Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kamu Pernah Ribut di Grup WA Wali Murid? Ini 5 Tipe Pemicunya

Kamu Pernah Ribut di Grup WA Wali Murid? Ini 5 Tipe Pemicunya
ilustrasi membuka grup chat (pexels.com/Ivan S)
Intinya Sih
  • Artikel membahas dinamika grup WhatsApp wali murid yang sering memicu drama, terutama saat orangtua sulit menyesuaikan diri dan berinteraksi di awal tahun ajaran baru.
  • Dijelaskan lima tipe pemicu keributan, mulai dari orangtua paling aktif mengusulkan kegiatan, pengadu masalah anak di grup, hingga yang suka menyindir atau terlalu kritis terhadap kebijakan sekolah.
  • Situasi ini membuat sebagian wali murid memilih pasif demi menjaga ketenangan, meski tetap harus bertahan di grup karena penting untuk komunikasi terkait pendidikan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memasuki tahun ajaran baru, bukan hanya anak yang perlu beradaptasi dengan lingkungan sekolah serta rutinitas baru. Orangtua juga sejatinya tak lepas dari perasaan ketar-ketir karena mesti menyesuaikan diri dengan sesama wali murid. Apalagi di zaman sekarang para orangtua siswa biasanya dimasukkan ke grup chat khusus oleh wali kelas anak.

Tujuannya tentu baik. Supaya komunikasi pihak sekolah yang diwakili oleh wali kelas dengan semua wali murid berjalan mudah serta lancar. Repot apabila wali kelas mesti kasih pengumuman secara pribadi ke setiap orangtua.

Diskusi terkait proses belajar mengajar juga dapat dilakukan secara transparan di grup WA. Namun, tak jarang grup orangtua siswa justru dipenuhi drama yang cukup menguras emosi. Kalau kamu menjadi salah satu anggotanya jangan mudah terpancing dan ikut ribut.

1. Si paling ngide kegiatan di luar sekolah dan kesal kalau ditolak

membaca chat
ilustrasi membaca chat (pexels.com/Rene Terp)

Ada orangtua murid yang super kreatif bila menyangkut kegiatan di luar sekolah. Baik aktivitasnya ditujukan buat anak-anak maupun para orangtua. Seperti camping anak-anak dengan dalih melatih keberanian.

Atau, jalan-jalan bareng seluruh wali murid untuk meningkatkan keakraban serta kekompakan. Tak hanya itu, rencananya juga detail meliputi kendaraan yang akan disewa, urusan konsumsi, sampai seragam. Biar penampilannya sama semua dan bagus ketika difoto.

Saat ide begini cuma dilontarkan 1 atau 2 kali setahun jelang libur sekolah mungkin terasa seru. Akan tetapi, tambah sering ada orangtua yang punya ide ini itu tambah repot pula buat semua. Pengeluaran cenderung membengkak dan bikin ribet saja. Terutama buat orangtua yang bekerja. Masalahnya, orangtua yang memiliki ide bakal kesal kalau para orangtua lainnya gak mendukung.

2. Masalah antaranak yang bisa dibicarakan dengan orangtua langsung di-up di grup

membaca chat
ilustrasi membaca chat (pexels.com/Matilda Wormwood)

Antarsiswa kerap terjadi perselisihan. Tambah kecil usianya biasanya ada-ada saja masalah yang terjadi antarkawan. Selalu ada anak yang berbuat kurang baik pada temannya baik secara sengaja maupun tidak.

Bahkan candaan pun dapat berujung salah satu anak menangis atau terluka. Seperti awalnya mereka seru bermain kejar-kejaran lalu salah satu terdorong sedikit dan terjatuh. Persoalan-persoalan yang gak begitu serius semestinya cukup dibicarakan dengan orangtua siswa terkait.

Akan tetapi, ada tipe wali murid pengadu di grup. Jangankan persoalan anak terjatuh hingga terluka ketika bermain bersama kawan. Satu saja alat tulis anaknya dipinjam teman yang lupa gak segera mengembalikannya pun diadukan ke wali kelas melalui grup chat.

3. Begitu pula persoalan yang cukup disampaikan ke wali kelas diunggah ke grup

membaca chat
ilustrasi membaca chat (pexels.com/Helena Lopes)

Berkebalikan dengan poin 2. Terdapat tipe orangtua yang terlalu mendominasi grup WA. Ia membicarakan semua persoalan yang lebih pribadi dan seharusnya disampaikan via japri ke wali kelas melalui grup WA. Secara aturan memang gak ada larangan terkait hal ini.

Wali kelas tetap menjawab chat orangtua tersebut dengan baik. Hanya saja secara etika kurang pas. Grup yang semestinya milik bersama menjadi seakan-akan dikuasai oleh satu wali murid saja. Selagi orangtua ini sibuk mengemukakan persoalannya pada wali kelas, anggota grup yang lain cuma bisa diam membaca.

Percakapan mereka bahkan dapat berkepanjangan hingga puluhan atau ratusan pesan. Banyak orangtua memilih untuk berhenti membacanya dan bersikap cuek. Namun, menjadi menyebalkan kalau orangtua tersebut mendadak kesal pada wali kelas atau menyalahkan sistem yang bikin suasana grup kurang kondusif.

4. Nyindir-nyindir gak jelas sampai bikin semua orang baper

membuka grup chat
ilustrasi membuka grup chat (pexels.com/Anna Shvets)

Perilaku menyindir sulit ditunjukkan kalau hanya ada dua orang yang berkomunikasi baik secara langsung maupun melalui chat. Sindiran memang umumnya dilemparkan di forum yang diikuti oleh banyak orang. Makin banyak orang yang dapat membaca atau mendengar sindiran tersebut, makin puas juga perasaannya.

Masalahnya, dalam sindiran jarang targetnya sangat jelas. Semua orang yang membaca sindiran salah satu orangtua di grup WA dapat baper bersama-sama. Setiap orang menjadi berpikir jangan-jangan dirinya yang tengah disenggol.

Akibatnya, anggota grup tidak nyaman lagi untuk saling berkomunikasi. Situasi tambah gak keruan seandainya ada orangtua lain yang balas menyindir. Sekalipun sindirannya ditujukan pada orang yang pertama kali menyindir, orangtua lainnya ikut baper. Satu grup justru menjadi saling bermusuhan.

5. Apa-apa dikomplain, gak bisa sedikit saja tenang serta menurut

membuka grup chat
ilustrasi membuka grup chat (pexels.com/Vitaly Gariev)

Terakhir, drama akibat sikap superkritis salah satu orangtua siswa. Sebenarnya sikap kritis baik untuk mengontrol berbagai kebijakan sekolah. Namun, menyebalkan juga apabila setiap hal dikomplain olehnya.

Seakan-akan tidak ada hal yang bagus atau tepat di matanya. Adanya anggota grup yang begini kerap menimbulkan kegaduhan. Komplainnya yang begitu sering akan menghambat jalannya berbagai kegiatan.

Banyak waktu terbuang hanya untuk memuaskan satu orang. Energi orangtua lainnya pun terasa terkuras meski hanya menyimak perdebatannya dengan wali kelas. Rasa tak percayanya pada pihak sekolah amat besar. Padahal, mengikuti kebijakan tersebut juga bukan sesuatu yang buruk.

Potensi drama di grup WA wali murid membuat sebagian orang enggan untuk aktif. Mereka cuma menjadi silent reader dan membalas hanya ketika benar-benar dibutuhkan. Sayangnya, semenyebalkan apa pun suasana di grup wali murid, orangtua tak bisa keluar begitu saja sebab akan memengaruhi kelancaran studi anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More