"Bermain secara timbal balik atau bergantian sangatlah penting," ujar Wittenberg.
Perkembangan Sosial Anak Usia 1-4 Tahun, Orangtua Perlu Tahu!

Melihat anak mulai tersenyum kepada orang lain, menyerahkan mainan, hingga bermain bersama teman sebaya tentu menjadi momen yang menyenangkan. Namun, kemampuan bersosialisasi berkembang secara bertahap seiring anak belajar berkomunikasi, memahami perasaan, dan mengenali lingkungan sekitarnya.
Setiap usia memiliki pencapaian sosial yang berbeda. Heather Wittenberg, Ph.D., psikolog berlisensi yang berspesialisasi dalam perkembangan anak, dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa perkembangan sosial berkaitan erat dengan berbagai aspek pertumbuhan lainnya. Yuk, kenali tahapan perkembangan sosial anak usia 1 hingga 4 tahun berikut ini!
1. Perkembangan sosial anak usia 1 tahun

sepasang lansia memangku bayi (pexels.com/pixabay) Pada usia ini, anak mulai mempelajari isyarat sosial melalui interaksi dengan orangtua dan orang-orang terdekat. Beberapa kemampuan berikut biasanya mulai terlihat.
1. Mulai melakukan komunikasi dasar
Anak usia 1 tahun umumnya menggunakan gerakan menunjuk dan suara untuk menyampaikan keinginan. Maria Kalpidou, Ph.D., profesor psikologi di Assumption College, dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa orangtua dapat mendukung kemampuan ini dengan merespons hal yang sedang diperhatikan anak sekaligus mengenalkan benda-benda di sekitarnya.
2. Mengenali orang-orang yang sudah akrab
Anak mulai mengenali orang-orang yang sering ditemuinya, seperti kakek, nenek, pengasuh, dan dokter anak. Mereka bisa menyambut kehadiran orang tersebut dengan senyuman atau tangisan, bergantung pada suasana hati. Menurut Heather Wittenberg, anak perlu mulai menyadari keberadaan orang-orang di sekitarnya, meskipun belum selalu menunjukkan respons yang ramah.
3. Mulai berinteraksi dengan orangtua
Ketika anak menyerahkan mainan kepada orangtua, ia mulai menunjukkan keinginan untuk berinteraksi dan belajar bermain bergantian. Meski belum sepenuhnya memahami konsep berbagi, orangtua bisa mendukung kemandiriannya sekaligus membiasakan interaksi dua arah.
2. Perkembangan sosial anak usia 2 tahun

ilustrasi anak kecil menggaruk hidung (.pexels.com/yankrukov) Pada usia 2 tahun, anak mulai tertarik berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas, meskipun masih nyaman bersama pengasuh utamanya. Berikut beberapa kemampuan yang mulai berkembang.
1. Mulai bersosialisasi dengan anak lain
Anak usia 2 tahun umumnya melakukan parallel play atau bermain paralel, yaitu bermain di dekat anak lain tanpa benar-benar terlibat dalam permainan bersama. Meski interaksinya masih terbatas, Wittenberg menilai anak tetap perlu diberi kesempatan menghabiskan waktu bersama teman sebaya.
2. Mulai mempertahankan barang miliknya
Anak mungkin mulai sering berebut mainan dan mengatakan, "Ini milikku!" Perilaku tersebut berkaitan dengan pola pikir egosentris karena mereka masih cenderung bertindak berdasarkan keinginan sendiri. Orangtua bisa membantu dengan memberi contoh kebiasaan berbagi dan bergiliran dalam kegiatan sehari-hari.
"Perilaku sosial mereka mencerminkan pola pikir egosentris, dan tindakan mereka masih dipandu oleh keinginan pribadi," jelas Kalpidou.
3. Mulai memperluas hubungan dengan orang lain
Anak mulai tertarik berinteraksi dengan orang di luar pengasuh utamanya, seperti kakek, nenek, atau orang yang ditemui saat berbelanja. Namun, sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang baru.
Wittenberg mengingatkan, wajar jika anak membutuhkan waktu untuk merasa nyaman ketika bertemu orang yang belum dikenal atau jarang mereka temui. Jadi, orangtua sebaiknya tidak memaksa anak untuk langsung akrab dan memberinya kesempatan menyesuaikan diri.
3. Perkembangan sosial anak usia 3 tahun

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay) Memasuki usia 3 tahun, anak biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bermain dan membangun pertemanan. Kemampuan sosialnya pun mulai berkembang melalui beberapa hal berikut.
1. Mulai mencari teman untuk berinteraksi
Anak mulai memasuki tahap associative play atau bermain asosiatif, yakni mencari teman dan melakukan aktivitas bersama. Wittenberg menyarankan orangtua memberi kesempatan anak bermain dengan teman sebaya, sembari membimbing mereka belajar berbagi dan menunggu giliran.
2. Mulai menggunakan imajinasi ketika bermain
Permainan pura-pura, mengenakan kostum, dan aktivitas kreatif lainnya mulai menjadi bagian dari kegiatan bermain anak. Menurut Kalpidou, anak juga mulai membangun pertemanan berdasarkan kesamaan minat.
Pada tahap ini, mereka perlahan belajar berkompromi dan menghargai orang lain. Kalpidou menjelaskan bahwa anak usia ini juga mulai lebih mampu menyelesaikan konflik agar tetap bisa bermain bersama teman-temannya.
3. Mulai memahami berbagai emosi
Anak mulai belajar mengenali perasaan sendiri dan memahami emosi orang lain. Orangtua bisa mengenalkan perasaan seperti bahagia, sedih, dan takut melalui buku cerita atau tontonan bersama.
Kemampuan tersebut juga dapat terlihat ketika anak memberikan pelukan atau ciuman kepada seseorang yang membutuhkan kenyamanan. Perilaku sederhana ini menjadi salah satu bentuk awal empati.
4. Perkembangan sosial anak usia 4 tahun

ilustrasi anak kecil makan bersama (pexels.com/naomishi) Menjelang usia sekolah, anak semakin banyak belajar tentang pertemanan, kerja sama, dan cara menempatkan diri dalam kelompok. Beberapa kemampuan berikut biasanya mulai terlihat.
1. Menunjukkan ketertarikan untuk menjadi bagian dari kelompok
Anak mulai menikmati kegiatan bersama kelompok dan berinteraksi dengan lebih banyak teman sebaya. Orangtua bisa memperkenalkan olahraga tim, seperti sepak bola atau T-ball, untuk melatih pengalaman bermain bersama.
Namun, Wittenberg menyarankan agar orangtua memilih aktivitas yang tidak memiliki terlalu banyak aturan atau batasan. Dengan begitu, anak bisa menikmati kegiatan tanpa merasa terbebani.
2. Mulai lebih mampu berbagi dan bekerja sama dengan orang lain
Meski terkadang masih berebut mainan, anak mulai memahami konsep berbagi dan menunggu giliran. Mereka juga semakin mampu mempertimbangkan pikiran serta kebutuhan orang lain ketika berinteraksi.
Kalpidou menjelaskan, kesadaran tersebut membantu anak mengembangkan kemampuan bernegosiasi dan menyelesaikan konflik secara verbal. Mereka juga mulai belajar memahami suasana emosional dalam kelompok.
3. Mulai menunjukkan kasih sayang secara fisik
Anak usia 4 tahun biasanya semakin sering menunjukkan kasih sayang melalui pelukan dan ciuman kepada orangtua, keluarga, maupun teman. Mereka juga mulai memperlihatkan kepedulian ketika melihat orang lain mengalami kesulitan atau kesedihan.
Menurut Kalpidou, anak-anak pada usia ini menunjukkan lebih banyak perilaku prososial, seperti berbagi dan mengungkapkan rasa simpati. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa anak mulai belajar memperhatikan perasaan orang lain.
4. Mulai menunjukkan kemandirian yang lebih besar
Keinginan melakukan berbagai hal sendiri semakin kuat, termasuk memilih dan mengenakan pakaian tanpa bantuan orangtua. Meski terkadang muncul pada waktu yang kurang tepat, keinginan tersebut merupakan bagian dari proses membangun kepercayaan diri.
Wittenberg menjelaskan bahwa anak perlu menunjukkan kemandirian sekaligus memahami situasi sosial yang sesuai. Karena itu, orangtua bisa memberi ruang bagi anak untuk mencoba melakukan sesuatu sendiri.
Perkembangan sosial anak gak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Daripada sibuk membandingkan pencapaiannya dengan anak lain, orangtua bisa mendukung proses tersebut melalui interaksi sehari-hari dan memberi kesempatan si kecil mengenal lingkungan sekitarnya.













![[MADING] RISE UP, SPEAK OUT!: BE AN UPSTANDER, NOT A BYSTANDER](https://image.idntimes.com/post/20261102/1000609021_b44118d0-dc87-4108-88c8-ca783d604a3e.jpg)








