Mengapa Buku Bekas Jangan Langsung Didaur Ulang? Ini 4 Alasannya

- Menggunakan kembali buku bekas lebih diprioritaskan daripada mendaur ulang karena proses daur ulang kertas tetap membutuhkan listrik, air, dan bahan kimia.
- Meneruskan buku kepada pembaca baru mencegah timbulan sampah secara langsung, sekaligus berpotensi menekan kebutuhan cetak ulang, penebangan pohon, dan emisi distribusi.
- Donasi atau berbagi buku menjaga nilai pengetahuan di dalamnya serta memperluas akses literasi melalui pembaca lain, perpustakaan, atau taman baca.
Ada berapa buku yang menumpuk di rumahmu? Apakah kamu berpikir untuk mendaur ulangnya supaya gak jadi sampah? Misal, membuatnya menjadi kerajinan tangan, membawanya ke bank sampah, atau menjualnya ke pengepul kertas. Barangkali solusi-solusi tersebut terdengar ramah lingkungan, ya. Namun, tahu gak bahwa gak semua barang bekas itu harus selalu didaur ulang, termasuk buku.
Dalam prinsip pengelolaan lingkungan (reduce, reuse, recycle), reuse atau menggunakan kembali punya posisi yang lebih tinggi dibanding recycle atau mendaur ulang. Artinya, sebelum recycle, kamu bisa melakukan reuse. Berikut alasan utama mengapa buku bekas lebih baik diteruskan dibanding didaur ulang!
1. Menghemat bahan baku pembuatan barang baru

Daur ulang memang menjadi salah satu prinsip pengelolaan lingkungan dan tampak hijau. Namun, gak seratus persen hijau, ya. Sebab, fakta menariknya, proses daur ulang juga tetap memerlukan energi. Nah, kalau dilakukan dalam jumlah banyak, energi yang dibutuhkan pun besar. Misanya, untuk mengolah kertas bekas menjadi bubur kertas atau pulp kemudian dicetak lagi, diperlukan pasokan listrik dan air yang besar. Bahan kimia pun dibutuhkan dalam prosesnya.
Nah, ini berbeda kalau kamu memilih meneruskan buku bekasmu ke orang lain alih-alih menjualnya ke pengepul untuk didaur ulang. Kalau demikian, gak banyak energi dan bahan baku yang diperlukan. Buku preloved-mu bisa langsung berpindah tangan dan dibaca pembacanya yang baru.
2. Timbunan sampah bisa dicegah secara langsung

Ketika kamu memilh untuk reuse dengan meneruskan buku bekas ke pembaca baru, kamu secara langsung mencegah potensi sampah baru. Meneruskan berarti gak ada sampah yang tersisa, bukan. Dengan kata lain, buku tetap utuh tanpa ada unsur yang terbuang. Lingkungan pun terbebas dari tambahan limbah. Berbeda kalau buku bekasmu didaur ulang, misalnya dibuat menjadi kerajinan tangan atau barang lain secara pribadi. Kalau demikian, akan ada bagian yang terbuang karena gak terpakai.
3. Menahan laju produksi buku baru

Kalau buku bekasmu diteruskan ke orang lain sebagai pembaca barunya, kamu secara langsung menekan permintaan cetak ulang buku baru itu. Sebab, ada potensi pembelian buku baru yang dihemat. Nah, bayangkan kalau bukan kamu saja yang melakukannya, tetapi juga orang-orang di berbagai belahan dunia. Kalau diakumulasikan, barangkali jumlahnya terbilang besar dan hal itu akan mengurangi penebangan pohon serta emisi karbon dari proses distribusi yang ada. Langkah sederhana ini nyatanya membuat seseorang dapat berkontribusi menjaga kelestarian hutan.
4. Menguatkan akses literasi di samping menjaga nilai pengetahuan

Buku merupakan sumber ilmu pengetahuan. Wadah ilmu, gagasan, maupun cerita ada di dalamnya. Hal ini gak terbatas pada buku nonfiksi saja ya seperti buku pengembangan diri dan pendidikan, melainkan juga buku fiksi seperti novel. Nah, saat kamu memutuskan untuk mendaur ulang buku menjadi barang baru, nilai edukasinya pun ikut hilang.
Ini berbeda saat kamu memilih meneruskannya pada orang lain atau mendonasikannya ke perpustakaan maupun taman baca. Kalau demikian, nilai ilmu pengetahuan di dalamnya tetap terjaga. Kamu pun secara langsung berkontribusi dalam menguatkan akses literasi.
Jadi, sebelum recycle, kamu bisa melakukan reuse dulu, ya. Alih-alih langsung mendaur ulang buku bekasmu, teruskanlah buku bekas itu kepada pembaca baru. Yuk, berikan lagi kesempatan kepada bukumu untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain! Sudah tahu mana buku yang mau kamu donasikan?






















