Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ketika Mantan Pasangan Narsis dan Pendendam Picu Pertengkaran, Bagaimana?

Ketika Mantan Pasangan Narsis dan Pendendam Picu Pertengkaran, Bagaimana?
ilustrasi perceraian (pexels.com/RDNE Stock Project)

Perceraian memang bukan akhir hubungan yang diinginkan oleh banyak orang. Terlebih jika perpisahan tersebut justru menjadi arena pertengakran dengan mantan pasangan. Saling menghina di ruang publik, melemparkan ujaran kebencian, hingga menuduh mantan suami atau istri melakukan tindakan melanggar hukum

Kondisi seperti ini tentu menguras energi, apalagi jika mantan pasangan punya sifat narsis yang ingin menjadi pusat perhatian. Sikapnya yang superior akan membuat salah satu pihak merasa cemas dan terusik. Lalu, bagaimana sebaiknya bersikap jika mantan pasangan narsis dengan sifat pendendam masih mengusik kehidupan pribadi?

1. Jangan ciptakan drama yang merusak hubungan

ilustrasi perceraian (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi perceraian (pexels.com/cottonbro studio)

Terapis pernikahan dan Keluarga, Stephen J. Betchen melansir Psychology Today, menyampaikan untuk mantan suami-istri sebaiknya tidak membentuk koalisi pasca perceraian. Menjelek-jelekan mantan kepada keluarga atau teman hanya akan menyebabkan salah satu pihak menderita banyak kerugian. Perspektif yang disajikan secara tidak seimbang oleh mantan suami/istri hanya akan memperpanjang pertempuran pasca nikah.

'Perang' yang diciptakan antara kedua kubu hanya akan menciptakan kesan tidak harmonis dan mengganggu kesehatan mental anak-anak. Kebencian yang disebarkan memicu drama keluarga yang sulit untuk dilupakan, terlebih jika telah diketahui publik. Akibatnya anak-anak juga kesulitan untuk melanjutkan hidup memahami makna kesetiaan, bisa juga terjadi kebencian terhadap orangtua mereka.

2. Mantan pasangan suka ikut campur, tak paham boundaries?

ilustrasi perceraian (pexels.com/alexgreen
ilustrasi perceraian (pexels.com/alexgreen

Setelah berpisah dan memilih menjalani kehidupan baru, tidak menutup kemungkinan mantan pasangan akan mulai membuka hati untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Dalam situasi seperti ini, Terapis sekaligus Profesor Klinis lulusan University of Pennsylvania, Stephen J. Betchen, menyarankan pentingnya mempertahankan batasan atau boundaries yang tegas dengan mantan pasangan, terlebih jika hubungan setelah perceraian masih dipenuhi drama dan konflik emosional.

Stephen mencontohkan pentingnya mengurangi keterlibatan yang tidak perlu dengan mantan pasangan. Menurutnya, tidak ada yang lebih memperpanjang “api” perceraian selain terus membuka ruang untuk pertengkaran, sindiran, atau drama baru.

Terlalu sering terhubung dengan mantan, baik melalui keluarga, teman, maupun lingkaran sosialnya, dapat membuat luka lama sulit pulih dan emosi negatif terus terpelihara. Karena itu, menjaga jarak secara sehat sambil tetap menghormati mantan pasangan dinilai menjadi langkah yang lebih bijaksana untuk membantu proses penyembuhan diri.

3. Berhadapan dengan mantan yang narsis sungguh melelahkan

Ilustrasi perceraian (pexels.com/RDNE Stock project)
Ilustrasi perceraian (pexels.com/RDNE Stock project)

Perilaku mantan pasangan yang kerap memicu pertengkaran dan menunjukkan sikap narsis tentu dapat menguras emosi. Melansir PsychCentral, mantan pasangan dengan kecenderungan narsistik sering menciptakan kebingungan emosional dengan menunjukkan kemarahan berlebihan ketika mantannya mulai menjalin hubungan baru. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan berusaha mengganggu atau merusak hubungan romantis tersebut demi mempertahankan kontrol dan perhatian.

Individu dengan kepribadian narsistik umumnya merasa masih memiliki keterikatan kuat dengan mantan pasangan sehingga tetap ingin menjadi pusat perhatian. Karena itu, perpisahan tidak selalu berarti konflik benar-benar berakhir. Sikap manipulatif, drama emosional, hingga perilaku yang menyulitkan kerap muncul, mirip seperti ketika hubungan pernikahan masih berlangsung.

Menghadapi mantan pasangan yang masih suka ikut campur dalam kehidupan pribadi memang melelahkan. Membatasi interaksi seperlunya, menjaga jarak emosional, hingga mengabaikan provokasi yang tidak penting dapat menjadi langkah untuk menjaga kesehatan mental. Di sisi lain, penting juga untuk tetap bersikap tenang dan tidak terpancing melakukan tindakan yang justru memperkeruh situasi, terutama di ruang publik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 Tanpa Ribet!

08 Mei 2026, 20:03 WIBLife