ilustrasi menasehati teman yang tone deaf (pexels.com/RDNE Stock project)
Ada komentar yang secara isi mungkin benar, tetapi tetap terasa salah karena disampaikan pada momen yang gak tepat. Misalnya, ketika terjadi bencana, kamu langsung membahas kesalahan masyarakat dalam memilih lokasi tempat tinggal. Informasinya mungkin relevan untuk pembahasan mitigasi, tetapi ketika korban masih membutuhkan pertolongan, komentar tersebut bisa terdengar kurang berempati.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Melanie Booth-Butterfield dan Steven Booth-Butterfield dalam buku Interpersonal Essentials (2001). Mereka membahas pentingnya communication appropriateness atau kesesuaian dalam berkomunikasi. Sederhananya, saat berbicara, kita gak hanya perlu memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga melihat situasi yang sedang terjadi.
Jadi, meskipun isi komentarmu benar, belum tentu saat itu adalah waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang yang terdampak bisa membantu agar komentar yang kamu berikan gak terdengar kurang peka.
Jadi, sekarang kamu sudah tahu tanda-tanda komentar tone deaf. Yuk, coba lebih peka terhadap hal-hal tersebut!