Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
The Epic Journey Karya Rony Timothy: Menghargai Desain dan Kemanusiaan
Press conference bertajuk "An EPIC Gift from Our 12 Year Journey" yang digelar di ASHTA District 8, Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

  • Rony Timothy memperkenalkan buku The Epic Journey di Jakarta sebagai refleksi 12 tahun perjalanan VERSHOME dan referensi spesifik tentang desain pameran, booth, serta spatial yang sulit ditemukan.
  • Buku ini menekankan desain sebagai hasil riset, strategi, komunikasi, pertukaran ide, dan kolaborasi; bukan sekadar visual, melainkan juga hubungan serta kepercayaan antarmanusia.
  • Rony berharap The Epic Journey menginspirasi desainer, generasi muda, dan calon pemimpin untuk membangun organisasi berdampak melalui visi, kreativitas, kerja keras, dan nilai kemanusiaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Banyak orang lebih mudah mengapresiasi hasil akhir sebuah karya, tetapi sering kali melupakan proses panjang yang ada di baliknya. Padahal, setiap karya lahir dari rangkaian ide, eksplorasi, diskusi, hingga kolaborasi yang melibatkan banyak orang. Proses tersebut tidak hanya membentuk sebuah desain, tetapi juga menciptakan hubungan, kepercayaan, dan pengalaman yang menjadi bagian penting dari terciptanya sebuah karya yang bermakna.

Hal inilah yang menjadi perhatian Rony Timothy, founder & creative director VERSHOME. Dalam press conference bertajuk "An EPIC Gift from Our 12 Year Journey" yang digelar di ASHTA District 8, Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026), Rony bersama Desiree Tarigan selaku owner Mamitoko memperkenalkan buku The Epic Journey.

Melalui buku tersebut, Rony ingin mengajak pembaca melihat desain dari sudut pandang yang lebih luas. Baginya, setiap karya tidak hanya dinilai dari tampilan akhirnya, tetapi juga lahir dari proses berpikir, pertukaran ide, komunikasi, hingga kerja sama yang terjalin di balik pembuatannya. Lantas, seperti apa cerita di balik buku The Epic Journey?

1. Motivasi pembuatan buku "The Epic Journey"

Press conference bertajuk "An EPIC Gift from Our 12 Year Journey" yang digelar di ASHTA District 8, Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Rony Timothy membagikan kisah di balik lahirnya buku The Epic Journey yang berangkat dari keresahannya sebagai seorang creative director. Ia mengaku gemar mencari buku sebagai referensi dan sumber inspirasi sebelum memulai sebuah proyek desain. Namun, ia menyadari bahwa buku yang secara khusus membahas desain pameran atau exhibition sangat sulit ditemukan, bahkan di pusat-pusat desain dunia seperti London, Tokyo, hingga Seoul.

Keresahan tersebut kemudian mendorongnya untuk menciptakan buku yang tidak hanya menjadi referensi, tetapi juga membuka perspektif baru mengenai dunia desain pameran. Melalui The Epic Journey, Rony memiliki misi untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar lebih menghargai nilai (value) sebuah desain. Baginya, desain bukan sekadar tampilan visual, melainkan hasil dari proses berpikir, riset, strategi, dan kolaborasi yang panjang. Ia juga berharap buku ini dapat menjadi pionir sekaligus standar referensi bagi para desainer exhibition agar profesi tersebut semakin dikenal dan diapresiasi.

"Ini berawal ketika saya ingin mencari buku tentang desain interior yang berhubungan dengan booth, exhibition, dan spatial. Di Indonesia, bahkan saat saya pergi ke London, Tokyo, dan Seoul, buku tersebut hampir tidak ada. Sedangkan bagi saya, sebelum mulai mendesain, untuk mencari purpose memerlukan referensi yang cukup rare. Dari situ, saya memiliki keinginan untuk membuat buku. Pioneering membuat sebuah buku yang kayaknya tuh spesifik banget, yang orang gak pernah lihat. Siapa tahu jadi referensi," tuturnya.

2. Bukan hanya tentang karya desain, tetapi juga jalinan hubungan antarmanusia

Press conference bertajuk "An EPIC Gift from Our 12 Year Journey" yang digelar di ASHTA District 8, Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Di balik setiap proyek yang dikerjakannya, Rony menyadari bahwa terdapat satu nilai yang selalu hadir, yaitu hubungan antarmanusia. Kesadaran tersebut semakin kuat ketika dirinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan menjadi salah satu pesan utama yang ingin ia sampaikan melalui buku The Epic Journey.

Bagi Rony, sebuah bisnis bukan sekadar hubungan transaksional antara klien dan penyedia jasa. Sebaliknya, setiap proses kreatif dibangun melalui komunikasi, rasa saling percaya, serta upaya memahami kebutuhan satu sama lain. Prinsip "memanusiakan manusia" inilah yang menjadi fondasi dalam setiap karya yang ia ciptakan.

Karena itu, buku The Epic Journey tidak hanya menampilkan kumpulan karya desain yang telah dibuat selama bertahun-tahun. Lebih dari itu, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa di balik sebuah karya terdapat proses bertukar ide, komunikasi yang kompleks, hingga kolaborasi yang melahirkan hubungan antarmanusia yang kuat. Menurutnya, hubungan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan sebuah karya desain.

"Dalam menciptakan sebuah karya, komunikasi merupakan salah satu elemen penting keberhasilan karya yang dibuat. Diperlukan proses bertukar ide, memastikan keinginan klien, hingga kerja sama nyata dalam membuat karya. Hal tersebutlah yang menjadikan karya desain bukan hanya tentang visual, tetapi hubungan antarmanusia," tambahnya.

3. Dapat menjadi referensi bagi calon pemimpin masa depan

Press conference bertajuk "An EPIC Gift from Our 12 Year Journey" yang digelar di ASHTA District 8, Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Melalui The Epic Journey, Rony berharap buku ini tidak hanya menjadi referensi bagi para desainer, tetapi juga bagi para pemimpin dan calon pemimpin masa depan. Menurutnya, membangun sebuah organisasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan nilai, visi, serta kemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di dalamnya.

Ia berharap buku ini dapat menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi besar, berpikir kreatif, dan menciptakan organisasi yang mampu memberikan dampak positif bagi banyak orang.

"Melalui buku ini, aku berharap dapat menginspirasi calon-calon pemimpin masa depan, bahkan mungkin calon presiden untuk membangun organisasi yang berdampak positif bagi banyak orang," ungkapnya.

Lebih jauh, Rony ingin menyampaikan bahwa setiap hambatan dapat diubah menjadi peluang jika dihadapi dengan kerja keras, visi yang jelas, dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Baginya, keberhasilan sebuah karya tidak hanya diukur dari hasil visual yang memukau, tetapi juga dari proses, kolaborasi, dan hubungan yang terbangun selama perjalanan tersebut. Melalui The Epic Journey, ia mengajak masyarakat untuk melihat bahwa desain bukan sekadar soal estetika, melainkan tentang bagaimana sebuah karya mampu menghadirkan makna dan memberikan dampak bagi banyak orang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article