Sebagai anak muda, kamu sebaiknya tidak anti terhadap jabatan. Posisi penting dalam organisasi apa pun perlu diisi oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya serta memiliki integritas. Usia muda atau tua bukan masalah, asal punya kedua syarat tersebut.
7 Reminder agar Gak Jadi Pejabat Tone Deaf, Terbuka pada Kritik

- Anak muda didorong mengisi jabatan bila kompeten dan berintegritas, sambil memanfaatkan energi, gagasan segar, keberanian, idealisme, serta penguasaan teknologi tanpa kehilangan kepekaan.
- Pejabat perlu mengingat mandat dan asal-usulnya, menyadari jabatan bersifat sementara, serta menjaga empati agar tetap memahami persoalan orang yang menjadi tanggung jawabnya.
- Untuk menghindari sikap tone deaf, pejabat perlu memverifikasi kondisi lapangan, menolak laporan manipulatif, tidak hanya percaya lingkaran dekat, dan terbuka terhadap kritik.
Namun, usia muda memberimu sejumlah keuntungan. Seperti energi yang melimpah, gagasan-gagasan segar, keberanian mengambil risiko, idealisme tinggi, serta penguasaan akan teknologi terkini. Pesannya cuma satu.
Setelah kamu menjadi pejabat, jangan sampai tone deaf. Dirimu harus tetap peka dan memiliki kepedulian tinggi pada semua orang yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabmu. Walaupun makin tinggi posisi bisa berpotensi bikin lupa diri, cegah itu terjadi padamu dengan memperhatikan tujuh reminder agar gak jadi pejabat tone deaf berikut ini.
1. Ingat siapa yang sesungguhnya memberikan jabatan itu

ilustrasi pejabat (pexels.com/Anil Sharma) Jabatan bukan sesuatu yang diperoleh olehmu langsung dari langit. Rekam jejakmu selama ini termasuk berbagai prestasi yang jelas berpengaruh. Akan tetapi, ada pula jabatan yang didapatkan tidak murni karena kemampuanmu.
Misalnya, jabatan hasil dari pemilihan. Ada faktor prestasi pribadi, tetapi itu menjadi kurang berguna apabila orang-orang tidak memberikan suaranya untukmu. Maka selamanya dirimu berutang kepercayaan pada para pemilihmu. Setelah kamu berhasil menduduki jabatan tersebut, jangan sampai suara mereka malah gak didengar.
2. Jangan lupa dengan asal-usulmu

ilustrasi pejabat (pexels.com/Tiger Lily) Selalu mengingat asal-usulmu bukan buat bikin kamu merasa rendah diri. Bahkan bila dirimu yang dulu sangat jauh dari kamu yang sekarang menempati posisi mentereng di kantor atau organisasi apa pun. Justru dengan tidak melupakan masa lalu, dirimu bakal menjauhi sikap acuh tak acuh terkait berbagai realitas.
Misalnya, kamu dan keluargamu dahulu hidup sangat susah. Nasib kalian baru pelan-pelan membaik selepas kalian bekerja, apalagi jika memegang jabatan. Jika kamu melupakan asal-usul, dirimu akan menjadi pejabat yang seolah-olah tidak tahu rasanya hidup susah. Sikapmu terhadap mereka dan berbagai persoalannya menjadi sembrono.
3. Menjabat tidak selamanya, cepat atau lambat kamu kembali jadi orang biasa

ilustrasi pejabat (pexels.com/Pavel Danilyuk) Bila hari ini kamu mendapatkan sebuah kepercayaan untuk menduduki jabatan, artinya cuma satu. Suatu saat dirimu juga akan kehilangan jabatan itu dengan berbagai cara. Salah satu yang paling wajar adalah karena habisnya masa jabatanmu.
Kamu gak bisa terus memaksakan diri berada di posisi yang tinggi ketika tiba waktunya mataharimu tenggelam. Kalau selama kamu menjabat bersikap tone deaf pasti bakal sulit diterima ketika kembali sebagai masyarakat atau staf biasa. Itu bukan pendaratan yang mulus setelah kariermu mencapai puncak.
4. Waspadai laporan asal kamu senang

ilustrasi pejabat (pexels.com/Litoon dev) Saat kamu menduduki jabatan penting, akan banyak orang menjadi penjilat. Mereka tidak hanya berdiri di barisan paling depan untuk mendukung setiap keputusanmu. Mereka juga suka memanipulasi laporan atau data cuma buat bikin kamu senang.
Mereka sengaja menyembunyikan fakta di lapangan daripada kena omelanmu. Mereka juga berharap bisa memperoleh keuntungan pribadi kalau dirimu menyukai laporan-laporan palsu tersebut. Jangan gampang terkecoh oleh hitam di atas putih serta laporan manis.
Kamu kudu punya banyak mata-mata buat memeriksa apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Dirimu juga mesti terus menegaskan kepada anak buah untuk memberikan laporan apa adanya saja. Tekankan bahwa setiap ketidakberesan justru wajib dilaporkan, atau dirimu akan marah atas ketidakjujuran mereka.
5. Jangan terlalu memercayai orang dekat dan mencurigai pengkritik

ilustrasi pejabat (pexels.com/Vishal Kampani) Secara logika, tentu kamu lebih percaya pada orang-orang terdekatmu. Dirimu gak sembarangan menentukan siapa yang berada di circle utamamu. Akan tetapi, menaruh kepercayaan terlalu besar pada mereka dapat berbahaya.
Apalagi dengan sikapmu yang antipati terhadap setiap pengkritik. Seakan-akan kritik mereka pasti bertujuan buruk padamu. Padahal, kritik justru penting untuk memperbaiki berbagai kebijakanmu. Mereka merupakan penyeimbang terhadap para pendukungmu yang kadang mengembangkan sikap loyalitas buta.
6. Sempatkan waktu untuk cek lapangan

ilustrasi pejabat (pexels.com/Litoon dev) Sebagai pejabat, sudah pasti kamu sangat sibuk. Kesibukanmu berlipat-lipat dibandingkan dengan sebelum menjabat. Dirimu juga sudah punya banyak staf untuk menangani masalah-masalah di lapangan. Agar kamu bisa fokus mengurus hal-hal yang lebih besar.
Meski demikian, tetaplah meluangkan waktu untuk secara berkala turun langsung ke lapangan. Biar kamu tahu kondisi nyatanya. Tidak melulu berdasarkan laporan orang lain. Stafmu juga akan lebih jujur dalam memberikan laporan apabila dirimu sesekali terjun ke lapangan.
7. Rawat empati yang mudah hilang saat jarakmu dengan orang lain melebar

ilustrasi pejabat (pexels.com/Lokesh Tiwari) Tambah tinggi jabatanmu, tambah jauh jarakmu dengan kebanyakan orang. Seperti teman-teman lama yang sampai hari ini gak pegang jabatan apa-apa. Sementara itu, dirimu makin banyak dikelilingi oleh sesama pejabat.
Lingkungan pergaulanmu mau tak mau berubah. Akan tetapi, sifat dan sikapmu pada orang lain harus tetap sebaik bahkan lebih baik lagi dari dulu. Kalau kamu gak waspada, kemampuanmu berempati pada orang-orang yang kehidupannya amat berbeda darimu bisa menipis. Namun, itu tidak bakal terjadi selama dirimu dengan sadar serta sungguh-sungguh berusaha buat merawatnya.
Pejabat dengan sikap tone deaf sangatlah tidak disukai karena seakan menutup mata dan telinga, sedangkan solusi nyata untuk berbagai persoalan yang terjadi pun tak ada. Malah segala ucapan dan perbuatannya cenderung menimbulkan masalah baru. Jika suatu hari kamu diberi kepercayaan untuk duduk di kursi petinggi, tujuh reminder agar gak jadi pejabat tone deaf seperti penjelasan di atas perlu diimani.













![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Bagaimana Gaya Bekerjamu](https://image.idntimes.com/post/20240731/screenshot-2024-07-31-110715-9c84d19ef5d0013432e1371c5ba91423.png)







