Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Pelaku Perselingkuhan Tidak Merasa Bersalah?

Ilustrasi hubungan
Ilustrasi hubungan (freepik.com/tirachardz)
Intinya sih...
  • Moral disengagement: melepas kompas moral meski tahu salahDalam psikologi, terdapat konsep moral disengagement, yaitu kondisi ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar melepaskan standar moral pribadinya agar dapat melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang diyakini.
  • Rasionalisasi dan justifikasi pribadi
    Alasan lain yang kerap muncul adalah rasionalisasi. Pelaku perselingkuhan sering membangun narasi pembenaran untuk menenangkan hati nurani, seperti menyalahkan pasangan yang dianggap kurang perhatian, hubungan yang terasa hambar, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Isu perselingkuhan kembali menjadi sorotan sepanjang 2025, terutama karena maraknya kasus yang melibatkan figur publik dan selebriti. Hubungan terlarang yang terbongkar ke publik tak lagi hanya memicu kehebohan sesaat, tetapi memancing diskusi panjang soal moral, komitmen, dan tanggung jawab dalam hubungan. Bahkan hingga awal tahun, topik ini masih hangat dan ramai diperbincangkan di media sosial maupun pemberitaan.

Yang mengejutkan, banyak pelaku perselingkuhan justru tampil percaya diri di hadapan publik. Alih-alih menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan, sebagian dari mereka terlihat santai, defensif, bahkan seolah tidak merasa melakukan kesalahan besar. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa pelaku perselingkuhan bisa tampak tidak merasa bersalah sama sekali? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak penjelasannya berikut ini!

1. Moral disengagement: melepas kompas moral meski tahu salah

Ilustrasi hubungan
Ilustrasi hubungan (freepik.com/Drazen Zigic)

Dalam psikologi, terdapat konsep moral disengagement, yaitu kondisi ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar melepaskan standar moral pribadinya agar dapat melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang diyakini. Pada titik ini, pelaku tetap mengetahui bahwa perselingkuhan itu salah, tetapi memilih “mematikan” rasa bersalah demi mempertahankan kenyamanan emosional yang didapat.

Ketika kenikmatan emosional atau kepuasan pribadi lebih dominan, konflik batin pun menjadi tumpul. Rasa bersalah yang seharusnya muncul justru ditekan oleh perasaan senang, dihargai, atau diinginkan oleh orang lain di luar hubungan utama.

"Penelitian kami menemukan bahwa orang-orang yang berselingkuh sering kali melaporkan tingkat kepuasan yang relatif tinggi dari hubungan perselingkuhan tersebut, serta tingkat penyesalan yang mengejutkan rendah," tutur Dylan Selterman, Associate Teaching Professor, Department of Psychological & Brain Sciences, Johns Hopkins University.

2. Rasionalisasi dan justifikasi pribadi

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Meruyert Gonullu)

Alasan lain yang kerap muncul adalah rasionalisasi. Pelaku perselingkuhan sering membangun narasi pembenaran untuk menenangkan hati nurani, seperti menyalahkan pasangan yang dianggap kurang perhatian, hubungan yang terasa hambar, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Dengan cara ini, perselingkuhan tidak lagi dipandang sebagai pengkhianatan, melainkan sebagai “reaksi yang wajar”.

Proses justifikasi ini berfungsi melindungi citra diri. Selama pelaku merasa memiliki alasan yang “masuk akal”, rasa bersalah menjadi lebih mudah ditekan. Mereka tidak melihat diri sebagai pihak yang sepenuhnya salah, melainkan sebagai korban keadaan atau hubungan yang gagal.

3. Perspektif hubungan dan kepuasan psikologis

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Yan Krukau)
Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Yan Krukau)

Dalam beberapa kasus, perselingkuhan justru dipersepsikan sebagai sumber kebahagiaan baru. Ketika hubungan utama tidak lagi memberikan kepuasan emosional, kehadiran orang ketiga dapat memicu perasaan hidup kembali, dihargai, dan diinginkan. Fokus pada kepuasan ini membuat aspek etis hubungan menjadi kabur.

Akibatnya, pelaku lebih menilai perselingkuhan dari sudut pandang kepuasan psikologis ketimbang dampak emosional yang ditimbulkan pada pasangan. Selama mereka merasa “lebih bahagia”, rasa bersalah cenderung dianggap tidak relevan atau ditekan jauh ke belakang.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan di Archives of Sexual Behavior, banyak individu yang berselingkuh melaporkan kepuasan emosional dan seksual yang tinggi dari hubungan gelapnya, sekaligus perasaan penyesalan yang rendah meskipun tahu perilaku itu salah secara moral. Pada akhirnya, perselingkuhan bukan hanya soal benar dan salah, tapi juga tentang cara seseorang memaknai tindakannya sendiri.

Saat kepuasan pribadi mengalahkan empati, rasa bersalah pun bisa menghilang. Memahami hal ini membantu kita melihat isu perselingkuhan dengan sudut pandang yang lebih jujur dan realistis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Alasan Psikologi Kamu Suka Mengulang Skenario Percakapan Masa Lalu

08 Jan 2026, 23:19 WIBLife