku ratusan halaman dalam 2 atau 3 hari tanpa dibarengi dengan menulis.
Suka Baca Buku Tapi Gak Berani Nulis? Ini 6 Cara Memulainya

- Literasi tak hanya membaca, tetapi juga menulis; kegemaran membaca dapat memperkaya pengetahuan, pola pikir, dan kemampuan berbahasa untuk menjadi modal mulai berkarya.
- Keberanian menulis bisa dilatih lewat ringkasan bacaan, caption media sosial, pendapat berbahasa sopan, serta pengalaman pribadi yang tidak sensitif.
- Pemula dapat membatasi pembaca atau komentar terlebih dahulu, lalu mengirim tulisan ke redaksi media atau penerbit untuk memperoleh masukan profesional.
Semua buku yang telah dibaca pasti memberimu begitu banyak pengetahuan. Cara berpikirmu juga terbentuk menjadi sistematis. Kemampuan menggunakan bahasa dengan baik dan benar pun lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tak suka membaca.
Barangkali ada beberapa ketakutan, seperti tulisanmu dinilai jelek lalu diejek. Jangan menyerah pada bayangan-bayangan negatif seperti itu. Jika kamu suka baca buku tapi gak berani nulis, awalilah dengan semangat berbagi inspirasi melalui tulisan. Kamu gak harus langsung bikin karya tulis ratusan halaman, kok. Keberanian menulis bisa dibangun dengan cara di bawah ini.
1. Mulai menulis dari apa yang dibaca

ilustrasi membaca (pexels.com/Esra Saltürk) Cara paling gampang mengawali kebiasaan menulis ialah bermodalkan buku yang baru selesai dibaca saja. Alasannya, kamu masih hafal betul apa saja isinya. Kedua, karena tinggal menceritakan ulang isi bacaan, gak perlu takut dihujat.
Toh, dirimu juga tak membahasnya sampai detail. Nanti malah bikin orang lain tidak tertarik untuk ikut membaca buku itu. Cukup intinya, buku tersebut membicarakan apa. Misalnya, kamu membaca buku biografi tokoh.
Bikin tulisan singkat tentang 1 atau 2 kejadian yang menurutmu paling menarik. Nanti kalau kamu sudah terbiasa menulis berdasarkan buku yang dibaca, pasti tulisan bertambah panjang. Dirimu bahkan dapat menjadi peresensi profesional yang memperoleh bayaran.
2. Stop posting atau repost di medsos tanpa caption beberapa kalimat

ilustrasi membuat status (pexels.com/Vitaly Gariev) Selama ini kamu mungkin sering sekali mengunggah apa pun di media sosial tanpa caption sama sekali. Langsung hanya foto-foto pemandangan di tempat wisata yang dikunjungi atau kebersamaan dengan keluarga. Begitu pula, konten akun lain seperti berita cuma diunggah ulang.
Mulai sekarang, dorong diri untuk menambahkan tulisan barang beberapa kalimat. Sesuaikan dengan apa yang diunggah. Contoh, unggahan tentang pemandangan alam di hari yang cerah.
Dari apa yang tampak saja, kamu dapat menulis, "Langit biru di atas kepala. Bumi hijau di bawah kaki. Namun, hanya kamu yang selalu ada di hatiku." Hindari pemikiran bahwa menulis caption saja sulit. Menulis cuma butuh kombinasi hasil tangkapan indra dengan analisis atau imajinasi.
3. Belajar menulis pendapat yang diawali, "Menurutku ..."

ilustrasi menulis (pexels.com/Andrea Piacquadio) Kenapa menulis pendapat dapat menjadi awal yang baik supaya kamu berani nulis? Pertama, kamu tahu betul apa pendapatmu tentang sesuatu. Jika dirimu menulis pandangan orang lain, masih ada kemungkinan gagal paham lalu menyampaikan dengan keliru.
Kedua, pendapat pribadi tidak bisa disalahkan oleh siapa pun. Oleh karena itu, kamu yang takut tulisanmu disalahkan sangat aman untuk mencoba menuliskan pendapat sendiri. Cukup beri keterangan di awal kalimat dengan, "Menurut pendapatku …"
Atau, gunakan kata 'saya' kalau dirimu menginginkan kesan yang lebih formal. Semua orang bebas berpendapat sehingga kamu tidak perlu khawatir. Terpenting, pendapat soal apa pun disampaikan dengan bahasa yang sopan. Bahkan saat pendapatmu tegas serta keras, tidak sama dengan kasar.
4. Atau, tulisan berdasarkan pengalaman pribadi

ilustrasi membuat tulisan (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Selain pendapat, jenis tulisan yang kecil kemungkinan dihujat ialah berdasarkan pengalaman pribadi. Kamu benar-benar mengalaminya sendiri. Tidak ada orang yang bisa meragukan, apalagi menghakimi pengalaman tersebut.
Nyatanya, sesuatu telah terjadi. Agar belum apa-apa, kamu gak trauma terjebak pro-kontra karena tulisan sendiri, pilih pengalaman yang umum saja. Jangan pengalaman yang cenderung sensitif. Seperti komplain atas suatu layanan yang masih dapat disampaikan secara langsung dan pribadi ke penyedia layanan tersebut.
5. Membatasi pembaca dulu

ilustrasi menulis (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA) Kamu belum percaya diri bahwa tulisanmu dibaca oleh terlalu banyak orang. Jangankan tulisan, dinikmati masyarakat luas. Dirimu memilih kata saja masih berpikir lama. Ini dapat diatasi dengan cara membatasi siapa saja yang dapat membaca tulisanmu.
Misalnya, tulisan akan diunggah di media sosial. Kamu bisa mengatur semua atau hanya sebagian akun yang dapat melihatnya. Bahkan kolom komentar pun bisa dimatikan dulu apabila dirimu khawatir mendapatkan komentar negatif.
Daripada satu komentar yang kurang sesuai harapan langsung bikin kamu trauma membagikan tulisan, mending dinonaktifkan dulu. Akan tetapi, jangan terus-menerus melakukan ini. Bagaimanapun juga, dirimu perlu membangun keberanian agar tulisanmu dibaca oleh banyak orang.
6. Langsung kirim tulisan ke redaksi media massa atau penerbit

ilustrasi menulis (pexels.com/VAZHNIK) Barangkali cara ini terdengar gak masuk akal. Kamu baru belajar menulis, kok sudah disuruh mengirim hasilnya langsung ke redaksi penerbit atau media massa? Padahal, dirimu upload tulisan ke medsos saja belum berani.
Justru buatmu yang belum percaya diri hasil karyanya dibaca teman-teman medsos atau offline, lebih aman langsung kirim ke redaksi. Apalagi, kebutuhan akan naskah memang ada dan tulisanmu sesuai. Redaksi sudah terbiasa menerima berbagai macam tulisan.
Respons mereka terhadap naskah yang belum memenuhi standar terbit pun akan profesional. Ada kritik dan masukan, tetapi tidak kasar seperti yang dapat muncul di media sosial. Contohnya, dirimu mengirim naskah opini tentang kebijakan pemerintah. Jika tulisanmu gak lolos kurasi serta redaksi, mereka akan memberi alasan pembahasanmu kurang dalam atau sudah banyak naskah lain dengan tema serupa. Dirimu dipersilakan mengirimkan kembali tulisan-tulisanmu yang lain. Bukannya malu, dirimu justru bisa langsung belajar memperbaiki tulisan dari feedback tersebut.
Di tengah banyaknya konten berupa foto dan video yang setiap hari mewarnai semua media sosial, anak muda sepertimu perlu kembali membiasakan diri menulis. Sayang, jikalau kamu suka baca buku tapi gak berani nulis. Ingat, berbagi gagasan sangat penting untuk memajukan diri hingga ke masyarakat luas.






















