Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/cottonbro studio)
Mempraktikkan consent sebenarnya tidak selalu rumit. Salah satu kebiasaan paling sederhana adalah bertanya sebelum melakukan sesuatu yang menyangkut orang lain. "Boleh aku posting foto ini?", "Kamu nyaman kalau aku cerita soal ini?", atau "Boleh aku pinjam barangmu?" adalah contoh pertanyaan sederhana yang menunjukkan penghargaan terhadap pilihan orang lain.
Selain bertanya, kita juga perlu benar-benar mendengarkan jawabannya. Jangan bertanya hanya sebagai formalitas lalu mengabaikan jawaban ketika tidak sesuai dengan keinginan kita. Consent yang sehat membutuhkan ruang bagi seseorang untuk mengatakan "ya", "tidak", atau bahkan berubah pikiran.
"Prosedur informed consent yang diterapkan dengan baik mencerminkan penghormatan psikoterapis terhadap hak klien untuk menentukan nasib sendiri, serta dapat mendorong kontribusi bermakna dalam proses terapi dengan cara meningkatkan rasa saling percaya, membangun hubungan yang harmonis (*rapport*), dan menumbuhkan rasa memiliki," jelas Celia B. Fisher, PhD, profesor di bidang psikologi di Fordham University, bersama Matthew Oransky dalam Journal of Clinical Psychology PubMed.
Consent bukan sekadar aturan dalam hubungan romantis, melainkan bagian dari cara kita memperlakukan manusia lain. Belajar menghargai "tidak" dan memberi ruang bagi orang lain untuk menentukan batasnya adalah salah satu bentuk kedewasaan dalam berinteraksi, karena hubungan yang sehat bukan tentang seberapa jauh kita bisa masuk ke kehidupan orang lain, tetapi seberapa baik kita tahu batasan orang lain.