Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tonic Immobility: Saat Tubuh Korban Membeku di Tengah Ancaman Kekerasan

4 min read
Tonic Immobility: Saat Tubuh Korban Membeku di Tengah Ancaman Kekerasan
ilustrasi orang menutup wajahnya dengan tangan (pexels.com/Justin Thompson)
  • Tonic immobility adalah respons biologis involunter saat ancaman ekstrem, membuat korban kekerasan seksual kaku, tak mampu bergerak atau bersuara ketika melawan maupun kabur dinilai tidak memungkinkan.

  • Respons ini dapat melalui tahap siaga, melawan atau lari, membeku, kelumpuhan atau pingsan, lalu pemulihan; tidak semua orang yang terancam mengalaminya.

  • Tonic immobility dapat berkaitan dengan PTSD, depresi, kecemasan, insomnia, dan penarikan diri; dukungan mencakup validasi, empati tanpa menghakimi, menghormati batasan, serta bantuan psikolog atau psikiater.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masyarakat sering menganggap bahwa korban kekerasan seksual itu harus berani melawan saat diserang. Adanya perlawanan bahkan menjadi kriteria gak tertulis yang menandakan seseorang merupakan korban sesungguhnya (perfect victim). Kalau korban hanya “diam” ketika pelecehan itu terjadi, masyarakat mengasumsikannya sebagai bentuk persetujuan (consent). Padahal, ketiadaan perlawanan bukan berarti pasrah.

Kondisi tersebut merupakan respons pertahanan tubuh saat individu berada dalam ancaman yang amat besar, pun rasa takut yang ekstrem. Kondisi ini dikenal dengan istilah tonic immobility. Supaya kamu lebih memahami apa itu tonic immobility, penyebab, mekanisme terjadinya, dan dampak psikologis yang ditimbulkan, yuk simak ulasan berikut!

  1. 1. Definisi tonic immobility

    ilustrasi orang merasa tertekan
    ilustrasi orang merasa tertekan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Hal yang perlu kamu ingat adalah gak semua korban mampu melawan atau melarikan diri ketika merasa terancam. Salah satu bentuk respons korban akibat trauma adalah tonic immobililty (kelumpuhan sementara). Tonic immobility bisa muncul sebagai respons involunter (di luar kendali kesadaran) yang membuat seseorang gak mampu bergerak atau bersuara selama serangan seksual.

    Saat kondisi ini berlangsung, otot-otot tubuh terasa kaku, lemas, atau bahkan lumpuh total. Pita suara pun seolah terkunci sehingga korban gak mampu berteriak untuk meminta bantuan. Tonic immobility merupakan reaksi neurologis biologis yang gak bisa dikontrol oleh kesadaran dan kehendak seseorang, terjadi ketika tubuh merasakan bahaya yang intens dan saat otak menilai bahwa opsi melawan (fight) atau melarikan diri (flight) sudah gak mungkin dilakukan atau justru memperbesar risiko bahaya itu.

  2. 2. Mekanisme terjadinya tonic immobility

    ilustrasi orang menutup wajahnya dengan tangan
    ilustrasi orang menutup wajahnya dengan tangan (pexels.com/Timur Weber)

    Bagaimana tahapan tonic immobility yang umumnya dialami oleh korban kekerasan seksual? Melansir laman Alodokter, gak semua orang yang merasa terancam mengalami kondisi ini. Namun, kalau seseorang mengalaminya, ia akan mengalami sejumlah tahapan sebelum rasa kaku itu muncul, di antaranya.

    1. Arousal, kesadaran dan kepekaan individu terhadap potensi bahaya maupun ancaman di sekitarnya
    2. Flight or fight, reaksi aktif tubuh untuk melawan
    3. Freeze, respons membeku sejenak untuk menilai situasi sebelum mengambil tindakan perlawanan
    4. Tonic immobility (kelumpuhan) dan collapsed immobility (pingsan), respons ketika ancaman tak bisa dihindari
    5. Quiescent immobility (diam), keadaan untuk istirahat dan masa pemulihan akibat trauma

  3. 3. Dampak tonic immobility

    ilustrasi orang disudutkan
    ilustrasi orang disudutkan (pexels.com/Ivonne Vallejos)

    Lalu, apa dampak dari tonic immobility yang dialami oleh korban kekerasan seksual? Trauma berkepanjangan yang muncul dari kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan fisik maupun mental korban.

    Melansir laman Alodokter, tonic immobility kerap dikaitkan dengan meningkatnya gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD). Sebab, korban sering kali terjebak dalam rasa bersalah (self-blame) atas ketidakmampuan mereka untuk memberikan perlawanan saat serangan terjadi.

    Self-blame ini bisa saja muncul atau semakin intens karena masyarakat terus menerus menyudutkan korban dengan pertanyaan yang mengandung unsur victim blaming, seperti “kenapa gak teriak?” atau “kenapa gak kabur aja?”. Narasi penghakiman semacam inilah yang memperparah luka yang dialami.

    Selain PTSD, dampak lain dari tonic immobility pada kesehatan mental ialah depresi dan kecemasan berlebihan (anxiety). Gangguan kesehatan fisik seperti kelelahan kronis dan insomnia juga bisa saja dialami oleh korban. Kemudian, dalam konteks hubungan sosial, korban juga mungkin menarik diri dari lingkungan sekitarnya dan sulit untuk mempercayai orang lain.

  4. 4. Penanganan trauma pasca tonic immobility dan cara mendukung penyintas

    ilustrasi orang saling merangkul
    ilustrasi orang saling merangkul (Pexels.com/mododeolhar)

    Kalau orang terdekatmu mengalami kondisi ini, kamu bisa membawanya ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan.

    Ada sejumlah terapi yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi trauma yang dialami korban kekerasan seksual, seperti terapi perilaku kognitif untuk membenahi pola pikir negatif pascatrauma, terapi prolonged exposure untuk membantu korban menghadapi pemicu trauma di tempat yang aman, terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) untuk memproses ulang ingatan traumatik agar emosi negatif menjadi emosi positif, maupun praktik self-care.

    Adapun untuk mendukung penyintas yang mengalami tonic immobility, kamu bisa melakukannya dengan memvalidasi perasaan mereka dan mendengarkan penuh empati tanpa menghakimi, hormati batasan, serta ciptakan ruang yang aman (safe space). Pastikan lingkungan sekitar mereka bebas dari ancaman maupun pemicu trauma. Jangan pernah memaksa mereka untuk bercerita jika belum siap.

    Memahami tonic immobility membuat kita menyadari bahwa gak adanya perlawanan fisik bukanlah tanda dari persetujuan atau kepasrahan. Pemahaman ini dapat menjadi langkah awal untuk menghentikan victim blaming dan membangun ruang yang lebih aman bagi korban kejahatan. Sudah saatnya kita berhenti menghakimi bagaimana tubuh seseorang bereaksi untuk bertahan hidup, fokuslah memberikan dukungan penuh kepada mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More