Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tetangga Pamer Terus? Ini 6 Cara biar Kamu Tetap Damai

ilustrasi tetangga yang sedang pamer
ilustrasi tetangga yang sedang pamer (pexels.com/Mental Health America (MHA))
Intinya sih...
  • Pahami alasan orang pamer, bisa jadi karena kebutuhan diakui atau rasa insecure yang disembunyikan.
  • Jangan bandingkan hidupmu dengan hidup mereka, setiap orang punya garis start dan jalur hidup yang berbeda.
  • Jaga jarak emosional tanpa harus bermusuhan, fokus pada hidup sendiri dan perkuat rasa cukup dalam diri sendiri.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kita hidup berdampingan dengan tetangga yang sifatnya bermacam-macam. Ada yang baik hati, tapi ada juga yang menyebalkan. Salah satu yang mungkin bikin kita kesal sampai mengelus dada setiap hari adalah saat punya tetangga yang hobi pamer. Mulai dari pamer barang baru, pamer pencapaian anak, sampai pamer gaya hidup. Kadang niatnya hanya cerita, tapi lama-lama bikin capek kita yang mendengarnya. 

Tenang, kamu tidak sendirian. Banyak orang juga merasakan hal yang sama. Di sini, kita akan membahas bagaimana cara menghadapi tetangga pamer tanpa harus ribut, tanpa bikin suasana jadi panas, dan tanpa harus kalah mental. Simak, yuk!

1. Pahami dulu kenapa orang pamer

ilustrasi dua orang sedang berbicara
ilustrasi dua orang sedang berbicara (pexels.com/August de Richelieu)

Pertama, pahami dulu kalau pamer itu sering kali soal kebutuhan diakui. Tidak semua orang yang pamer itu punya niat jahat. Ada yang memang sekadar ingin diakui, ingin dilihat, atau sekadar butuh validasi. Kadang, di balik kebiasaan pamer itu ada rasa insecure yang disembunyikan. Jadi, daripada langsung baper atau kesal, coba lihat dari sudut pandang ini. Bukan hanya membenarkan, tapi supaya kamu tidak langsung tersulut emosi.

2. Jangan bandingkan hidupmu dengan hidup mereka

ilustrasi dua orang sedang berbicara
ilustrasi dua orang sedang berbicara (pexels.com/fauxels)

Ini bagian yang paling susah, tapi juga paling penting. Saat tetangga pamer mobil baru, rumah direnovasi, atau anaknya masuk sekolah favorit, otak otomatis membandingkannya dengan nasibmu. Nah, di sinilah jebakannya. Setiap orang punya garis start dan jalur hidup yang beda. Apa yang mereka tampilkan belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Bisa jadi yang dipamerkan hanya potongan kecil dari hidup mereka. Ingat, hidup bukan lomba lari. Tiap orang punya pace sendiri. Mungkin, yang lebih cocok untukmu adalah jalan santai daripada lari.

3. Jaga jarak emosional tanpa harus bermusuhan

ilustrasi mendengarkan orang berbicara
ilustrasi mendengarkan orang berbicara (pexels.com/mentatdgt)

Kamu tidak harus ikut-ikutan atau memutus silaturahmi. Namun, kamu boleh kok menjaga jarak secara emosional. Artinya, tetap sopan, tetap ramah, tapi tidak perlu sering ngobrol apalagi kalau dia sudah mulai pamer. Kalau mulai merasa tidak nyaman, alihkan topik atau sudahi obrolan dengan halus.

4. Jangan terpancing untuk balas pamer

ilustrasi dua perempuan sedang berbicara
ilustrasi dua perempuan sedang berbicara (pexels.com/Liza Summer)

Ini reaksi yang sering muncul, kalau dia pamer, kamu juga merasa harus pamer. Padahal, ini malah jadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Kamu jadi melakukan sesuatu bukan karena ingin, tapi karena ingin menyamai orang lain. Akhirnya, bukan bahagia yang datang, tapi tekanan. Lebih baik fokus ke hidupmu sendiri. Kamu tahu apa yang kamu perjuangkan, kamu tahu apa yang bikin kamu tenang. Tidak semua pencapaian harus diumbar.

5. Perkuat rasa cukup dalam diri sendiri

ilustrasi bersyukur
ilustrasi bersyukur (pexels.com/Marcus Wöckel)

Tetangga pamer itu hanya akan jadi masalah besar kalau kita sendiri belum merasa cukup. Makin kamu damai dengan hidupmu, makin kecil pengaruh omongan orang. Coba biasakan untuk bersyukur secara realistis, bukan sok positif, tapi jujur pada diri sendiri: “Ya, hidupku mungkin belum sempurna, tapi ada banyak hal yang sudah baik.” Rasa cukup itu bukan berarti berhenti berkembang, tapi berhenti membandingkan.

6. Pilih lingkungan ngobrol yang sehat

ilustrasi menghadiri acara sosial
ilustrasi menghadiri acara sosial (pexels.com/Helena Lopes)

Kalau kamu sering terpapar obrolan yang isinya adu pencapaian, wajar kalau mental ikutan lelah. Untuk itu, perlahan tinggalkan circle suka pamer dan mulai pilih siapa yang layak jadi tempat cerita, tempat ketawa, dan tempat curhat. Lingkungan yang sehat itu bukan yang selalu sukses, melainkan yang membuatmu pulang dengan perasaan lebih ringan, bukan makin kecil. Jadi, kalau tetangga yang suka pamer tidak bisa kamu hindari sepenuhnya, setidaknya kamu bisa menyeimbangkannya dengan teman-teman yang lebih membumi.

Menghadapi tetangga pamer memang butuh latihan mental. Tidak semua orang bisa langsung kebal, namun seiring waktu, kamu akan bisa memfilter mana yang perlu didengar, mana yang cukup dilewati. Hidup kamu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan merasa minder karena pencapaian orang lain.

Fokus ke versi terbaik dari dirimu sendiri. Bukan versi yang terlihat paling menawan di mata tetangga, tapi versi yang paling tenang saat kamu sendirian. Percayalah, ketenangan itu jauh lebih mahal daripada sekadar terlihat “lebih” di mata orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

Karier Zodiak Minggu Pertama Februari 2026, Virgo Harus Kerja Efisien

02 Feb 2026, 07:00 WIBLife