Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Bertahan Hidup di Desa Saat Ekonomi Sedang Sulit, Praktikkan!
ilustrasi berkebun (freepik.com/freepik)
  • Memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan bahan pangan bisa membantu menghemat pengeluaran serta mendukung kemandirian keluarga di tengah kondisi ekonomi sulit.
  • Menjaga kerja sama dengan warga desa melalui budaya saling bantu, berbagi hasil, dan gotong royong dapat meringankan beban hidup bersama saat situasi ekonomi menantang.
  • Menggali potensi desa seperti menjual hasil kebun, beternak, atau membuat produk lokal bernilai jual tinggi menjadi cara efektif menambah pemasukan dan memperkuat ekonomi desa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat kondisi ekonomi sedang sulit, hidup di desa bisa terasa menantang, terutama jika penghasilan tidak menentu dan harga kebutuhan harian terus naik. Meski begitu, desa sebenarnya punya banyak potensi yang bisa dimanfaatkan, mulai dari lahan, hasil alam, keterampilan warga, sampai budaya saling membantu yang masih kuat.

Tinggal di desa bukan berarti pilihan hidup jadi terbatas. Justru dengan cara yang tepat, kehidupan bisa dibuat lebih hemat, mandiri, dan tetap produktif meski situasi ekonomi sedang tidak mudah. Lalu, apa saja tips yang bisa dilakukan agar tetap bertahan di desa saat kondisi ekonomi sedang sulit?

1. Manfaatkan pekarangan untuk kebutuhan pangan harian

ilustrasi berkebun (freepik.com/freepik)

Salah satu cara paling sederhana untuk mengurangi pengeluaran adalah memanfaatkan pekarangan rumah. Lahan kecil di sekitar rumah bisa digunakan untuk menanam sayuran, cabai, tomat, daun bawang, singkong, atau tanaman bumbu yang sering dipakai untuk memasak. Hasilnya mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa membantu mengurangi belanja dapur harian.

Alvaro Lario, President of the International Fund for Agricultural Development atau IFAD, mengatakan, “Family farming is the backbone of the rural economy everywhere in the world,” dikutip dari IFAD. Artinya, pertanian keluarga punya peran besar dalam ekonomi desa, termasuk untuk menjaga kebutuhan pangan rumah tangga.

Dengan kebiasaan kecil ini, pekarangan rumah bukan hanya jadi ruang kosong, tetapi juga bisa menjadi sumber pangan sederhana yang membantu keluarga lebih hemat dan mandiri.

2. Perkuat kerja sama dengan warga sekitar

ilustrasi berkebun sayuran (freepik.com/pressfoto)

Saat ekonomi sedang sulit, hubungan baik dengan tetangga dan warga sekitar bisa sangat membantu. Di desa, budaya saling bantu masih bisa menjadi kekuatan besar, misalnya lewat berbagi hasil panen, bertukar jasa, meminjam alat, atau bekerja bersama untuk kebutuhan tertentu tanpa harus selalu mengeluarkan uang. Kerja sama seperti ini juga dekat dengan nilai koperasi dan ekonomi bersama.

Ariel Guarco, Presiden International Cooperative Alliance atau ICA, “Koperasi hadir dalam setiap aspek kehidupan kita," dikutip dari ICA.

Dengan menjaga hubungan baik dan membangun kebiasaan saling membantu, beban hidup di desa bisa terasa lebih ringan. Di tengah kondisi sulit, kekuatan warga justru bisa menjadi modal penting untuk bertahan bersama.

3. Cari pemasukan tambahan dari potensi desa

ilustrasi berkebun (pexels.com/zen-chung)

Selain menghemat pengeluaran, penting juga mencari peluang pemasukan tambahan dari hal-hal yang ada di sekitar. Misalnya menjual hasil kebun, membuat makanan rumahan, beternak kecil-kecilan, membuka jasa jahit, menjual produk lokal secara online, atau mengolah hasil tani menjadi produk yang punya nilai jual lebih tinggi.

Potensi ekonomi desa tidak hanya berhenti pada bertani, tetapi juga bisa berkembang ke usaha kecil dan rantai pasok pangan. Sektor pangan dan agribisnis bisa membuka peluang kerja dan penghasilan baru, termasuk bagi masyarakat desa.

Hidup di desa saat ekonomi sedang sulit memang butuh strategi, kesabaran, dan kreativitas. Dengan memanfaatkan pekarangan, menjaga kerja sama warga, dan mencari peluang usaha kecil, kehidupan bisa tetap berjalan lebih kuat meski kondisi belum sepenuhnya mudah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article