Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Puisi Sapardi Djoko Damono buat Kamu yang Patah Hati, Bikin Terenyuh

5 Puisi Sapardi Djoko Damono buat Kamu yang Patah Hati, Bikin Terenyuh
Instagram/damonosapardi
Share Article

Dunia Sastra Indonesia tengah berduka. Pasalnya, penyair legendaris Sapardi Djoko Damono tutup usia pada Minggu (19/7/2020). Meski jasadnya telah tiada, namun karya-karyanya tetap abadi di dunia ini.

Memang, semasa hidupnya, almarhum terus menghasilkan puisi penuh makna. Beberapa di antaranya pun menggambarkan rasa patah hati dalam metafora yang indah. Berikut di antaranya!

  1. 1. Aku Tengah Menantimu

    Unsplash/Eric Ward
    Unsplash/Eric Ward

    Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
    di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
    berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
    yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

    awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
    musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
    kudengar berulang suara gelombang udara memecah
    nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

    telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi
    di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
    barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
    dan tak ada yang merasa ditunggu begitu lama, kau pun tiada

     
    Puisi "Aku Tengah Menantimu" merupakan salah satu puisi dari buku "Sihir Hujan" tahun 1984. Puisi 3 bait ini mengisyaratkan seseorang yang terus menanti dengan setia, meski ternyata yang ditunggunya tak kunjung datang. Apakah ini yang sedang kamu rasakan?

  2. 2. Kenangan

    unsplash.com/Elijah O'Donnell
    unsplash.com/Elijah O'Donnell

    Ia meletakkan kenangannya
    dengan sangat hati-hati
    di laci meja dan menguncinya
    memasukkan anak kunci ke saku celana
    sebelum berangkat ke sebuah kota
    yang sudah sangat lama hapus
    dari peta yang pernah digambarnya
    pada suatu musim layang-layang

    Tak didengarnya lagi
    suara air mulai mendidih
    di laci yang rapat terkunci.

    Ia telah meletakkan hidupnya
    di antara tanda petik

    Ibarat mengubur luka lama yang tak ingin di kuak kembali, Sapardi Djoko Darmono menulis "Kenangan" sebagai salah satu puisi dari buku "Kolam" (2009). Puisi menyentuh ini, cocok untukmu yang memiliki luka dan berusaha untuk menyembunyikannya.

  3. 3. Hari pun Tiba

    Pixabay.com/Victoria_Borodinova
    Pixabay.com/Victoria_Borodinova

    Hari pun tiba. Kita berkemas senantiasa
    kita berkemas sementara jarum melewati angka-angka
    kau pun menyapa: ke mana kita
    tiba-tiba terasa musim mulai menanggalkan daun-daunnya

    Tiba-tiba terasa kita tak sanggup menyelesaikan kata
    tiba-tiba terasa bahwa hanya tersisa gema
    sewaktu hari pun merapat
    jarum jam sibuk membilang saat-saat terlambat.

    Ketika mencintai seseorang, akan tiba harinya di mana kita akan berpisah. Salah satu puisi dari buku "Duka-Mu Abadi" (1967) karya Sapardi ini, menggambarkan perasaan menyesal yang kerap membekas saat hari berpisah akhirnya tiba. 

  4. 4. Hujan Bulan Juni

    pexels.com/Burak Kucukparmaksiz
    pexels.com/Burak Kucukparmaksiz

    Tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    Tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    Tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    "Hujan Bulan Juni" (1994) merupakan puisi yang dikenal masyarakat secara luas. Bila ditafsirkan, puisi ini menggambarkan ketabahan dan perjuangan seseorang yang mau selalu berjuang dalam penderitaan. Tentu cocok sekali menggambarkan perasaan patah hati yang terbenam sejak lama.

  5. 5. Pada Suatu Hari Nanti

    unsplash.com/_mxsh_
    unsplash.com/_mxsh_

    Pada suatu hari nanti,
    jasadku tak akan ada lagi,
    tapi dalam bait-bait sajak ini,
    kau tak akan kurelakan sendiri.

    Pada suatu hari nanti,
    suaraku tak terdengar lagi,
    tapi di antara larik-larik sajak ini.

    Kau akan tetap kusiasati,
    pada suatu hari nanti,
    impianku pun tak dikenal lagi,
    namun di sela-sela huruf sajak ini,
    kau tak akan letih-letihnya kucari.

    Puisi "Pada Suatu Hari Nanti" merupakan puisi dari buku berjudul sama yang terbit di tahun 2013. Puisi ini menggambarkan seseorang yang terpaksa pergi. Namun, ia meninggalkan sesuatu untuk menemani orang yang ditinggalkan.

    Puisi ini pas menggambarkan kita yang kehilangan sosok sastrawan kebanggaan Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Meskipun begitu, semua karyanya tetap dikenang dan abadi di dunia ini.

    Itu tadi 5 puisi yang bisa menemani patah hatimu. Jangan terlalu lama bersedih, kamu juga harus melangkah maju!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More