5 Konsekuensi Punya Pasangan Matre, Lanjut atau Nyerah Aja?

- Hubungan dengan pasangan matre cenderung tidak stabil karena kasih sayang dan perlakuan sering bergantung pada kondisi finansial, bukan pada karakter atau perasaan tulus.
- Sifat matre membuat pasangan sulit membangun kekayaan jangka panjang karena uang lebih banyak dihabiskan untuk gaya hidup mewah daripada ditabung atau diinvestasikan.
- Dampak negatif juga meluas ke lingkungan sosial dan keluarga, di mana sikap materialistis bisa memicu ketegangan dengan teman maupun keluarga yang dianggap kurang mampu.
Cinta memang buta. Ini yang membuat seseorang bisa terlihat begitu sempurna di matamu ketika kamu tergila-gila padanya. Padahal, tentu saja setiap orang punya sifat plus dan minus. Salah satunya, watak pasanganmu yang matre.
Jangankan setelah kalian menjadi sepasang kekasih atau nantinya menikah. Sifat matre sangat mudah terlihat sejak kalian baru berteman. Namun, cinta gak pandang bulu. Tak jarang cinta bertentangan dengan logika. Bukan kamu menjauhi, justru mendekatinya.
Apakah orang yang matre sama sekali tidak layak untuk dicintai, apalagi dinikahi? Tentu tak demikian. Hanya saja, dirimu kudu benar-benar siap dengan konsekuensi punya pasangan matre. Bila kamu mau hubungan kalian terus berlanjut sampai serius, siapkan dirimu menghadapi lima hal di bawah ini.
1. Ada uang disayang, gak ada uang ditendang

Bukan lantas kamu pasti bakal langsung diputusin saat bokek atau diusir dari rumah setelah kalian menikah. Mungkin memang gak seekstrem itu. Namun, yang pasti terdapat perbedaan perlakuan antara saat dirimu punya banyak uang dan mulai tongpes alias kantongmu kempes atau kempis.
Begini saja sudah sangat mengurangi kebahagiaanmu. Setiap hari kamu menghadapi wajahnya yang masam. Ucapannya juga tak mengenakkan hati. Akan tetapi, seandainya sedetik kemudian dirimu bisa kasih uang banyak, langsung sikapnya berubah.
Ini hubungan yang tidak stabil. Intimitas di antara kalian ditentukan oleh lembaran-lembaran uang. Dengan kata lain, tampaknya kasih sayangnya dapat dengan mudah dibeli dengan duit. Bukan dengan karakter-karakter positifmu di luar sifat royal.
2. Kamu kesulitan membangun kekayaan meski terlihat kaya

Terlihat kaya dari luar tidak sama dengan membangun kekayaan. Kalau pasanganmu matre, sudah tentu kalian bakal tampak kaya. Uang darimu gak akan hanya diterima untuk disimpan di tabungan. Pasti uangnya dipakai untuk belanja.
Watak orang yang matre memang begini. Kekayaan tidak hanya harus diperoleh, tapi sebisa mungkin juga mesti dipertontonkan. Sebab ada rasa puas dan bangga ketika ia melakukannya.
Namun, makin banyak uangmu yang dibelanjakan oleh pasangan agar terlihat kaya, makin tidak tersisa untuk menumbuhkan aset demi masa depan. Kalian barangkali punya mobil lebih dari satu, makan di tempat-tempat fancy, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak memiliki tabungan dan investasi. Atau, jumlahnya sangat minim dibandingkan uang yang dibelanjakan.
3. Teman-temanmu yang gak tajir juga kena getahnya

Orang yang matre gak pilih-pilih dalam bersikap ke orang lain. Memang mereka bakal lebih selektif soal kekayaan ketika mencari pasangan. Pokoknya, pasangannya kudu bisa menjadi provider penuh dalam hidupnya.
Seperti tokoh sakti dalam dongeng yang dapat mengabulkan seluruh permintaannya. Akan tetapi, dalam pasanganmu berteman juga tidak bisa sama siapa saja. Bukan cuma kawan-kawannya yang disaring berdasarkan ketebalan dompet serta status.
Teman-temanmu pun tak lepas dari penyaringannya. Sikapnya bisa manis sekali pada kawanmu yang kaya. Namun, kurang sopan terhadap temanmu yang secara finansial dan pekerjaan gak sebaik kamu. Apakah dirimu siap memperkenalkan pasangan dengan sikap begini ke teman-temanmu? Bahkan saudaramu saja disikapi secara berbeda.
4. Sekeluarga matre semua, penderitaanmu gak ada akhirnya

Sifat matre sering kali tidak terbentuk begitu saja. Faktor keluarga dan cara mereka dibesarkan bisa amat berpengaruh. Anak yang sejak kecil terus dididik untuk tergila-gila pada uang dapat tumbuh besar dengan sifat materialis yang kuat.
Walau ada pula anak yang ketika dewasa malah menganggapnya bukan hal penting saking muaknya. Namun, sebagai kemungkinan terburuk yang kudu diantisipasi, bagaimana bila semua keluarga pasanganmu juga mata duitan? Kamu seperti terpojok oleh mereka.
Dirimu barangkali masih mampu secara finansial untuk memenuhi setiap keinginan pasangan. Apalagi kamu mencintainya. Dia pun bisa memperlakukanmu dengan cukup baik selama uang gak seret.
Namun, apakah kamu mampu membanjiri semua keluarganya dengan materi? Sekadar sesekali dirimu mengajak mereka semua liburan bareng pun sudah berat ongkosnya. Apalagi bila masih ada permintaan macam-macam. Seperti adiknya minta dibelikan motor, orangtuanya mendesak agar perjalanan ibadahnya dibiayai, dan sebagainya.
5. Muak dengan kedangkalannya yang mengukur semua hal dengan materi

Matre dengan materialis memang tidak sama. Akan tetapi, keduanya kerap sepaket ada dalam diri seseorang. Pasanganmu mata duitan ke kamu. Namun, ia juga bakal mengukur siapa pun atau apa pun melalui benda-benda.
Misal, kamu sedang menceritakan temanmu yang habis resign malah sukses dengan usahanya sendiri. Dirimu menyebutnya keren sekali. Kamu tahu perjuangan merintis usaha tidak mudah.
Kamu juga mengenang etos kerjanya saat kalian masih sekantor. Akan tetapi, respons pasangan di luar dugaan. Menurutnya, temanmu dan usahanya masih biasa saja. Belum sukses. Ke mana-mana ia cuma naik motor. Saat dia datang ke rumah kalian pun gak bawa oleh-oleh yang mahal. Lama-lama kamu bisa muak mendengarnya.
Orang yang matre bukannya gak punya sisi menarik untuk dicintai. Mungkin pasanganmu jago berkomunikasi sehingga dirimu gampang nyaman dengannya. Atau, latar belakang pendidikan dan kariernya bagus. Namun, untuk berumah tangga, ada konsekuensi punya pasangan matre yang membuatmu harus kuat secara mental serta finansial. Bakal susah untuknya diharapkan berubah.