Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Setelah Putus Jadi Lebih Sering Overthinking dan Insecure?
ilustrasi putus cinta (pexels.com/RDNE Stock Project)

Putus cinta memang bisa membuat perasaan campur aduk. Ada bagian dari diri yang perlu beradaptasi karena sebelumnya terbiasa menghabiskan waktu bersama seseorang yang disayang, lalu tiba-tiba harus menjalani hari tanpa kehadirannya.

Dalam masa transisi tersebut, pikiran bisa menjadi lebih bising, mulai dari mempertanyakan alasan hubungan berakhir hingga meragukan self-esteem atau harga diri. Tidak jarang, rasa kehilangan kemudian memunculkan perasaan insecure dan overthinking yang semakin kuat.

Meski kondisi ini cukup wajar dialami oleh orang yang baru saja putus, sebagian orang mungkin masih membutuhkan waktu untuk memahami situasi tersebut. Kamu mungkin juga penasaran, mengapa setelah putus banyak orang justru lebih sering meragukan diri sendiri dan memikirkan berbagai hal secara berlebihan?

1. Alasan ilmiah mengapa setelah putus jadi lebih mudah insecure dan overthinking

Ilustrasi Putus Cinta (freepik.com/freepik)

Deborah L. Davis Ph.D., seorang psikolog dan penulis buku dalam Psychology Today menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa begitu cemas setelah hubungan berakhir. Menurut Deborah, ketika seseorang putus dari sebuah hubungan, ia akan mengalami gejolak kimia otak akibat penolakan dan kehilangan. Kemungkinan, dampak yang akan dialami adalah penurunan kadar dopamin dan serotonin secara signifikan.

Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Selain itu, muncul juga dorongan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari dirinya sebagai upaya untuk mengobati rasa sakit emosional akibat penolakan.

Singkatnya, perasaan cemas, kesal dan insecure yang mendorong overthinking sering kali menunjukkan penurunan kadar dopamin dan serotonin di otak. Penurunan ini merusak perasaan optimis dan percaya diri. Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali serotonin dan dopamin alami adalah dengan melakukan aktivitas fisik, tersenyum serta mengonsumsi nutrisi yang baik.

2. Solusi untuk meningkatkan rasa percaya diri adalah dengan afirmasi diri

ilustrasi putus cinta (pexels.com/gustavofring)

Ketika mengalami perasaan cemas dan kesal, sikap optimis dalam diri juga ikut menurun. Kondisi ini kemudian bisa mendorong seseorang mencari 'hadiah palsu; dengan kembali berhubungan dengan mantan pacar. Saat rasa percaya diri menurun, muncul celah yang membuat seseorang terdorong untuk kembali menghubungi mantan dan menjalin kedekatan dengannya.

Deborah menyarankan untuk melakukan afirmasi pada diri untuk meningkatkan rasa percaya diri dan memulihkan ketenangan. Tanamkan beberapa hal ini dalam diri jika sedang merasa insecure:

  1. Penderitaan yang dirasakan hanya terjadi sementara

  2. Kecemasan dan rasa insecure belum tentu mencerminakn apa yang sebenarnya terjadi dan dipikirkan

  3. Hanya karena putus denganku, bukan berarti apa yang aku miliki itu tidak nyata

  4. Stalking mantan tidak membawa kelegaan

  5. Daripada mencari penjelasan, lebih baik menanamkan dalam diri bahwa kamu akan berhenti peduli tentang apa yang dilakukannya

  6. Suara di dalam kepala tidak perlu dihiraukan

  7. Ketika ingin kembali, pikirkan lagi diri sendiri

  8. Tidak akan mengukur nilai diri dengan sikapnya terhadapmu

  9. Mulai menghargai diri sendiri dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dapat menghargai hidupmu

  10. Tidak apa jika merasa sedih, karena hubungannya berakhir. Jika berduka, artinya kamu tengah berjalan menuju kesembuhan.

3. Sembuh dari patah hati adalah perjalanan personal

Ilustrasi putus cinta. (Pexels/RDNE Stock project)

Sabrina Romanoff seorang psikolog klinis dalam Very Well Mind menerangkan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh seseorang yang baru saja putus. Sensasi fisik biasanya dirasakan setelah putus adalah serangan kecemasan, perubahan kebiasaan makan dan tidur, masalah perut, serta kelelahan. Oleh karenanya, perpisahan menguras tenaga secara fisik dan emosional.

“Ketika hubungan yang begitu kuat berakhir, sistem saraf kita menjadi tidak teratur. Kita kemudian mengalami dampak dari kesendirian, ditinggalkan, dan penolakan, yang pada masa awal terasa seperti persoalan hidup atau mati,” jelas Dr. Romanoff.

Ketika mengalami kegagalan hubungan, seseorang akan merasakan kesedihan yang mendalam karena penolakan, kemarahan, dan depresi. Proses ini akan berlangsung secara berulang yang pada akhirnya mendorong orang yang baru putus merasa stuck.

Romanoff menilai, kesulitan yang kerap dihadapi untuk pulih dari patah hati adalah timeline yang dipaksakan. Seolah sembuh dari patah hati memiliki tenggat waktu, membuat seseorang yang tengah melalui masa tersebut justru merasa semakin cemas jika timeline-nya berbeda.

"Ini karena internalisasi dan perasaan seolah-olah ada sesuatu yang salah dengan kita ketika tenggat waktu yang kita pikirkan tidak sesuai. Padahal, tidak ada "waktu yang tepat" untuk melupakan mantan pasanga," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article