Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tarot Bilang Move On, Hati Bilang Coba Sekali Lagi

4 min read
Tarot Bilang Move On, Hati Bilang Coba Sekali Lagi
Kartu Tarot (pexels.com/DΛVΞ GΛRCIΛ)
  • Sebagian orang memakai tarot untuk mencari kepastian tentang hubungan, tetapi kerap sudah membawa jawaban yang diharapkan dan menjadikannya alat validasi.
  • Pencarian validasi bisa membentuk siklus: pembacaan diulang, pertanyaan diubah, atau pembaca dianggap tidak cocok hingga muncul jawaban yang terasa nyaman.
  • Tarot dapat menjadi sarana refleksi dan melihat sudut pandang lain, tetapi keputusan hidup tetap perlu dibuat sendiri tanpa mengabaikan kenyataan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

“Dia masih sayang aku gak?”

“Bakal ada potensi sama dia kedepannya gak ya?”

Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seseorang yang sedang berada dalam hubungan tanpa kepastian, jawaban atas pertanyaan tersebut bisa terasa sangat penting. Tidak sedikit orang kemudian mencoba mencari jawabannya melalui tarot. Kartu dibuka satu per satu, berharap ada petunjuk mengenai perasaan seseorang, masa depan hubungan, atau kemungkinan untuk kembali bersama.

Lalu, bagaimana jika kartu yang muncul justru memberikan jawaban yang tidak sesuai harapan?

“Coba satu kartu lagi deh.”

Fenomena tersebut mungkin terdengar lucu, tetapi cukup menggambarkan bagaimana sebagian orang menggunakan dan memaknai tarot tersebut. Alih-alih datang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui, seseorang terkadang sudah memiliki jawaban yang diinginkan sebelum kartu pertama dibuka. Tarot kemudian menjadi tempat untuk mencari validasi atas harapan, perasaan, atau keyakinan yang sebelumnya sudah ada.

Misalnya, seseorang yang masih berharap kembali dengan mantan kekasih datang untuk menanyakan apakah hubungan mereka masih memiliki peluang. Ketika hasil pembacaan menunjukkan bahwa hubungan tersebut sebaiknya diakhiri, respons yang muncul belum tentu berupa penerimaan.

“Kayaknya emang tangannya lagi bau.”

Dari situ, pertanyaan baru pun muncul. Kartu kembali dikocok, pertanyaan dibuat sedikit berbeda, dan pembacaan dilakukan sekali lagi. Harapannya sederhana, yakni mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang ingin didengar.

  1. 1. Ketika tarot menjadi tempat mencari pembenaran

    Ilustrasi pembacaan kartu tarot
    Tiga orang dewasa terlibat dalam sesi pembacaan tarot. (Pexels/cottonbro studio)

    Tarot selama ini sering dikenal sebagai salah satu metode pembacaan kartu yang digunakan untuk memberikan gambaran mengenai berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan percintaan, pekerjaan, hingga persoalan pribadi. Bagi sebagian orang, tarot juga menjadi ruang untuk melakukan refleksi terhadap situasi yang sedang mereka hadapi.

    Namun, ada perbedaan antara mencari perspektif dan mencari pembenaran. Ketika seseorang mencari perspektif, ia cenderung terbuka terhadap berbagai kemungkinan, termasuk jawaban yang mungkin tidak sesuai dengan harapannya. Sebaliknya, ketika yang dicari adalah validasi, seseorang dapat lebih mudah menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinannya.

    Hal tersebut membuat tarot menjadi menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai praktik spiritual atau hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari cara manusia menghadapi ketidakpastian. Ketika sedang bingung, manusia cenderung ingin mendapatkan kepastian. Dalam urusan percintaan, misalnya, pertanyaan seperti “Apakah dia masih memikirkan aku?”, “Apakah kami akan balikan?”, atau “Apakah dia sebenarnya jodohku?” dapat muncul karena adanya keinginan untuk mengetahui sesuatu yang belum memiliki jawaban pasti.

    Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin sebenarnya sudah mengetahui jawaban dari masalah yang sedang dihadapinya. Tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, komunikasi yang semakin renggang, atau seseorang yang sudah jelas memilih untuk pergi sebenarnya sudah terlihat. Namun, menerima kenyataan tidak selalu mudah.

    Tarot akhirnya dapat menjadi tempat untuk mencari kemungkinan lain. Bukan karena seseorang benar-benar tidak tahu jawabannya, tetapi karena ia belum siap menerimanya.

  2. 2. Antara refleksi dan denial

    Ilustrasi orang denial
    Ilustrasi orang yang sedang denial terhadap perasaannya. (Pexels/cottonbro studio)

    Di sinilah pencarian validasi dapat berubah menjadi siklus. Seseorang mungkin akan terus bertanya hingga menemukan interpretasi yang sesuai dengan keinginannya. Jika satu pembacaan tidak memberikan jawaban yang diharapkan, ia dapat mencoba pembacaan lain. Jika kartu mengatakan harus melepaskan, muncul pertanyaan lain tentang kemungkinan kembali.

    Jika jawabannya tetap sama, mungkin tarot reader yang dianggap kurang cocok. Siklus tersebut kemudian berputar pada satu tujuan: menemukan jawaban yang terasa nyaman. Padahal, jawaban yang nyaman belum tentu merupakan jawaban yang ingin kita hadapi.

    Meski begitu, bukan berarti tarot selalu digunakan sebagai bentuk pelarian dari kenyataan. Bagi sebagian orang, tarot justru dapat menjadi medium untuk berhenti sejenak dan melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

    Kartu-kartu yang muncul dapat menjadi pemicu seseorang untuk mempertanyakan kembali perasaannya sendiri. Mengapa ia masih mempertahankan hubungan tersebut? Apa yang sebenarnya ia takutkan? Apakah ia masih menginginkan orang tersebut atau hanya takut kehilangan kenangan yang pernah dimiliki?

    Dalam konteks tersebut, tarot mungkin tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang memberikan jawaban mutlak. Pembacaan tarot dapat menjadi percakapan yang membantu seseorang mengartikulasikan hal-hal yang sebelumnya sulit untuk diungkapkan.

    Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang menyikapi hasil pembacaan. Jika tarot digunakan sebagai bahan refleksi, jawaban yang tidak sesuai harapan tetap dapat menjadi bahan pertimbangan. Namun jika tarot hanya digunakan untuk mencari pembenaran, hasil yang tidak sesuai keinginan justru cenderung ditolak.

  3. 3. Tarot boleh jadi panduan, bukan penentu

    Ilustrasi Pengambilan Kartu Tarot
    Pengambilan kartu tarot. (Pexels/cottonbro studio)

    Pada akhirnya, tidak ada salahnya menggunakan tarot sebagai hiburan, sarana refleksi, atau cara untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang berbeda. Namun, penting untuk membedakan antara mencari perspektif dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada kartu.

    Jika hasil pembacaan tidak sesuai dengan keinginan, mungkin tidak perlu buru-buru mengocok kartu kembali hanya untuk mendapatkan jawaban yang lebih menyenangkan. Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar membutuhkan jawaban baru atau sebenarnya hanya belum siap menerima jawaban yang pertama?

    Tarot boleh membantu kita melihat sesuatu dari sudut pandang lain, tetapi keputusan mengenai hubungan, pekerjaan, maupun kehidupan tetap berada di tangan kita sendiri. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan validasi justru membuat kita mengabaikan kenyataan yang sudah ada di depan mata. Sebab, terkadang yang paling kita butuhkan bukan kartu lain, melainkan keberanian untuk menerima jawaban yang sebenarnya sudah kita tahu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More