Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Consent Gak Cuma Soal Relationship: Belajar Hargai Batas Orang Lain
Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/cottonbro studio)

Kalau mendengar kata consent, banyak orang mungkin langsung mengaitkannya dengan hubungan romantis atau aktivitas seksual. Padahal, konsep ini sebenarnya jauh lebih luas. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga membutuhkan persetujuan ketika ingin menyentuh orang lain, membagikan foto teman, membuka barang pribadi, menceritakan masalah seseorang, atau mengambil keputusan yang melibatkan orang lain.

Sederhananya, consent berarti menghargai hak seseorang untuk menentukan apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi dirinya. Jadi, belajar memahami consent juga berarti belajar menghormati batas, pilihan, privasi, dan otonomi orang lain.

1. Consent dimulai dari menghargai pilihan orang lain

Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Photo by Loc Dang)

Consent pada dasarnya berkaitan erat dengan otonomi. American Psychological Association (APA) mendefinisikan consent sebagai "voluntary assent or approval given by an individual", atau persetujuan yang diberikan secara sukarela oleh seseorang.

Jadi setiap orang mempunyai hak untuk menentukan apa yang ingin dilakukan terhadap dirinya, selama keputusan tersebut tidak melanggar hak orang lain. Oleh karena itu, menghargai consent bukan berarti harus selalu setuju dengan pilihan seseorang, melainkan memahami bahwa pilihan tersebut merupakan hak mereka.

2. Mengatakan "tidak" bukan tantangan yang harus ditaklukkan

ilustrasi pertemanan (Pexels.com/Liza Summer)

Salah satu bentuk penghormatan terhadap consent adalah mampu menerima jawaban "tidak" tanpa menjadikannya sebagai tantangan. Dalam kehidupan sehari-hari, penolakan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Teman mungkin tidak ingin dipeluk, rekan kerja tidak ingin menceritakan masalah pribadinya, atau seseorang mungkin tidak nyaman fotonya diunggah ke media sosial.

RAINN, organisasi nonprofit yang berfokus pada pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, menjelaskan bahwa consent membutuhkan "clear communication, mutual respect, and ongoing agreement." Prinsip ini menunjukkan bahwa persetujuan bukan sesuatu yang diperoleh dengan memaksa sampai orang lain menyerah. Ketika seseorang mengatakan "tidak", respons yang paling menghargai adalah menerima jawaban tersebut.

3. Consent juga berlaku untuk hal-hal kecil sehari-hari

ilustrasi pertemanan (pexels.com/ELEVATE)

Consent tidak harus selalu berkaitan dengan keputusan besar. Hal-hal sederhana seperti meminjam barang, membuka ponsel teman, memeluk seseorang, mengambil foto, atau menceritakan pengalaman pribadi orang lain juga dapat menyentuh batas personal.

Meskipun terlihat sepele, kebiasaan meminta izin membuat orang lain merasa bahwa ruang pribadinya dihargai. Contohnya, kamu mungkin merasa tidak masalah ketika teman mengambil ponselmu untuk melihat sesuatu.

Namun, bukan berarti semua orang mempunyai batas yang sama. Ada orang yang sangat menjaga isi percakapan, galeri foto, atau catatan pribadinya. Begitu juga dengan sentuhan fisik. Sebuah pelukan yang dianggap biasa bagi seseorang, belum tentu nyaman bagi orang lain.

 

4. Jangan menggunakan kedekatan sebagai alasan menerobos batas

Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, terkadang semakin mudah muncul anggapan bahwa kita otomatis tahu apa yang mereka inginkan. Sahabat merasa bebas membuka cerita pribadi temannya. Pasangan menganggap boleh memeriksa ponsel karena sudah saling percaya. Anggota keluarga menganggap berhak mengetahui semua urusan pribadi karena hubungan darah.

Padahal, kedekatan tidak otomatis menghapus batas. Justru hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk memahami bahwa seseorang tetap memiliki ruang pribadi meskipun hubungan mereka sangat dekat. Rasa percaya bukan berarti seseorang kehilangan hak atas privasi atau keputusan personalnya.

"Hubungan sosial merupakan prasyarat kausal bagi—dan bahkan unsur pembentuk—otonomi individu. Hal yang penting untuk dicatat, hubungan kepercayaan memainkan peran mendasar dalam proses ini," jelas Thomas Nys, PhD, dari University of Amsterdam dalam Journal of Medicine and Philosophy PubMed Central.

Artinya, hubungan dengan orang lain justru dapat menjadi bagian penting dalam membentuk otonomi seseorang. Karena itu, hubungan yang sehat seharusnya membantu seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri, bukan membuatnya kehilangan kemampuan menentukan batas.

5. Belajar bertanya, mendengar, dan menghormati jawaban

Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/cottonbro studio)

Mempraktikkan consent sebenarnya tidak selalu rumit. Salah satu kebiasaan paling sederhana adalah bertanya sebelum melakukan sesuatu yang menyangkut orang lain. "Boleh aku posting foto ini?", "Kamu nyaman kalau aku cerita soal ini?", atau "Boleh aku pinjam barangmu?" adalah contoh pertanyaan sederhana yang menunjukkan penghargaan terhadap pilihan orang lain.

Selain bertanya, kita juga perlu benar-benar mendengarkan jawabannya. Jangan bertanya hanya sebagai formalitas lalu mengabaikan jawaban ketika tidak sesuai dengan keinginan kita. Consent yang sehat membutuhkan ruang bagi seseorang untuk mengatakan "ya", "tidak", atau bahkan berubah pikiran.

"Prosedur informed consent yang diterapkan dengan baik mencerminkan penghormatan psikoterapis terhadap hak klien untuk menentukan nasib sendiri, serta dapat mendorong kontribusi bermakna dalam proses terapi dengan cara meningkatkan rasa saling percaya, membangun hubungan yang harmonis (*rapport*), dan menumbuhkan rasa memiliki," jelas Celia B. Fisher, PhD, profesor di bidang psikologi di Fordham University, bersama Matthew Oransky dalam Journal of Clinical Psychology PubMed.

Consent bukan sekadar aturan dalam hubungan romantis, melainkan bagian dari cara kita memperlakukan manusia lain. Belajar menghargai "tidak" dan memberi ruang bagi orang lain untuk menentukan batasnya adalah salah satu bentuk kedewasaan dalam berinteraksi, karena hubungan yang sehat bukan tentang seberapa jauh kita bisa masuk ke kehidupan orang lain, tetapi seberapa baik kita tahu batasan orang lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article