Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Komentarmu Tone Deaf di Media Sosial meski Niatnya Gak Buruk
ilustrasi orang tone deaf (pexels.com/Kindel Media)
  • Komentar bisa dianggap tone deaf saat pengalaman pribadi dijadikan standar universal, tanpa mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain.
  • Respons positif terhadap masalah serius dapat berubah menjadi toxic positivity bila mengecilkan emosi korban; membahas diri sendiri juga berisiko menggeser fokus dari isu utama.
  • Sebelum berkomentar tentang isu sensitif, pahami konteks dan sumber lengkap serta pertimbangkan waktu penyampaian agar informasi yang benar tidak terdengar kurang empati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial membuat siapa saja bisa ikut berkomentar tentang isu yang sedang ramai. Niatnya mungkin sekadar berbagi perspektif, memberi semangat, atau menceritakan pengalaman sendiri. Namun, komentar yang terdengar biasa pada situasi lain, bisa dianggap gak peka ketika muncul di tengah isu sensitif.

Komentar seperti inilah yang sering disebut tone deaf. Seseorang belum tentu memiliki niat buruk, namun cara menyampaikan pendapatnya gak mempertimbangkan situasi dan pengalaman orang-orang yang sedang terdampak. Berikut beberapa tanda yang bisa kamu perhatikan!

1. Kamu menjadikan pengalaman pribadi sebagai standar untuk semua orang

ilustrasi orang yang tone deaf (pexels.com/Keira Burton)

Ketika media sosial ramai membicarakan biaya hidup, misalnya, kamu mungkin melihat komentar seperti, “Sebenarnya masih bisa menabung, kok. Kurangi saja nongkrong dan beli kopi.” Saran tersebut mungkin berhasil bagi sebagian orang, tetapi belum tentu relevan bagi mereka yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan pokok.

Peneliti Adam D. Galinsky dan Gordon B. Moskowitz menjelaskan pentingnya perspective taking, yaitu mencoba melihat suatu situasi dari perspektif orang lain. Penelitian mereka menunjukkan bahwa mengambil perspektif orang lain dapat membantu mengurangi stereotip dan kecenderungan melihat kelompok lain berdasarkan sudut pandang sendiri.

Perspective taking mengurangi ekspresi stereotip dan meningkatkan tumpang tindih antara representasi diri dan representasi terhadap orang lain,” tulis psikolog sosial Galinsky dan Moskowitz di jurnal ilmiah Perspective-Taking: Decreasing Stereotype Expression, Stereotype Accessibility, and In-Group Favoritism yang diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology

2. Kamu terlalu cepat mencari sisi positif dari masalah serius

ilustrasi teman tone deaf (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mencoba memberikan harapan sebenarnya gak salah. Namun, kalimat positif bisa terdengar tone deaf ketika orang yang terdampak bahkan belum punya kesempatan untuk memproses situasinya. Misalnya, menanggapi berita PHK dengan, “Mungkin ini jalan supaya mereka bisa menemukan pekerjaan yang lebih baik.”

Terapis Samara Quintero, LMFT, CHT dan psikolog klinis Jamie Long, PsyD menjelaskan bahwa sikap positif ini merupakan toxic positivity. Alih-alih memberikan dukungan, sikap tersebut justru bisa mengecilkan atau mengabaikan pengalaman emosional yang sebenarnya sedang dirasakan seseorang.

Toxic positivity adalah generalisasi berlebihan dan gak efektif dari kondisi bahagia dan optimistis dalam segala situasi. Proses ini menyebabkan penyangkalan, pengecilan, dan invalidasi terhadap pengalaman emosional manusia yang autentik,” jelas terapis pernikahan Samara Quintero dan psikolog klinis Jamie Long dalam artikel Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes, dilansir thepsychologygroup.com.

3. Isu orang lain malah menjadi kesempatan untuk membicarakan dirimu sendiri

ilustrasi orang yang tone deaf (pexels.com/SHVETS production)

Melihat sebuah isu mungkin mengingatkanmu pada pengalaman pribadi. Akhirnya, komentar yang awalnya ingin menunjukkan empati, justru lebih banyak membahas pencapaian, pengalaman, atau kondisi diri sendiri.

Misalnya, ketika orang-orang sedang membicarakan sulitnya mencari pekerjaan, kamu ikut berkomentar panjang tentang bagaimana dulu berhasil mendapatkan pekerjaan hanya dalam dua minggu. Cerita tersebut mungkin memang benar, tetapi fokus percakapan akhirnya bergeser dari persoalan yang sedang dibahas menjadi keberhasilan pribadi.

Jadi, sebelum membagikan pengalaman pribadi, coba telaah apa fungsi cerita tersebut dalam percakapan. Kalau pengalamanmu membantu memberikan konteks atau informasi, mungkin relevan. Namun, kalau hanya membuat diskusi kembali berpusat pada dirimu, komentar tersebut bisa terasa gak peka terhadap isu yang sedang dibicarakan.

4. Kamu berkomentar tanpa memahami konteks lengkapnya

ilustrasi teman tone deaf (pexels.com/Keira Burton)

Di media sosial, kita mudah bereaksi hanya berdasarkan satu potongan video, screenshoot, atau unggahan yang lewat di timeline. Setelah membaca beberapa kalimat, seseorang bisa merasa sudah cukup memahami masalah untuk memberikan pendapat.

Padahal, informasi yang kita terima bisa saja belum lengkap. Apalagi algoritma media sosial membuat pengguna melihat informasi yang telah dipilih berdasarkan berbagai sinyal, bukan keseluruhan konteks suatu peristiwa.

Karena itu, sebelum memberikan komentar tegas tentang isu sensitif, cek dulu sumber utama dan konteksnya. Komentar yang dibuat berdasarkan informasi setengah-setengah berisiko gak hanya terdengar tone deaf, tetapi juga ikut menyebarkan pemahaman yang keliru.

5. Komentarmu benar secara fakta, tetapi gak mempertimbangkan waktunya

ilustrasi menasehati teman yang tone deaf (pexels.com/RDNE Stock project)

Ada komentar yang secara isi mungkin benar, tetapi tetap terasa salah karena disampaikan pada momen yang gak tepat. Misalnya, ketika terjadi bencana, kamu langsung membahas kesalahan masyarakat dalam memilih lokasi tempat tinggal. Informasinya mungkin relevan untuk pembahasan mitigasi, tetapi ketika korban masih membutuhkan pertolongan, komentar tersebut bisa terdengar kurang berempati.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Melanie Booth-Butterfield dan Steven Booth-Butterfield dalam buku Interpersonal Essentials (2001). Mereka membahas pentingnya communication appropriateness atau kesesuaian dalam berkomunikasi. Sederhananya, saat berbicara, kita gak hanya perlu memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga melihat situasi yang sedang terjadi.

Jadi, meskipun isi komentarmu benar, belum tentu saat itu adalah waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang yang terdampak bisa membantu agar komentar yang kamu berikan gak terdengar kurang peka.

Jadi, sekarang kamu sudah tahu tanda-tanda komentar tone deaf. Yuk, coba lebih peka terhadap hal-hal tersebut!

Curated For You

Editorial Team

Related Article