Jakarta, IDN Times - Selama ini, usia 40 tahun kerap dikaitkan dengan anggapan tua, midlife crisis, dan mulai kehilangan relevansi dengan perkembangan dunia di sekitarnya. Di masa kini, ada pula yang menyebutnya sebagai "jompo" karena kemampuan fisiknya mulai menurun dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya dan mulai tergantung orang lain. Lantas, hal ini turut membatasi produktivitas usia 40 tahunan dalam sejumlah hal.
Namun, anggapan tersebut terpatahkan lewat riset bertajuk "Decoding the Prime Generation" yang diprakarsai oleh Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN). Riset ini secara spesifik meneliti Prime Generation, yakni kelompok usia di atas 40 tahun yang memasuki fase kehidupan dengan pengalaman dan kemampuan yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Hasilnya, kelompok usia tersebut tetap memiliki keinginan berkembang dan menjalani berbagai hal yang diinginkan. Mereka memahami apa yang penting baginya, aktif dalam kehidupan soal, terbuka mempelajari hal baru, dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung hidupnya.
“Selama bertahun-tahun, para pemasar menjadikan konsumen muda sebagai sumber utama pertumbuhan. Padahal, segmen konsumen berusia 40 tahun ke atas kini mulai muncul sebagai salah satu peluang pasar terbesar,” ujar Devi Attamimi, Group CEO Hakuhodo International Indonesia soal potensi generasi tersebut di dunia marketing.
Penasaran dengan penemuan-penemuan unik lainnya? Berikut ini beberapa poin temuan tentang Prime Generation yang disampaikan pada ASEAN Sei-Katsu-Sha Forum 2026 "Decoding The Prime Generations" pada Kamis (3/9/2026) di Bengkel SCBD, Jakarta Selatan.
