Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Fexting dapat Memberburuk Pertengkaran dalam Relationship
Ilustrasi fexting (pexels.com/Anete Lusina)
  • Fexting, atau bertengkar lewat pesan, terasa lebih aman karena memberi waktu menyusun respons dan jeda emosional, terutama saat membahas topik sensitif.
  • Tanpa nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, pesan mudah disalahartikan; balasan cepat saat emosi juga dapat memperbesar kesalahpahaman dan konflik.
  • Untuk konflik lewat chat, perhatikan waktu, tunda balasan saat marah, dan lanjutkan isu serius secara tatap muka demi mencapai kesepakatan atau kompromi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagai generasi digital, kita semua pernah mengalami mengirim pesan saat marah dan menunggu balasan yang malah memperburuk keadaan. Bahkan, kata-kata yang paling sederhana pun dapat disalahpahami tanpa intonasi, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh.

Berdebat lewat pesan teks mungkin terasa lebih mudah daripada berbicara tatap muka. Hal ini dikenal dengan istilah fexting, yaitu bertengkar melalui pesan teks, yang sering kali dimulai sebagai cara untuk menghindari konfrontasi. Lantas, mengapa fexting dapat memberburuk pertengkaran dalam relationship?

1. Mengapa kita fexting?

Ilustrasi fexting (pexels.com/Craig Adderley)

Konflik tatap muka bukanlah hal yang menyenangkan. Melakukan diskusi melalui pesan teks atau dikenal dengan istilah fexting (fight-over-text) dalam relationship terasa lebih aman, lebih mudah, dan lebih nyaman bagi pasangan.

“Banyak orang yang tidak berani membahas topik sensitif secara tatap muka dapat melakukannya melalui pesan teks," kata Raffi Bilek, LCSW-C, seorang terapis pasangan di Baltimore Therapy Center, dikutip dari Real Simple.

Ada beberapa manfaat membahas masalah serius melalui pesan teks. Pertama, kamu punya waktu untuk mempertimbangkan tanggapan daripada langsung mengucapkan hal-hal yang akhirnya malah lebih menyakitkan. Dan jika kamu merasa belum siap secara emosional untuk membalas saat itu juga, kamu dapat memilih untuk keluar dari percakapan sampai siap.

2. Lalu, mengapa fexting dapat memberburuk pertengkaran dalam relationship?

Ilustrasi fexting (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Meskipun fexting menawarkan manfaat, hal ini juga mendorong masalah baru. Mengirim pesan teks tidak memberi banyak ruang untuk berekspresi. Orang di seberang layar atau pasangan kita tidak dapat sepenuhnya membaca isyarat, seperti bahasa tubuh atau nada suara.

Berikut adalah alasan-alasan utama mengapa fexting dapat memberburuk pertengkaran dalam relationship:

  • Tidak ada nada emosional yang terlibat

Kata-kata tertulis seringkali dapat disalahartikan, dan tanpa nada suara untuk memperjelas, mudah untuk berasumsi yang terburuk tentang niat seseorang.

Saat kita berbicara, orang yang kita ajak bicara dapat mengetahui seberapa serius atau santai kita dari nada suara kita. Sebaliknya, teks tidak memiliki nada. Semuanya datar dalam tulisan, sehingga komentar sarkastik atau lelucon dapat disalahartikan sebagai penghinaan.

Salah satu cara untuk menghindari kesan menghina adalah dengan menggunakan emoji atau GIF. Ini pun dapat menciptakan suasana yang lebih ringan. Namun, kata-katamu tetap bisa disalahpahami.

  • Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman

Berkomunikasi lewat pesan singkat umumnya merupakan pertukaran cepat dan saat berdebat, bisa menjadi lebih cepat lagi. Mungkin kamu menunda untuk tidak membaca seluruh balasan seseorang sebelum membalas lagi dan semakin kesal kamu, semakin sulit untuk mengekspresikan diri dengan jelas atau memahami pasangan yang kamu ajak berdebat.

Hal ini dapat dengan cepat berkembang menjadi situasi yang lebih besar dan lebih buruk. Semakin kesal dirimu, semakin tidak rasional kamu nantinya.

  • Tidak ada isyarat bahasa tubuh

Selain isyarat vokal, kita berkomunikasi secara langsung melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Cara kita bertindak secara fisik memberi tahu orang lain bagaimana perasaan kita dan tanpa itu dalam bentuk teks, sebuah argumen dapat meningkat ke titik yang mengerikan tanpa salah satu pihak menyadari betapa kesalnya pihak lain.

Biasanya, jika melihat seseorang kesal atau bahkan mulai menangis, kamu akan berhenti sejenak untuk memastikan mereka baik-baik saja. Melalui pesan teks, kita mungkin tidak tahu apakah mereka menangis atau tidak. Maka, kita mungkin tidak berhenti melontarkan kata-kata menyakitkan bagi pasangan yang menerima pesan.

3. Cara komunikasi yang lebih baik melalui pesan teks

Ilustrasi fexting (pexels.com/Mikhail Nilov)

Untuk menyelesaikan masalah melalui pesan teks, Kate Murphy, seorang psikoterapis di Georgia, membagikan beberapa kiat cepat dan praktis tentang cara berargumentasi dengan sopan.

  • Perhatikan waktu pengiriman pesan teks

Sebagai contoh, mengirimkan pesan teks provokatif kepada pasangan saat mereka sedang mengemudi menuju tempat kerja sebelum hari yang berat atau tepat sebelum mereka tidur bukanlah hal yang bermanfaat atau bijaksana.

  • Jika kamu merasa marah atau terprovokasi secara emosional oleh pesan teks dari pasangan, tunggu dulu sebelum membalas.

    “Ini akan memberi waktu untuk mengendalikan amarah dan memahami dengan jelas apa yang dikatakan. Merespons dengan amarah hanya akan memperburuk perdebatan," ujar Murphy, dikutip dari laman HuffPost.

  • Lakukan tindak lanjut secara langsung

Untuk hal-hal yang sedikit lebih serius, penting untuk bertemu langsung untuk mencapai kesepakatan atau kompromi. Murphy menambahkan, ungkapan kasih sayang secara langsung benar-benar membantu memperbaiki hubungan.

Itulah mengapa fexting dapat memperburuk pertengkaran dalam relationship. Berkirim pesan teks tidak dapat sepenuhnya menggantikan diskusi lisan. Jadi, usahakanlah bertatap muka saat berargumen agar suatu masalah dapat terselesaikan dengan adil bagi kedua pasangan. Semoga bermanfaat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article