Tak Ada yang Menikah untuk Gagal, lalu Kenapa Bertahan Itu Sulit?

Ekspektasi dan perubahan diri sering tidak diimbangi komunikasi dalam pernikahan.
Cinta saja tidak cukup tanpa kesepakatan dan kemampuan mengelola masalah.
Konflik besar biasanya berasal dari hal kecil yang terus menumpuk.
Tidak ada orang yang berdiri di depan penghulu membayangkan pernikahan mereka akan berantakan. Semua orang menikah dengan harapan, rencana, dan keyakinan bahwa mereka sudah memilih orang yang tepat. Kenyataannya, bertahan dalam pernikahan ternyata jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan saat hari pertama. Berikut beberapa hal yang jarang dibicarakan, tapi justru paling sering jadi alasan kenapa bertahan itu tidak semudah kedengarannya.
1. Ekspektasi tentang pernikahan terbentuk jauh sebelum menikah

Jauh sebelum menikah, orang sudah punya gambaran tentang seperti apa rumah tangga yang baik. Gambaran itu datang dari keluarga, tontonan, lingkungan, dan standar yang diserap bertahun-tahun tanpa disadari. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan gambaran itu, yang muncul bukan hanya kekecewaan biasa, melainkan perasaan bahwa ada yang salah dengan pernikahan.
Padahal, ekspektasi yang tidak pernah diucapkan merupakan salah satu sumber konflik paling umum dalam rumah tangga. Dua orang bisa tinggal serumah bertahun-tahun, tapi masing-masing diam-diam menunggu pasangan memenuhi standar yang tidak pernah dikomunikasikan. Lama-lama, yang terasa bukan lagi cinta yang pudar, melainkan kelelahan dari harapan yang terus-menerus tidak terpenuhi.
2. Orang bisa berubah dan pernikahan tidak selalu siap mengikuti perubahannya

Orang yang kamu nikahi pada usia 25, misalnya, bukan orang yang sama pada usia 35. Value berubah, prioritas bergeser, cara pandang tentang hidup pun ikut berkembang. Ini bukan tanda bahwa pilihan awal kamu salah, tapi memang begitu cara manusia bekerja. Masalahnya, banyak pasangan yang tidak pernah menyepakati ulang apa yang mereka inginkan dari pernikahan seiring waktu berjalan.
Pernikahan yang bertahan bukan yang bebas dari perubahan, tapi yang pasangannya mau terus saling mengenal ulang. Ketika salah satu tumbuh ke arah yang berbeda dan pasangan tidak mau atau tidak sempat mengikuti, jarak itu melebar perlahan tanpa terasa. Pada titik tertentu, dua orang bisa merasa seperti tinggal bersama orang asing yang sangat familiar.
3. Cinta saja tidak pernah cukup untuk menyelesaikan masalah sehari-hari

Banyak orang masuk ke pernikahan dengan modal cinta yang besar, tapi tidak pernah membicarakan hal-hal konkret. Siapa yang pegang keuangan, bagaimana kalau salah satu ingin pindah kota, apa yang terjadi kalau orangtua sakit dan butuh dirawat. Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar tidak romantis, tapi justru di sanalah pernikahan paling sering retak.
Cinta membuat orang mau bersama. Namun, kesepakatan, komunikasi, dan kemampuan mengelola perbedaan yang membuat mereka bisa tetap bersama saat keadaan tidak mudah. Pasangan yang hanya mengandalkan perasaan tanpa pernah membangun sistem dalam rumah tangganya akan sangat mudah goyah saat masalah pertama datang. Lantas, masalah selalu datang.
4. Lingkungan sekitar punya pengaruh besar terhadap keputusan bertahan atau pergi

Keputusan untuk bertahan dalam pernikahan tidak pernah dibuat dalam ruang hampa. Ada keluarga yang punya pendapat, ada teman yang memberikan sudut pandang, ada norma sosial yang secara tidak langsung ikut menekan. Dalam banyak keluarga, bertahan dianggap sebagai bentuk kesabaran dan kesetiaan, sementara pergi dianggap sebagai kegagalan pribadi.
Tekanan ini membuat banyak orang bertahan bukan karena pernikahan masih sehat, tapi karena takut dihakimi. Mereka memilih diam dan menahan daripada mencari jalan keluar yang mungkin lebih baik untuk semua pihak. Lalu, yang menyedihkan, sering kali orang-orang terdekat yang paling keras berpendapat justru tidak tahu sama sekali apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga itu.
5. Masalah pernikahan datang bukan dari masalah besar, melainkan dari hal kecil yang menumpuk

Jarang sekali pernikahan hancur karena satu kejadian besar. Lebih sering, yang terjadi merupakan akumulasi dari hal-hal kecil yang tidak pernah diselesaikan. Ada 1 percakapan yang dihindari, 1 kebutuhan yang diabaikan, 1 momen yang seharusnya jadi kesempatan untuk terhubung, tapi semuanya malah dilewatkan begitu saja.
Tumpukan itu tidak terlihat sampai tiba-tiba terasa sangat berat. Banyak pasangan yang baru sadar ada jarak besar di antara mereka setelah bertahun-tahun merasa baik-baik saja. Pada saat itu, yang perlu diselesaikan bukan satu masalah, melainkan ratusan residu dari percakapan yang tidak pernah terjadi. Itu jauh lebih melelahkan dari sekadar bertengkar satu kali, lalu berbaikan.
Tidak ada yang menikah dengan niat untuk berpisah. Namun, bertahan pun tidak otomatis berarti baik-baik saja karena ada bertahan yang sehat dan ada yang hanya diam dalam jarak. Pertanyaan yang lebih jujur mungkin bukan, "Kenapa sulit bertahan," tapi, "Bertahan seperti apa yang sebetulnya kamu inginkan?"