Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Banyak Ibu Merasa Lelah Secara Mental, Bukan Sekadar Capek Biasa

6 Alasan Banyak Ibu Merasa Lelah Secara Mental, Bukan Sekadar Capek Biasa
ilustrasi perempuan sedang menghadapi stress (pexels.com/mart-production)

Menjadi ibu sering kali terlihat biasa saja dari luar, padahal di balik itu ada tanggung jawab besar yang gak pernah benar-benar berhenti. Bukan cuma soal mengurus anak atau pekerjaan rumah, tapi juga memikirkan banyak hal sekaligus dalam waktu bersamaan. Gak heran kalau banyak ibu merasa lelah secara mental, bahkan saat tubuhnya sebenarnya gak terlalu capek.

Perasaan ini valid banget dan dialami oleh banyak ibu di berbagai situasi. Ada banyak faktor yang diam-diam menguras energi pikiran, mulai dari tekanan sosial sampai tuntutan peran yang kompleks. Yuk, pahami beberapa alasan di balik kelelahan mental yang sering dirasakan para ibu berikut ini.

1. Beban mental rumah tangga yang tidak terlihat

ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian (pexels.com/annushkaahuja)
ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian (pexels.com/annushkaahuja)

Banyak ibu bukan hanya mengerjakan, tapi juga memikirkan semua urusan rumah tangga. Mulai dari jadwal anak, stok makanan, sampai hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Semua itu terus berjalan di kepala tanpa jeda.

Akibatnya, ibu jarang benar-benar merasa istirahat meski sedang duduk santai. Pikiran tetap aktif dan sulit dimatikan, seolah selalu ada yang harus dipikirkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa bikin cepat lelah secara emosional.

“Para ibu sering memikul stres dan beban membesarkan anak tanpa pengakuan dari masyarakat. Hal ini bisa berujung pada kelelahan dan masalah kesehatan mental,” kata Jessica Vernon, MD, PMH-C, seorang dokter kandungan (OB-GYN) bersertifikat dan direktur kesehatan mental di Oula, dikutip dari Parents.

2. Tuntutan untuk menjadi sempurna di semua peran

ilustrasi ibu memandikan anak (unsplash.com/motherofwilde)
ilustrasi ibu memandikan anak (unsplash.com/motherofwilde)

Di satu sisi, ibu diharapkan hadir sepenuhnya untuk keluarga. Tapi di sisi lain, mereka juga dituntut tetap produktif, mandiri, dan punya kehidupan pribadi yang seimbang. Ekspektasi ini sering kali datang dari banyak arah, bahkan dari diri sendiri.

Ketika merasa tidak bisa memenuhi semuanya, rasa bersalah pun muncul. Lama-kelamaan, tekanan ini bikin mental terasa berat dan sulit untuk benar-benar merasa cukup. Padahal, gak ada manusia yang bisa sempurna di semua peran.

“Ibu masih diharapkan menjadi pengasuh yang penuh kasih dan selalu tersedia. Namun di saat yang sama, mereka juga dituntut untuk merawat diri, mempertahankan karier, dan membesarkan anak yang mandiri,” jelas Mona Potter, MD, seorang psikiater anak bersertifikat, dikutip dari Parents.

3. Kurangnya waktu untuk diri sendiri

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring)
Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring)

Banyak ibu terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri. Waktu yang ada lebih sering habis untuk anak, pasangan, atau urusan rumah. Akhirnya, waktu untuk sekadar istirahat atau melakukan hal yang disukai jadi sangat terbatas.

Padahal, tanpa waktu untuk recharge, energi mental bisa cepat habis. Ibu jadi lebih mudah merasa lelah, sensitif, bahkan kehilangan semangat. Hal sederhana seperti me-time sebenarnya punya peran besar untuk menjaga kesehatan mental.

4. Tekanan dari media sosial

ilustrasi bermain handphone (pexels.com/rdne)
ilustrasi bermain handphone (pexels.com/rdne)

Media sosial sering menampilkan gambaran parenting yang terlihat sempurna. Tanpa sadar, ibu jadi membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih berhasil. Padahal, yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan sepenuhnya.

Perbandingan ini bisa memicu rasa gak percaya diri dan merasa kurang baik sebagai orangtua. Bahkan saat sudah berusaha maksimal, tetap muncul perasaan belum cukup. Inilah yang diam-diam bikin mental terasa makin lelah.

“Bahkan ketika orangtua sudah melakukan yang terbaik, sering kali tetap terasa selalu ada orang lain yang melakukannya lebih baik,” Dana Wogahn, LCSW, seorang profesional kesehatan mental berpengalaman, dikutip dari Parents.

5. Perubahan hormon dan kondisi biologis

ilustrasi perempuan sedang menghadapi stress (pexels.com/mart-production)
ilustrasi perempuan sedang menghadapi stress (pexels.com/mart-production)

Perubahan hormon selama menstruasi, kehamilan, hingga setelah melahirkan bisa memengaruhi emosi secara signifikan. Ibu jadi lebih mudah cemas, sensitif, atau mengalami perubahan mood yang cepat. Ini adalah hal alami, tapi tetap berdampak pada kondisi mental.

Ditambah lagi dengan kurang tidur dan adaptasi peran baru, kondisi ini bisa terasa makin berat. Gak heran kalau banyak ibu merasa kewalahan di fase-fase tertentu. Semua ini jadi kombinasi yang bikin mental cepat terkuras.

6. Minimnya dukungan dan akses bantuan

ilustrasi perempuan sedang bersedih (pexels.com/karolina-grabowska)
ilustrasi perempuan sedang bersedih (pexels.com/karolina-grabowska)

Gak semua ibu punya support system yang kuat. Ada yang harus menjalani semuanya sendiri tanpa bantuan pasangan atau keluarga. Kondisi ini tentu bikin beban terasa jauh lebih berat.

Selain itu, akses ke layanan kesehatan mental juga belum merata. Banyak ibu yang akhirnya memilih diam dan memendam perasaannya sendiri. Padahal, dukungan sederhana bisa sangat berarti untuk meringankan beban mental.

Menjadi ibu memang penuh tantangan, tapi bukan berarti kamu harus menjalaninya sendirian. Rasa lelah secara mental itu wajar dan manusiawi, bukan tanda kamu gagal. Pelan-pelan, coba beri ruang untuk diri sendiri, karena kamu juga berhak merasa baik-baik saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us